Iran Temui Rusia Saat Negosiasi dengan AS Tak Jelas, Apa yang Diincar?
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertolak ke Rusia di tengah ketidakpastian negosiasi dengan Amerika Serikat yang belum membuahkan hasil konkret.
Setibanya di St. Petersburg pada Senin (27/4/2026), Araghchi menyatakan bahwa negosiasi sebelumnya gagal mencapai tujuan meskipun sempat menunjukkan kemajuan.
Ia menuding tuntutan Amerika Serikat yang “berlebihan” sebagai penyebab utama kebuntuan tersebut.
Baca juga: Kapal-kapal Tanker Iran Macet di Selat Hormuz, Blokade AS Sukses?
Sementara itu, Trump memperpanjang gencatan senjata yang disepakati pada 7 April tanpa batas waktu.
Kesepakatan ini pada dasarnya menghentikan pertempuran yang pecah setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, namun jalan menuju perjanjian permanen masih jauh dari kata pasti.
Peran Rusia dalam kebuntuan
Muncul spekulasi bahwa pertemuan di Rusia—negara yang memiliki hubungan baik dengan Washington—dapat membantu menghidupkan kembali upaya damai Iran.
Selain itu, isu blokade Selat Hormuz yang vital bagi ekspor energi global juga menjadi perhatian utama.
Ali Vaez dari International Crisis Group menilai peran Rusia tidak otomatis menjadi solusi.
“Putin sebelumnya telah menawarkan bantuan, tetapi tidak berhasil karena berbagai alasan. Yang dibutuhkan bukanlah kiat menghadapi Trump, melainkan fleksibilitas dari kedua belah pihak,” katanya, seperti dikutip Newsweek.
Vaez juga menekankan bahwa Rusia bisa memainkan peran penting dalam penyelesaian isu Selat Hormuz yang memerlukan pengakuan internasional.
Uranium Iran jadi titik kunci
Citra satelit dari Vantor memperlihatkan situs nuklir Iran di Natanz dengan beberapa kerusakan yang diduga akibat serangan, ketika dipublikasi pada Senin (2/3/2026).
Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi adalah nasib uranium yang diperkaya Iran. Trump menyebutnya sebagai “debu nuklir” dan bersikeras Iran harus menyerahkannya.
Pakar Iran dari SWP Berlin, Hamidreza Azizi, menjelaskan bahwa Rusia berpotensi memainkan peran penting dalam isu ini.
“Peran potensial Rusia sangat relevan dalam berkas nuklir, khususnya terkait stok uranium yang diperkaya tinggi milik Iran,” ujarnya.
Ia menambahkan, mekanisme serupa pernah dilakukan dalam kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), di mana uranium Iran dipindahkan ke Rusia dan sebagai gantinya Iran menerima bahan bakar nuklir untuk tujuan sipil.
“Rusia telah berulang kali menyatakan kesediaannya untuk kembali memainkan peran serupa,” kata Azizi.
Selain Rusia, Iran juga disebut ingin melibatkan China sebagai mediator yang lebih besar, bahkan sebagai pihak yang menyimpan uranium tersebut.
Baca juga: Sekutu Sebut AS Dipermalukan Iran di Meja Perundingan, Puji Kemampuan Teheran
Kendala Rusia
Analis dari LSE IDEAS, Vuk Vuksanovic, menyebut Rusia sebagai salah satu aktor langka yang memiliki jalur komunikasi dengan AS, Israel, dan Iran sekaligus.
Namun, ia menilai Moskwa juga memiliki kepentingan sendiri. “Rusia diuntungkan dari fakta bahwa AS kembali terjebak di Timur Tengah dan perhatian terhadap perang Ukraina berkurang,” katanya.
Ia menambahkan, Rusia juga melihat keuntungan ekonomi dari kenaikan harga energi serta potensi pelonggaran sanksi terhadap minyaknya.
“Ada juga keuntungan diplomatik: menurunnya prestise Amerika di dunia Islam dan global selatan, yang selalu menguntungkan Moskwa dan Beijing,” lanjutnya.
Meski demikian, Vuksanovic menekankan bahwa jika Rusia benar-benar membantu, mereka kemungkinan akan meminta imbalan dari AS, seperti konsesi terkait Ukraina.
Hubungan Rusia-Iran semakin dekat
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyatakan bahwa kedua negara “berada di garis depan yang sama dalam menghadapi kampanye kekuatan hegemonik terhadap negara-negara independen dan pencari keadilan.”
Kerja sama antara Teheran dan Moskow memang semakin erat, termasuk dalam bidang militer dan teknologi drone.
Pada Januari 2025, kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif, meski tanpa klausul pertahanan bersama.
Rusia juga mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran, serta diduga memberikan dukungan tidak langsung, termasuk kemampuan intelijen, menurut sumber keamanan Barat.
Rusia tak bisa jadi penyelamat strategis
Meski Iran berharap pada dukungan Rusia, sejumlah analis meragukan kemampuan Moskow untuk benar-benar mengubah situasi.
Akademisi ESSEC Business School, Aurélien Colson, menilai proses negosiasi saat ini terkesan tidak terstruktur, terutama setelah pembatalan pertemuan di Islamabad oleh Trump.
“Baik Witkoff maupun Kushner bukan spesialis isu nuklir atau Iran. Ini menambah kesan kacau—terlalu banyak jalur, kurang negosiator berpengalaman, dan belum ada arsitektur negosiasi yang disiplin,” ujarnya.
Colson menilai Iran memang menginginkan perlindungan diplomatik dari Rusia, namun peran tersebut lebih bersifat simbolis.
“Rusia dapat bersikap, menghambat, dan mempersulit diplomasi Barat, tetapi tidak mampu memberikan dukungan militer, ekonomi, atau diplomatik yang menentukan,” katanya.
Ia bahkan menyebut Rusia lebih sebagai “oportunis yang kewalahan” daripada pelindung yang dapat diandalkan.
“Rusia masih memiliki peran, tetapi itu peran sekunder dan pada dasarnya bersifat negatif,” pungkasnya.
Baca juga: Iran Salahkan AS atas Mandeknya Negosiasi, Sebut Tuntutan Washington Berlebihan
Tag: #iran #temui #rusia #saat #negosiasi #dengan #jelas #yang #diincar