Israel Kirim Iron Dome ke UEA, Sinyal Aliansi Baru di Timur Tengah?
Peluncur sistem pertahanan udara Iron Dome saat dikerahkan di dekat Yerusalem, Israel, 15 April 2024, di tengah perang Israel-Hamas dan Israel-Hizbullah.(AFP/MENAHEM KAHANA)
18:48
29 April 2026

Israel Kirim Iron Dome ke UEA, Sinyal Aliansi Baru di Timur Tengah?

- Israel dilaporkan telah mengirim sistem pertahanan udara Iron Dome beserta pasukannya ke Uni Emirat Arab pada awal perang dengan Iran.

Menurut laporan Axios, para pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pengiriman itu setelah melakukan panggilan telepon dengan Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nayhan. 

UEA bahkan disebut telah menggunakan Iron Dome untuk mencegat puluhan rudal Iran.

Hal ini akan menandai kali pertama sistem Iron Dome Israel digunakan di negara selain Israel atau Amerika Serikat.

Baca juga: Asia Diuntungkan Usai UEA Keluar dari OPEC, Kok Bisa?

Titik balik aliansi keamanan di Timur Tengah

Dikutip dari SCMP, Rabu (29/4/2026), peneliti senior di Hudson Institute di Washington, Liselotte Odgaard mengatakan, penempatan Iron Dome di UEA merupakan titik balik dalam aliansi keamanan Timur Tengah.

Ini sekaligus menandakan bahwa pertahanan udara regional sedang menjadi “usaha bersama”.

Menurutnya, Israel berada dalam posisi sebagai penyedia keamanan sekaligus memiliki kepentingan dalam eskalasi, namun batasan tetap ada.

“Penempatan Iron Dome menandai pergeseran dari normalisasi diplomatik ke integrasi militer masa perang di bawah Perjanjian Abraham,” kata Odgaard.

Baca juga: Israel Disebut Beri UEA Iron Dome untuk Tangkis Serangan Iran

“Meskipun Israel telah mengekspor sistem pertahanan udara sebelumnya, penempatan baterai Iron Dome yang siap operasional bersama personel IDF di wilayah UEA menandakan tingkat kepercayaan dan koordinasi yang secara kualitatif berbeda," sambungnya.

Ia melihat, langkah ini secara tegas menunjukkan adanya kesamaan pandangan mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh Iran.

Odgaard menambahkan, Iron Dome harus dipahami sebagai salah satu lapisan dalam sistem pertahanan yang lebih luas, bukan sebagai perisai yang komprehensif.

Hal ini mengingat sistem tersebut dioptimalkan untuk roket jarak pendek dan rudal jelajah, drone, serta amunisi yang melayang-layang.

Baca juga: UEA Hengkang dari OPEC di Tengah Perang AS-Iran, Arab Saudi Hadapi Beban Lebih Besar

Perluasan pengaruh militer Israel di Teluk

Sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel (kiri) mencegat roket (kanan) yang ditembakkan oleh gerakan Hamas menuju Israel selatan dari Beit Lahia di Jalur Gaza utara seperti yang terlihat di langit di atas Jalur Gaza pada 14 Mei 2021. AFP PHOTO/ANAS BABA Sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel (kiri) mencegat roket (kanan) yang ditembakkan oleh gerakan Hamas menuju Israel selatan dari Beit Lahia di Jalur Gaza utara seperti yang terlihat di langit di atas Jalur Gaza pada 14 Mei 2021.

Seorang peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, James Dorsey menggambarkan penempatan Iron Dome pertama kali di negara Arab sebagai hal luar biasa.

Namun, ia juga menyarankan kehati-hatian saat melihatnya sebagai batu loncatan menuju tren yang lebih besar tentang perluasan pengaruh militer Israel di negara-negara Teluk.

Menurutnya, UEA adalah pengecualian di antara negara-negara Teluk sebagai mitra terdekat Israel.

“Jelas (UEA) ingin melihat Israel menangani Palestina secara berbeda, tetapi pada dasarnya UEA adalah mitra terdekat karena secara politik dan ideologis paling dekat,” ujar Dorsey.

Odgaard berargumen, pergeseran dinamika di Teluk tidak akan menghentikan persaingan kekuatan besar, melainkan akan membentuk ulang cara China dan Rusia merespons tatanan keamanan yang semakin militeristik yang dipimpin oleh Israel dan mitra-mitranya yang didukung AS.

Baca juga: AS Berisiko Kena Imbas Keluarnya UEA dari OPEC, Untung atau Rugi?

Perjanjian Abraham lebih dari sekadar normalisasi

Baik China maupun Rusia, keduanya mungkin menyimpulkan bahwa peran militer Israel yang semakin meluas berarti tekanan yang dilakukan Iran di Teluk akan menimbulkan biaya yang lebih besar.

Hal ini seiring dengan berkembangnya Perjanjian Abraham dari sekadar normalisasi menjadi aliansi keamanan operasional, yang didukung oleh pengaruh AS yang semakin kokoh di Timur Tengah.

“Namun, China akan beradaptasi dan melakukan lindung nilai, memanfaatkan ekonomi dan diplomasi, sementara Rusia akan menguji dan melemahkan, dengan mengandalkan dukungan di zona abu-abu bagi Iran dan perang informasi,” kata Odgaard.

“Keduanya kemungkinan tidak akan menghadapi Israel secara langsung, tetapi keduanya akan berupaya memastikan bahwa peran baru Israel tidak menjadi tulang punggung keamanan yang tak terbantahkan di kawasan tersebut,” tambahnya.

Tag:  #israel #kirim #iron #dome #sinyal #aliansi #baru #timur #tengah

KOMENTAR