Cara Menghadapi Saudara yang Suka Pamer saat Kumpul Keluarga
Ilustrasi Lebaran. Bolehkah menikah dengan sepupu sendiri dalam Islam?(Google Gemini AI)
09:05
21 Maret 2026

Cara Menghadapi Saudara yang Suka Pamer saat Kumpul Keluarga

Momen berkumpul bersama keluarga sering menjadi kesempatan untuk saling bertukar kabar, berbagi cerita, dan mempererat hubungan.

Namun, dalam beberapa situasi, suasana hangat itu bisa berubah canggung ketika ada anggota keluarga yang terus-menerus membicarakan pencapaian pribadi, penghasilan, barang baru, atau gaya hidup yang dimiliki.

Perilaku seperti ini sering dikenal sebagai flexing atau kecenderungan menunjukkan keberhasilan di depan orang lain.

Dalam lingkungan keluarga, kebiasaan tersebut kadang memunculkan rasa tidak nyaman karena percakapan terasa seperti ajang perbandingan.

Menurut psikolog klinis Phoebe Ramadina M.Psi, Psikolog, respons paling sehat saat menghadapi orang yang suka pamer adalah menjaga sikap tetap netral dan tidak ikut membawa percakapan ke arah kompetisi.

“Respon yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” kata Phoebe, dikutip dari ANTARA, Sabtu (21/3/2026).

Baca juga: 45 Ucapan Lebaran Anak Rantau yang Tak Bisa Mudik, Bikin Orangtua Terharu

Tidak perlu merasa harus mengimbangi

Ketika ada saudara yang menceritakan pencapaian secara berulang, penting untuk tidak langsung merasa tertinggal atau terdorong membandingkan diri.

Secara psikologis, kecenderungan membandingkan diri dalam keluarga sering muncul karena ada kedekatan emosional dan sejarah hubungan yang panjang.

Hal itu membuat komentar sederhana tentang pekerjaan, rumah, atau kendaraan terasa lebih personal.

Padahal, menurut Phoebe, apa yang ditampilkan seseorang belum tentu menggambarkan seluruh kondisi hidupnya.

Dalam banyak kasus, perilaku pamer justru berkaitan dengan kebutuhan validasi, keinginan mendapat pengakuan, atau upaya menutupi rasa tidak aman.

Jaga jarak emosional jika percakapan mulai melelahkan

Jika obrolan mulai membuat tidak nyaman, menjaga jarak secara emosional bisa menjadi cara yang sehat.

Bukan berarti menjauh dari keluarga, tetapi memberi batas agar diri sendiri tidak terseret dalam tekanan sosial.

Misalnya, cukup mendengarkan tanpa harus memberi respons berlebihan, lalu mengalihkan topik ke pembahasan lain yang lebih netral.

Menjaga batas emosional penting agar suasana hati tetap stabil, terutama ketika percakapan mulai mengarah pada perbandingan pencapaian.

Baca juga: 45 Ucapan Lebaran untuk Mertua, Sopan dan Penuh Hormat

Kembangkan empati, bukan reaksi defensif

Meski kadang terasa mengganggu, perilaku pamer tidak selalu dilakukan dengan niat merendahkan orang lain.

Phoebe menjelaskan bahwa sebagian orang melakukan itu sebagai cara untuk mencari penghargaan atau rasa dihargai di lingkungan keluarga.

Karena itu, merespons dengan empati sering lebih efektif dibanding menunjukkan sikap defensif.

Memahami bahwa di balik cerita berlebihan bisa ada kebutuhan untuk diakui membantu kita melihat situasi dengan lebih tenang.

Baca juga: 35 Ucapan Sungkeman Lebaran 2026 Bahasa Jawa, Halus untuk Orangtua

Arahkan obrolan ke hal yang lebih bermakna

Agar kumpul keluarga tetap terasa hangat, percakapan bisa diarahkan ke topik yang lebih personal dan memperkuat hubungan.

Misalnya, membahas pengalaman hidup, cerita masa kecil, rencana sederhana ke depan, atau menanyakan kabar secara lebih tulus.

Topik seperti ini membantu percakapan keluar dari pola membandingkan siapa yang paling berhasil.

Pada akhirnya, inti dari kebersamaan keluarga bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi bagaimana setiap orang merasa diterima tanpa harus membuktikan apa pun.

Baca juga: 35 Ucapan Sungkeman Idul Fitri Bahasa Sunda, Sopan dan Menyentuh Hati

Tag:  #cara #menghadapi #saudara #yang #suka #pamer #saat #kumpul #keluarga

KOMENTAR