Yogurt atau Kefir, Mana Probiotik Terbaik untuk Tubuh?
- Sebagian besar masyarakat saat ini sangat familiar dengan kelezatan yogurt, sedangkan popularitas kefir sebagai minuman probiotik serupa rupanya belum begitu meluas. Padahal ia menyimpan khasiat yang tidak kalah hebat bagi tubuh.
"Yogurt dan kefir merupakan produk susu fermentasi yang sudah menjadi minuman tradisional selama ribuan tahun yang secara ilmiah telah dibuktikan bermanfaat bagi kesehatan yang dikategorikan sebagai produk probiotik."
Hal itu dikatakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, MRur.Sc, dalam artikelnya di situs resmi universitas, disadur pada Minggu (5/4/2026).
Namun, mana yang lebih baik untuk kesehatan?
Baca juga: 8 Manfaat Konsumsi Yogurt bagi Kesehatan, Termasuk Turunkan Kolesterol
Yogurt atau kefir untuk kesehatan tubuh?
Secara medis, keduanya telah teruji sebagai sumber probiotik yang amat ramah cerna.
Mengonsumsinya dapat menjaga kekuatan tulang, mendongkrak imunitas, menekan risiko peradangan, sekaligus menyuplai protein yang lengkap.
Menelusuri rasa dan tekstur
Makanan fermentasi termasuk makanan penambah daya ingat yang baik.
Beberapa makanan fermentasi termasuk kimchi, kombucha, kefir, dan yogurt.
Ronny mengatakan, kedua minuman ini diciptakan melalui proses yang tidak sama. Yogurt terlahir berkat fermentasi bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, sehingga menghasilkan tekstur lembut yang sedikit asam.
Sementara itu, racikan kefir membutuhkan biji kefir (paduan ragi dan bakteri), yang membuat konsistensinya jauh lebih encer, berdesis layaknya soda, dan rasanya lebih tajam.
Sensasi di lidah pun berbeda. Yogurt terasa creamy, yang mana tingkat keasamannya ditentukan oleh seberapa lama proses fermentasi berlangsung.
"Di samping itu, yogurt yang beredar di pasaran saat ini umumnya diproduksi dengan berbagai cita rasa untuk memenuhi selera konsumen," tutur Ronny.
Di sisi lain, kefir menghadirkan rasa yang kompleks. Tingkat keasamannya lebih kuat, aroma raginya menonjol, dengan jejak buih alami serta sentuhan rasa manis. Wujudnya yang cair membuat kefir amat menyegarkan ketika kamu teguk dalam keadaan dingin.
Mengintip proses pembuatannya
Tahapan produksi kedua minuman ini memiliki ciri khas masing-masing. Kefir dibuat menggunakan biji kefir yang direndam ke dalam susu segar, baik itu susu sapi, kambing, atau kerbau.
Usai difermentasi tertutup dalam suhu ruang (20–24 derajat Celsius) selama 24 jam, lanjut Ronny, biji tersebut disaring agar bisa dipakai ulang.
Baca juga: Siang dan Sore Disebut Waktu Terbaik Konsumsi Yogurt, Ini Alasannya
Yakinkah Anda sudah membatasi konsumsi gula? Banyak makanan dan minuman merupakan sumber gula tersembunyi, seperti yogurt dan minuman isotonik.
"Proses pembuatan yogurt sebenarnya hampir sama dengan pembuatan kefir. Hanya saja, pembuatan yogurt menggunakan bakteri asam laktat, biasanya Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus," ungkap Ronny.
Untuk membuat yogurt, susu perlu disterilkan pada suhu 40–45 derajat Celsius. Setelah diberi starter, cairan ini masuk ke inkubator bersuhu hangat selama empat sampai delapan jam, lalu dimasukkan ke lemari pendingin demi mengerem laju bakteri dan mencegah rasa kelewat asam.
Kandungan probiotik dan nutrisi
Dampak positif probiotik bagi saluran cerna sangatlah nyata. Kedua sajian ini punya peran penting, terutama bagi sistem pencernaan masyarakat di benua Asia.
"Pada umumnya, orang Asia termasuk Indonesia mengalami kondisi yang dinamakan intoleransi laktosa atau lactose intolerance, yaitu gangguan pencernaan ringan sampai berat setelah mengonsumsi susu. Yogurt dan kefir telah dibuktikan dapat mengurang lactose intolerance ini," ucap Ronny.
Riset mengungkap bahwa kefir membawa sekitar 50 strain bakteri beserta ragi. Jumlahnya melimpah ini mengalahkan yogurt pada umumnya yang rata-rata hanya diperkaya dua hingga enam strain bakteri.
Baca juga: Manfaat Kefir, Tidak Hanya Baik untuk Usus
Ilustrasi kefir.
"Pada umumnya, kefir lebih mudah ditoleransi oleh orang-orang yang mengalami intoleransi laktosa karena fermentasinya memecah laktosa lebih menyeluruh," kata Ronny.
"Sementara itu, yogurt juga mendukung pencernaan dan kesehatan usus, tetapi mungkin tidak seefektif bagi mereka yang sensitif terhadap laktosa," lanjut dia.
Berdasarkan kandungan gizinya, kefir sedikit memimpin dalam takaran potasium dan protein per porsinya. Jika kamu mengejar imunitas ekstra dan toleransi laktosa terbaik, pilihlah kefir.
Namun, yogurt tetap menjadi alternatif tepat bagi pencinta tekstur kental dan rasa ringan.
Baca juga: Sarapan Pagi dengan Probiotik Bisa Bantu Perkuat Sistem Imun, Ini Kata Ahli
Tag: #yogurt #atau #kefir #mana #probiotik #terbaik #untuk #tubuh