Cita Tenun Indonesia Dekatkan Tenun ke Anak Muda
– Tenun selama ini kerap dipandang sebagai warisan budaya yang identik dengan pakaian tradisional atau acara formal. Padahal, wastra Nusantara memiliki potensi besar untuk terus berkembang, termasuk menjangkau generasi muda.
Namun, upaya memperkenalkan tenun ke pasar yang lebih luas, khususnya anak muda, masih menjadi tantangan. Jika tidak beradaptasi, tenun berisiko hanya dikenal di kalangan terbatas.
Kolaborasi antara Cita Tenun Indonesia (CTI) dan One Fine Sky (OFS) pun menghadirkan acara bertajuk Weaving The Sky di Savyavasa Marketing Gallery, Jakarta, Selasa (31/3/2026), sebagai upaya menghadirkan tenun dalam balutan yang lebih relevan.
“Kolaborasi kali ini bukan cuma tentang fashion, tetapi tentang makna,” kata Dewi Ivo Rajasa dari CTI saat ditemui di lokasi acara.
Ia menjelaskan, kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada fashion, tetapi juga pada pemanfaatan tenun yang memiliki dampak sosial.
Baca juga: Kain Tenun Garut Mempercantik Erin Lim di Grammy Awards 2026
“Bagaimana kita bisa mengolah sisa tenun menjadi sesuatu sekaligus kegiatan sosial untuk membantu menyediakan seragam sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu,” imbuhnya.
Upaya Mendekatkan Tenun ke Generasi Muda
Weaving The Sky
Menurut Dewi, inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya menciptakan gerakan yang berkelanjutan sekaligus memperluas peran tenun dalam kehidupan masyarakat.
“Buat kami, ini jadi sesuatu yang berkelanjutan. Membawa Indonesia ikut berperan serta peduli dengan edukasi anak Indonesia lewat wastra,” tuturnya.
Dalam acara ini, CTI menggandeng sejumlah desainer Indonesia seperti Alto Project, Amotsyamsurimuda, Danjyo Hiyoji, Danny Satriadi, Eridani, Dibba, Fbudi, Jeffry Tan, Moneymanworks, Ohmmbybai, Moral, The Rizkianto, dan Wilsen Willim.
Baca juga: Menjaga Identitas Budaya Sumba Lewat Tenun Warna Alam
Karya mereka menampilkan tenun Nusantara yang diaplikasikan pada t-shirt produksi OFS sehingga menghadirkan wastra dalam bentuk yang lebih kasual dan dekat dengan keseharian.
Dewi menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, CTI mendorong agar wastra lebih dikenal oleh generasi muda, khususnya Gen Z.
“Dalam tiga tahun ini kita galakkan untuk mendekatkan wastra kepada anak-anak muda, Gen Z. Kita ingin menggebrak pasar yang lebih muda karena kita tidak bisa kalau tenun hanya menyentuh level atas,” terangnya.
Baca juga: Dari Tenun hingga Perhiasan, Begini 5 Cara Mudah Merawat Warisan Budaya Nusantara
Libatkan Desainer dan Perajin
Desainer-desainer yang menampilkan karyanya dalam acara Weaving The Sky.
Selain menjangkau pasar muda, keterlibatan desainer yang telah memiliki nama juga menjadi strategi untuk mendorong dukungan terhadap para perajin.
“Kalau yang top-top saja mau turun ke pengrajin, masa kita enggak? Jadi momen itu yang kita gunakan,” kata Dewi Ivo.
Ia menambahkan, saat ini CTI telah melakukan pembinaan di hampir 30 kabupaten dengan melibatkan ribuan perajin tenun dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.
Pengembangan di wilayah Indonesia Timur juga masih terus didorong agar jangkauannya makin luas ke depan.
Baca juga: Tenun, Suara Perempuan yang Jadi Wajah Perlawanan Kebudayaan di NTT
Dukung Pendidikan Melalui Tenun
Tak hanya mengangkat nilai budaya, kolaborasi Weaving The Sky ini juga membawa dampak sosial yang nyata.
Setiap penjualan t-shirt hasil kolaborasi CTI dan OFS akan dikonversikan menjadi seragam sekolah bagi anak-anak di daerah terpencil.
Sejak didirikan pada 2017, OFS tercatat telah mendistribusikan sebanyak 29.408 set seragam sekolah ke berbagai daerah di Indonesia.
Dengan demikian, Weaving The Sky tidak hanya menjadi ajang fashion, tetapi juga upaya untuk memperluas pemanfaatan tenun sekaligus mendukung akses pendidikan yang lebih layak bagi anak-anak Indonesia.
Baca juga: Pesona Wastra Timur Indonesia dalam Pagelaran Aku, Wastra, Kisah