AS-Israel Beda Sikap Lagi soal Iran: Trump Mau Negosiasi, Netanyahu Ingin Lanjut Perang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan “melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan” setelah keduanya berbicara lewat telepon mengenai kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran.
Pernyataan Trump muncul di tengah laporan bahwa dirinya dan Netanyahu berbeda pandangan soal langkah berikutnya dalam perang Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Netanyahu disebut meragukan negosiasi dengan Teheran dapat menghasilkan perdamaian dan ingin melanjutkan serangan, sementara Trump lebih memilih solusi diplomatik untuk mengakhiri ambisi nuklir Iran.
Baca juga: AS Ancang-ancang Mulai Perang Lagi, Iran Tetap Tak Mau Tunduk
Trump klaim Netanyahu akan ikuti keinginannya
Laporan media Israel menyebut Trump dan Netanyahu sempat bentrok dalam percakapan telepon “dramatis” pada Selasa (19/5/2026) malam terkait kelanjutan perang melawan Iran.
Saat berbicara kepada wartawan pada Rabu (20/5/2026), Trump mengatakan, dirinya “tidak terburu-buru” mencapai kesepakatan dengan Iran, namun Gedung Putih berada pada “tahap akhir” negosiasi.
“Kita lihat saja nanti apa yang terjadi,” kata Trump, seperti dikutip The Telegraph.
Ia menambahkan bahwa kesepakatan mungkin akan tercapai, atau “kami akan melakukan beberapa hal yang agak buruk, tetapi semoga itu tidak terjadi.”
Trump juga mengatakan, “Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Kami mungkin harus menghantam mereka lebih keras lagi — tetapi mungkin juga tidak.”
Ketika ditanya mengenai keinginan Netanyahu untuk kembali melancarkan aksi militer, Trump menjawab, “Dia pria yang sangat baik. Dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan. Dan dia orang hebat. Jangan lupa dia adalah perdana menteri di masa perang.”
AS dan Israel berbeda pendekatan soal Iran
Mengakhiri program nuklir Iran menjadi garis merah bagi AS maupun Israel. Namun, laporan menyebut para pembuat strategi Israel khawatir Trump pada akhirnya akan menawarkan kesepakatan yang dianggap “lemah” demi mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Syarat yang diajukan AS dalam kesepakatan mencakup tidak adanya reparasi perang untuk Iran, penyerahan 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, pembatasan fasilitas nuklir Iran hanya menjadi satu lokasi, pencairan kurang dari 25 persen aset Iran yang dibekukan, serta gencatan senjata yang bergantung pada kelanjutan negosiasi.
Sementara itu, Iran menginginkan perang dihentikan di semua front, khususnya di Lebanon, pencabutan seluruh sanksi, pencairan dana yang dibekukan, kompensasi kerusakan perang, serta pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Pejabat militer Israel juga disebut telah menyampaikan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah “mengisi kembali” daftar target potensial di Iran dan yakin dapat melemahkan rezim Iran secara signifikan lewat gelombang pengeboman baru.
Israel juga dilaporkan semakin frustrasi terhadap gencatan senjata di Lebanon yang dianggap membatasi gerak mereka sementara Hizbullah terus menyerang tentara dan warga sipil Israel.
Baca juga: Kondisi Terkini Mojtaba Khamenei, Iran Sebut Hanya Terluka Ringan di Bagian Telinga
Iran tuduh AS ingin mulai perang lagi
Di Teheran, pejabat Iran kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerahkan apa yang disebut sebagai hak fundamental negara itu.
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh AS sedang berupaya memulai kembali perang dan berharap Teheran menyerah.
“Selama sekitar satu bulan, kami menyaksikan gencatan senjata di garis depan militer, tetapi gerakan terang-terangan maupun tersembunyi musuh menunjukkan bahwa bersamaan dengan tekanan ekonomi dan politik, mereka belum meninggalkan tujuan militernya dan sedang mengejar putaran perang baru serta petualangan baru,” kata Ghalibaf dalam pesan audio.
Ia mengatakan, Trump menghadapi dilema strategis antara mengakhiri perang “dan menanggung biaya sebagai pihak yang kalah” atau memulai kembali operasi militer untuk memaksa Iran menyerah.
Pada Senin, Trump mengeklaim sempat membatalkan serangan udara AS terhadap Iran pada menit-menit terakhir atas permintaan Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Trump mengatakan, dirinya diberi tahu bahwa kesepakatan yang “sangat dapat diterima” oleh AS akan tercapai dan bahwa “TIDAK AKAN ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!”
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, memuji keputusan Trump untuk “memberi kesempatan kepada diplomasi guna mencapai kesepakatan yang dapat diterima untuk mengakhiri perang."
Program nuklir Iran masih jadi hambatan utama
Citra satelit dari Vantor memperlihatkan situs nuklir Iran di Natanz dengan beberapa kerusakan yang diduga akibat serangan, ketika dipublikasi pada Senin (2/3/2026).
Dugaan ambisi Iran mengembangkan senjata nuklir terus menjadi batu sandungan utama dalam upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 11 pekan.
Pekan lalu, Trump mengatakan, gencatan senjata AS-Iran berada dalam kondisi “hidup segan mati tak mau” setelah ia menyebut respons Teheran terhadap memorandum AS mengenai penghentian konflik sebagai sesuatu yang “bodoh” dan “sampah”.
Rencana 14 poin yang diajukan AS menawarkan pencairan miliaran dollar aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas penghentian ambisi nuklir Iran. Namun hingga kini Teheran disebut menolak proposal tersebut.
Baca juga: Bagaimana Iran Bisa Nyaris Punya 11 Bom Nuklir di Era 3 Presiden AS?
Tag: #israel #beda #sikap #lagi #soal #iran #trump #negosiasi #netanyahu #ingin #lanjut #perang