Trump Semakin Berubah-ubah soal Iran, Rusak Norma Waktu Presiden
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berpidato di Verst Logistics, Kota Hebron, Negara Bagian Kentucky, 11 Maret 2026.(AFP/JIM WATSON)
11:24
22 April 2026

Trump Semakin Berubah-ubah soal Iran, Rusak Norma Waktu Presiden

- Gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai sorotan tajam di tengah perang Iran yang masih berkecamuk.

Pasalnya, pesan-pesan yang disampaikannya terkait rencana kebijakan terhadap Iran dinilai semakin tidak menentu dan membingungkan.

Trump kerap memberikan pernyataan spontan melalui media sosial Truth Social maupun panggilan telepon pribadi dengan jurnalis, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Iran Tolak Gencatan Sepihak Trump, Sebut Tuntutan AS Melampaui Kerangka Kesepakatan

Bukannya memberi kepastian, pernyataannya justru saling bertolak belakang dan dianggap memperkeruh situasi.

Dalam beberapa hari terakhir contohnya, Gedung Putih bahkan harus bekerja ekstra untuk mengklarifikasi pernyataan Trump yang sering kali tidak akurat.

Pada Minggu (19/4/2026), Trump menyatakan kepada penyiar ABC bahwa Wakil Presiden AS JD Vance tidak akan memimpin delegasi AS dalam  pembicaraan putaran kedua dengan Iran di Pakistan. 

Namun, pernyataan tersebut segera diklarifikasi oleh Gedung Putih, istananya sendiri.

Baca juga: Wapres AS Batal ke Pakistan Usai Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran

Kekeliruan berlanjut pada Senin (20/4/2026), saat Trump memberi tahu New York Post bahwa para perunding sedang dalam perjalanan ke Islamabad. 

Faktanya, hingga Selasa (21/4/2026) siang, Vance masih berada di Washington untuk serangkaian pertemuan.

Rusak norma kepresidenan

Profesor studi komunikasi dari University of Kansas, Robert Rowland, menilai kebiasaan Trump berkomunikasi langsung dengan media telah merusak norma kepresidenan.

"Waktu seorang presiden sangat berharga dan dia harus selalu menggunakan komunikasi yang aman," ujar Rowland.

Rowland membandingkan situasi ini dengan Barack Obama pada 2009 yang harus berdebat dengan Secret Service alias Paspampres AS demi mempertahankan ponsel BlackBerry miliknya karena alasan risiko keamanan. 

Baca juga: Trump Perpanjang Gencatan Senjata tapi Tetap Blokade Pelabuhan Iran, Jadi Sia-sia?

Dia juga menyoroti bagaimana Trump cenderung memicu perpecahan di saat konflik, berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya yang mencoba membangun nada persatuan.

"Trump justru sebaliknya. Dia membuat segalanya menjadi sangat partisan," tambah Rowland.

Laporan dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa Trump sering mengunggah pesan di Truth Social tanpa berkonsultasi atau memberi tahu siapa pun terlebih dahulu. 

Unggahannya pun sering kali dipenuhi huruf kapital, tanda seru, hingga ancaman apokaliptik yang dicampur dengan bahasa kasar.

Bahkan, lingkaran dalam Trump dikabarkan sempat merahasiakan sebagian informasi terkait operasi penyelamatan seorang perwira Angkatan Udara AS di Iran. 

Hal ini dilakukan karena kekhawatiran bahwa sifat "tidak sabaran" Trump dapat mengganggu operasi yang berisiko tinggi tersebut.

Baca juga: Alasan Trump Perpanjang Gencatan Senjata Iran, Kenapa Berubah Pikiran Lagi?

Kontroversi 

Impulsivitas Trump juga merambah ke ranah protokol diplomatik dan upacara militer. 

Pada Maret, dia memicu kemarahan lintas partai karena mengenakan topi bertuliskan "USA" saat upacara repatriasi tentara yang tewas di Timur Tengah. 

Diketahui, topi serupa dijual di situs web The Trump Organization seharga 55 dollar AS atau sekitar Rp 940.000.

Selain itu, Trump sempat menghebohkan kalangan umat Kristiani di AS setelah membagikan gambar buatan AI yang menampilkan dirinya sebagai Yesus, didampingi seorang tentara dan jet tempur. Unggahan tersebut kemudian dihapus.

Baca juga: Trump Umumkan Perpanjang Gencatan Senjata, Apa yang Akan Terjadi Setelahnya?

Obsesi pribadi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menonton pertandingan UFC 327 di Kaseya Center pada 11 April 2026 di Miami, Florida.GETTY IMAGES/TASOS KATOPODIS via AFP Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menonton pertandingan UFC 327 di Kaseya Center pada 11 April 2026 di Miami, Florida.

Di tengah pembicaraan serius mengenai konflik Iran, Trump kerap mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak relevan. 

Dalam wawancara dengan CNBC, Selasa, dia mengklaim bahwa dirinya bisa memenangi Perang Vietnam (1954–1975) dengan sangat cepat jika ia berkuasa saat itu.

Dia juga sempat melontarkan kritik panjang terhadap renovasi gedung markas Federal Reserve karena ketidaksukaannya pada sang ketua, Jerome Powell.

Dan bukannya fokus pada strategi militer, Trump justru lebih sering membanggakan proyek pembangunan ruang dansa baru di Gedung Putih. 

Menurut laporan Washington Post, Trump rata-rata menyebutkan proyek ruang dansa tersebut setiap tiga hari sekali sejak awal tahun.

"Saya membangun di bawah anggaran, lebih cepat dari jadwal," puji Trump mengenai proyek favoritnya itu.

Baca juga: Iran Tegaskan Tetap Siaga dan Siap Serang Balik Usai Trump Perpanjang Gencatan Senjata

Tag:  #trump #semakin #berubah #ubah #soal #iran #rusak #norma #waktu #presiden

KOMENTAR