Produksi Energi Timur Tengah Sulit Pulih, IEA Pertimbangkan Stok Darurat
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengungkapkan pihaknya berhasil mencegat dua drone yang berupaya menyerang kilang minyak Ras Tanura pada Senin (2/3/2026).(Saudi Gazette)
20:12
17 April 2026

Produksi Energi Timur Tengah Sulit Pulih, IEA Pertimbangkan Stok Darurat

- Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan produksi energi Timur Tengah membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk kembali pulih.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan pada Jumat (17/4/2026), pemulihan akan bervariasi di berbagai negara, sambil mengisyaratkan bahwa pelepasan stok darurat masih dipertimbangkan.

“Di Irak, misalnya, akan memakan waktu jauh lebih lama daripada di Arab Saudi. Namun, kami memperkirakan bahwa secara keseluruhan akan membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mencapai kembali tingkat sebelum perang,” kata Birol dikutip dari CNN, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Mencerna Strategi Blokade AS: Tangki Minyak Iran Meluap, Sumur Ditutup, Pendapatan Amblas


Dia juga mengingatkan bahwa investor jangan meremehkan apa yang akan terjadi jika Selat Hormuz terus ditutup.

“Kesenjangan ini sekarang mulai terlihat. Jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, kita harus bersiap menghadapi harga energi yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Tidak ada pengiriman baru minyak, gas, atau bahan bakar olahan yang mencapai pasar Asia, dan kesenjangan pasokan mulai muncul seiring berlanjutnya gangguan tersebut.

Menurutnya, produksi akan meningkat secara signifikan setelah Selat Hormuz dibuka kembali, tetapi untuk mencapai kapasitas penuh masih membutuhkan waktu.

Baca juga: Uni Eropa Susun Strategi Hadapi Krisis Energi akibat Perang Iran

IEA siap melepaskan stok cadangan

Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026.AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026.

Pada Maret 2026, IEA melepaskan 400 juta barel dari cadangan darurat, yang menjadi penarikan terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.

Dilansir Anadolu, Jumat (17/4/2026), Birol menambahkan bahwa IEA siap bertindak lagi untuk melepas stok darurat jika diperlukan.

Meski rilis data lebih lanjut belum diperlukan, dia mengimbau kondisi ini tetap perlu dipertimbangkan secara aktif karena lembaga tersebut memantau pasar dengan cermat.

Selain itu, pelepasan cadangan hanya dapat meringankan hambatan jangka pendek, langkah terpenting untuk menstabilkan pasokan energi adalah dengan membuka kembali Selat Hormuz.

Baca juga: Taktik Kapal Iran Kelabui Blokade AS di Selat Hormuz, Tipu Data Navigasi

"Langkah apa pun yang membantu membuka kembali jalur air itu akan menjadi hal yang positif," jelas Birol.

Dia memperingatkan, kekurangan produk olahan seperti minyak tanah dan solar dapat muncul jika pengiriman minyak mentah gagal mencapai kilang.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan penerbangan, pembatalan, dan masalah pasokan industri di beberapa negara.

Seperti diketahui, sampai saat ini lalu lintas di Selat Hormuz masih ditutup dan dikendalikan oleh Iran. Ditambah blokade tambahan yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat.

Tag:  #produksi #energi #timur #tengah #sulit #pulih #pertimbangkan #stok #darurat

KOMENTAR