Asia Diuntungkan Usai UEA Keluar dari OPEC, Kok Bisa?
Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari keanggotaan negara-negara OPEC(wikimedia commons)
18:36
29 April 2026

Asia Diuntungkan Usai UEA Keluar dari OPEC, Kok Bisa?

- Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari keanggotaan OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) diprediksi akan membawa perubahan besar pada peta energi global. 

Setelah terlepas dari batasan kuota produksi, UEA berencana membanjiri pasar dengan pasokan hingga 5 juta barrel per hari.

Langkah ini dinilai menjadi kabar baik bagi negara-negara Asia yang selama ini bergantung pada impor minyak, seperti Jepang, India, dan Korea Selatan. 

Meskipun saat ini harga minyak dunia masih melonjak akibat penutupan Selat Hormuz, pasokan tambahan dari UEA diharapkan menjadi penyeimbang harga dalam jangka panjang.

Baca juga: AS Berisiko Kena Imbas Keluarnya UEA dari OPEC, Untung atau Rugi?

Pada Rabu (29/4/2026), harga minyak mentah Brent terpantau mencapai 111 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati 100 dollar AS per barrel.

“Penutupan Selat Hormuz saat ini menyamarkan dampak keluarnya UEA," kata Aditya Saraswat, Wakil Presiden Senior Rystad Energy, dikutip dari SCMP, Rabu.

"Namun, begitu selat dibuka kembali, produksi bebas UEA sebesar 4,8 juta barel per hari mewakili pergeseran nyata sekitar 1-2 persen dari permintaan global,” tambahnya.

Baca juga: UEA Hengkang dari OPEC di Tengah Perang AS-Iran, Arab Saudi Hadapi Beban Lebih Besar

Strategi maksimalkan volume produksi

UEA saat ini memproduksi 3,4 juta barel per hari di bawah batasan OPEC

Sebagai produsen minyak terbesar keenam di dunia dengan cadangan lebih dari 100 miliar barel, UEA kini leluasa mengejar target kapasitas 5 juta barrel per hari.

Keluarnya UEA mengungkap adanya perpecahan internal di dalam kartel minyak tersebut, terutama persaingan sengit antara UEA dan Arab Saudi terkait otonomi ekonomi dan pengaruh politik regional di kawasan Laut Merah.

“Jika OPEC mulai terpecah, kemampuan kelompok ini untuk mengelola batas bawah harga akan melemah secara signifikan. Asia akan menjadi medan pertempuran utama bagi barel-barel Teluk yang saling bersaing,” ujar Saraswat.

Bagi ekonomi Asia, fragmentasi pasokan ini secara struktural menguntungkan. 

Persaingan antarprodusen Teluk untuk mengamankan pangsa pasar di Asia dapat mendorong harga menjadi lebih kompetitif.

Baca juga: UEA Keluar dari OPEC, Tanda Keretakan Negara-negara Teluk

Transisi ke energi bersih

Gangguan rantai pasokan minyak terjadi pada saat negara-negara Asia berupaya beralih ke produksi energi lebih bersih yang selaras dengan tujuan net-zero dan mengurangi impor.

Saat permintaan minyak mendekati puncaknya dan mulai menurun, insentif bagi para produsen pun berubah.

“Produsen yang memiliki kapasitas cadangan mungkin akan memprioritaskan pemanfaatan cadangan dan perlindungan pangsa pasar daripada pengendalian bersama," kata Kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon. 

"Dalam konteks tersebut, alasan bagi negara-negara yang bergerak lebih awal menjadi semakin kuat,” lanjutnya.

Namun, keluarnya UEA lebih dari sekadar perselisihan kartel rutin atau penyesuaian pasar minyak jangka pendek.  yang berbasis di New Delhi.

“Hal ini menandakan penegasan otonomi strategis yang terukur oleh mitra utama AS, dengan implikasi mendalam bagi keamanan energi, kredibilitas aliansi, dan arsitektur kekuatan ekonomi global yang terus berkembang,” ujar Srinivaasan Balakrishnan, direktur keterlibatan strategis dan kemitraan di lembaga think tank Indic Researchers Forum.

Baca juga: UEA Resmi Keluar dari OPEC 1 Mei 2026, Ini 4 Alasan Utama di Baliknya

OPEC batasi produksi minyak anggota

Bendera OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak bumiopec.org Bendera OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi

OPEC menetapkan batas atas produksi dan kuota individu bagi para anggotanya untuk mengelola pasokan minyak global dan memengaruhi harga.

Anggota seperti Irak dan Kuwait, yang juga frustrasi dengan batas produksi, kini memiliki preseden dan insentif yang lebih kuat untuk mengevaluasi kembali keanggotaan mereka.

Direktur Asia Selatan di Institute for Energy Economics and Financial Analysis, Vibhuti Garg  menilai, keluarnya UAE mencerminkan pergeseran struktural dalam cara produsen minyak memandang permintaan masa depan. 

“Kami sudah melihat tanda-tanda awal terjadinya substitusi permintaan," tuturnya.

"Di sektor transportasi, peningkatan pesat penggunaan kendaraan listrik mulai menggantikan konsumsi minyak, sementara peningkatan efisiensi dan meningkatnya pangsa energi terbarukan di seluruh sistem kelistrikan semakin mengurangi ketergantungan pada minyak di beberapa negara,” tambahnya.

Baca juga: Dampak UEA Keluar dari OPEC: Perang Harga Minyak Dunia Mengintai

Ini merupakan tren yang sudah berlangsung dan diperkirakan akan semakin cepat.

Bagi produsen seperti UEA, tetap terikat oleh kuota produksi OPEC berarti membatasi kemampuan mereka untuk memonetisasi sumber daya mereka sepenuhnya.

Seiring dengan meningkatnya daya saing energi terbarukan dan melemahnya prospek permintaan, fokus pun bergeser dari mempertahankan harga menjadi memaksimalkan volume.

“Harga yang lebih tinggi berisiko mempercepat substitusi, sementara penetapan harga yang kompetitif membantu mempertahankan permintaan,” kata Greg. 

“Seiring meningkatnya ketidakpastian permintaan jangka panjang, prioritas strategis bergeser ke arah memaksimalkan volume dan mengamankan pangsa pasar selagi permintaan masih ada,” pungkasnya.

Tag:  #asia #diuntungkan #usai #keluar #dari #opec #bisa

KOMENTAR