Selat Hormuz Mungkin Tak Akan Balik Normal, Bukan Andalan Jalur Minyak Lagi
- Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang selama puluhan tahun menjadi jantung distribusi energi global, diprediksi tidak akan pernah kembali ke kondisi normal seperti sediakala.
Meski gerbang laut ini nantinya dibuka sepenuhnya, dunia telah telanjur belajar dari trauma.
Keyakinan bahwa jalur ini adalah rute yang tak tergantikan kini mulai luntur, berganti dengan perlombaan global untuk menemukan jalan alternatif guna menghindari risiko geopolitik di masa depan.
Negara-negara di seluruh kawasan sedang menjajaki kemungkinan membangun, memperluas, atau merehabilitasi infrastruktur yang akan melewati selat tersebut.
Baca juga: Belum Sehari Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Tembaki Kapal di Dekat Selat Hormuz
Di sisi lain, negara-negara importir bahan bakar mulai berpaling ke alternatif lain, mulai dari mengamankan pasokan gas dari wilayah berbeda hingga beralih kembali ke batu bara sebagai langkah darurat.
Ini dilakukan sembari mempercepat investasi jangka panjang pada energi surya dan nuklir.
Kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh perusahaan energi dan konsumen adalah Iran kini menyadari betapa mudahnya melumpuhkan ekonomi dunia hanya dengan menutup celah sempit tersebut.
“Sejak saat rudal mulai berjatuhan dan drone mulai menyerang, sudah sangat jelas bahwa kami tidak akan mundur,” kata Badr Jafar, seorang pengusaha yang menjabat sebagai utusan khusus untuk bisnis dan filantropi bagi Uni Emirat Arab, dikutip dari New York Times, Selasa (21/4/2026).
Dunia tidak akan mundur ke titik awal yang penuh kerentanan.
Baca juga: Komandan Iran Disebut Pimpin Pasukan di Irak, Bisa Serang Tanpa Izin Pusat
Pipa daratan sebagai pilihan darurat
Sebagai respons terhadap krisis energi yang sedang berlangsung, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mengalihkan sebagian besar produksi minyak mereka ke pelabuhan-pelabuhan yang jauh dari jangkauan Selat Hormuz.
Jalur pipa yang dibangun bertahun-tahun lalu sebagai cadangan kini menjadi jalur utama.
Begitu pula dengan Irak yang mulai menghidupkan kembali pipa menuju Turkiye, sebuah rute yang sempat mati suri akibat konflik politik dan senjata.
Data dari Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan lonjakan signifikan pada pengiriman melalui rute alternatif ini.
Angkanya bahkan mencapai lebih dari tujuh juta barrel per hari, naik hampir dua kali lipat dibanding periode sebelum perang.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz Bukti Kerentanan Bahan Bakar Fosil, Transisi Energi Tak Bisa Ditunda
Namun, angka ini sebenarnya masih jauh dari kapasitas total 20 juta barrel yang biasanya melewati Hormuz setiap harinya.
Bagi negara-negara yang terisolasi secara geografis, seperti Kuwait dan Qatar, jalur pipa darat belum menjadi solusi yang memadai, terutama untuk komoditas selain minyak seperti aluminium dan pupuk.
Pentingnya selat ini secara geopolitik sempat membuat harga minyak internasional anjlok 9 persen ketika Menteri Luar Negeri Iran mengisyaratkan pembukaan kembali jalur tersebut.
Namun, harapan itu segera menguap saat Presiden Donald Trump menegaskan bahwa blokade AS terhadap kapal-kapal Iran akan terus berlanjut.
Ketegangan ini memperkuat keyakinan bahwa keamanan jalur pelayaran bebas di Hormuz kini sepenuhnya bergantung pada kemauan kekuatan besar dunia, bukan lagi hukum maritim yang stabil.
Baca juga: Penutupan Selat Hormuz Justru Tingkatkan Permintaan Minyak dari AS?
Alternatif mahal demi ketahanan energi
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.
Mantan perwakilan khusus untuk Iran, Elliott Abrams, memprediksi, Selat Hormuz akan kehilangan relevansinya secara signifikan pada dekade mendatang.
Pada 2030 atau 2035, dunia diperkirakan sudah akan menemukan alternatif yang lebih stabil.
Salah satu opsi yang paling ambisius adalah usulan Irak untuk membangun jalur pipa baru menuju Laut Mediterania melalui Suriah.
Meskipun peta proyek tersebut terlihat menjanjikan, realisasinya sering kali terbentur oleh ego politik dan konflik lintas batas.
“Anda bisa menggambar garis-garis indah di peta,” kata Robin Mills, kepala eksekutif Qamar Energy, sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab.
“Namun, mencoba mewujudkannya dalam kenyataan adalah hal yang berbeda,” sambungnya.
Baca juga: Tarif Terusan Panama Melonjak Jadi Rp 68 Miliar Usai Selat Hormuz Ditutup
Kendati demikian, urgensi krisis saat ini diyakini mampu mendorong kerja sama regional yang sebelumnya dianggap mustahil.
Biaya yang harus dikeluarkan memang sangat besar, mencapai puluhan miliar dollar AS, tetapi kerugian akibat gangguan pasokan selama satu atau dua bulan di Selat Hormuz jauh lebih mahal daripada biaya pembangunan infrastruktur alternatif tersebut.
Selain pembangunan infrastruktur, pola konsumsi global juga mulai bergeser.
Para importir energi kini lebih memilih membeli bahan bakar dari Amerika Serikat atau menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir untuk mengurangi ketergantungan pada Teluk Persia.
Tren diversifikasi ini diprediksi akan bertahan lama dan mempercepat transisi energi dunia.
Namun, semua upaya untuk memprioritaskan ketahanan energi ini memiliki konsekuensi ekonomi yang nyata.
Tag: #selat #hormuz #mungkin #akan #balik #normal #bukan #andalan #jalur #minyak #lagi