Dua Mantan PM Israel Berkoalisi, Ingin Gulingkan Netanyahu di Pemilu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem, 19 Maret 2026, ketika perang Iran masih berkecamuk.(AFP/POOL/RONEN ZVULUN)
06:30
27 April 2026

Dua Mantan PM Israel Berkoalisi, Ingin Gulingkan Netanyahu di Pemilu

- Dua mantan perdana menteri Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi mengumumkan koalisi untuk menghadapi pemilihan umum (pemilu) tahun ini.

Langkah besar ini diambil dengan target menggulingkan petahana Benjamin Netanyahu dari kursi kekuasaan.

"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama dengan teman saya Yair Lapid, saya mengambil langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami ambil untuk negara kami," kata Bennett dalam pernyataan bersama yang disiarkan televisi dengan Lapid, Minggu (26/4/2026), dikutip dari AFP.

Baca juga: PM Israel Benjamin Netanyahu Idap Kanker Prostat, Sembunyikan karena Politik

Kedua tokoh ini sepakat mendirikan partai baru bernama Beyahad di bawah kepemimpinan Bennett.

Mereka optimistis koalisi ini akan membawa kemenangan besar dan membuka era baru bagi Israel.

Senada dengan Bennett, Yair Lapid yang kini menjabat sebagai pemimpin oposisi, menyatakan kepercayaan penuhnya kepada rekan koalisinya tersebut. 

Meski Bennett berasal dari sayap kanan, Lapid menilainya sebagai politisi yang jujur.

Baca juga: Beda dari Pendahulunya, PM Baru Hongaria Siap Tangkap Netanyahu yang Jadi Buron ICC

Janji penyelidikan serangan 7 Oktober

Salah satu agenda utama koalisi Beyahad jika memenangi pemilu adalah membentuk komisi penyelidikan nasional untuk mengusut tuntas kegagalan intelijen dan militer yang memicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. 

Hingga kini, pemerintahan Netanyahu diketahui terus menolak pembentukan komisi tersebut.

Bennett dan Lapid selama ini memang dikenal sebagai kritikus paling vokal terhadap cara Netanyahu menangani perang. 

Lapid bahkan secara terang-terangan menyebut gencatan senjata dua minggu dengan Iran baru-baru ini sebagai sebuah "bencana politik".

Baca juga: Hubungan Jerman-Israel Memanas, Kanselir Friedrich Merz Diserang Menterinya Netanyahu

Asisten yang berubah menjadi saingan

Sosok Naftali Bennett (54) bukanlah orang baru bagi Netanyahu. 

Ia pernah menjabat sebagai penasihat Netanyahu sebelum akhirnya berbalik menjadi rival politik yang sengit.

Bennett adalah mantan pengusaha teknologi sukses yang menjual perusahaan rintisannya seharga 145 juta dollar AS pada 2005. 

Sebagai mantan perwira komando militer, profilnya sangat digemari oleh generasi muda Israel, terutama setelah ketegangan perang Gaza yang berlangsung selama dua tahun terakhir.

Sementara itu, Yair Lapid (62) merupakan mantan jurnalis televisi terkemuka yang terjun ke politik pada 2012. 

Ia mendirikan partai Yesh Atid yang kini menjadi kekuatan politik terbesar kedua di Israel. 

Lapid juga sempat menjabat sebagai perdana menteri sementara dalam waktu singkat pada 2022 lalu.

Baca juga: Netanyahu Berulang Kali Desak AS Serang Iran, tapi Ditolak, Mengapa Disetujui di Era Trump?

Ancam dominasi Netanyahu

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa Naftali Bennett merupakan kandidat paling potensial yang mampu menumbangkan Netanyahu pada pemilu Oktober mendatang. 

Bennett juga telah mengajak tokoh sentris, Gadi Eisenkot, untuk bergabung memperkuat koalisi barunya.

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu yang kini berusia 76 tahun, tetap berencana memimpin partai Likud dalam pemilu mendatang. 

Sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel (total 18 tahun), Netanyahu kini menghadapi tantangan terbesar dari koalisi para mantan "anak didiknya" sendiri.

Tag:  #mantan #israel #berkoalisi #ingin #gulingkan #netanyahu #pemilu

KOMENTAR