Bahaya Bawa Bayi 1 Tahun Naik Gunung, Bukan Cuma Hipotermia
Media sosial belakangan ramai memperbincangkan kabar seorang bayi yang diduga mengalami hipotermia saat diajak orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang. Kabar tersebut menyebutkan sang bayi harus diselamatkan oleh anggota SAR di tengah cuaca dingin pegunungan.(Tangkapan Layar)
07:05
15 April 2026

Bahaya Bawa Bayi 1 Tahun Naik Gunung, Bukan Cuma Hipotermia

- Ambisi untuk mengenalkan pesona alam kepada buah hati sejak usia dini kadang mendorong orangtua mengambil keputusan yang sangat berisiko.

Belakangan ini, publik dibuat waswas oleh rekaman video amatir yang menampilkan seorang bayi berusia 1,5 tahun yang diduga terserang hipotermia di tengah rute pendakian Gunung Ungaran, Jawa Tengah, Sabtu (11/4/2026).

Insiden tersebut sontak menuai kritik tajam dan menjadi alarm keras bagi para pencinta alam, bahwa alam bebas menyimpan bahaya tersembunyi yang tidak bisa disepelekan begitu saja.

Meski bertujuan baik untuk mempererat ikatan keluarga, medan pegunungan memiliki karakteristik iklim dan tekanan udara yang terlampau ekstrem bagi fisik balita yang masih berkembang.

Baca juga: Fakta-fakta Bayi Dibawa Mendaki Gunung Ungaran, Ini Kondisinya Usai Sempat Viral Disebut Hipotermia

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA  menekankan bahwa memaksakan bayi mendaki gunung memicu berbagai komplikasi kesehatan serius.

"Jadi, ini ada risiko yang merupakan kombinasi dari beberapa fakto, yaitu perubahan ketinggian yang mungkin nanti berujung pada altitude sickness, perubahan suhu dingin, angin yang kencang, kelelahan, asupan cairan yang kurang, dan karena kita bicarakan anak usia satu tahun, sulitnya mengenali gejala dini," tutur dr. Arifin kepada Kompas.com, Selasa (14/4/2026).

Deretan ancaman mendaki gunung bagi balita

Membawa anak yang anatomi tubuhnya masih rentan menuju lingkungan ekstrem sama dengan mempertaruhkan keselamatannya. Berbagai faktor alam di gunung bisa memicu komplikasi fatal yang tidak terduga.

Baca juga: Balita Diduga Hipotermia di Gunung Ungaran, Ini Aturan Naik Gunung Bersama Anak

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Mabuk ketinggian

Dokter anak yang berpraktik di RS Sari Asih Ciledug, Tangerang ini, menyebut salah satu ancaman medis tersembunyi dan berbahaya adalah acute mountain sickness, atau mabuk ketinggian.

Kondisi darurat ini terjadi akibat kegagalan tubuh dalam merespons tekanan udara yang berubah, dan pasokan oksigen yang menipis secara mendadak. Sayangnya, balita tidak bisa mengekspresikan rasa mual atau pusing layaknya orang dewasa.

"Pada anak yang kurang dari satu tahun, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga sudah menyatakan bahwa anak di usia satu tahun tuh enggak bisa menyampaikan keluhannya dengan jelas," ujar dr. Arifin.

Ketidakmampuan komunikasi ini menyebabkan tanda-tanda vital yang bermasalah luput dari pantauan orang dewasa. Balita biasanya hanya memberikan sinyal tidak nyaman melalui rengekan.

Baca juga: Balita Diduga Hipotermia di Gunung Ungaran, Ini Aturan Naik Gunung Bersama Anak

"Tanda-tandanya sering jadinya non-spesifik. Anaknya bisa rewel, enggak jelas banget, nangis, dikasih minum enggak mau, nafsu minumnya jadi berkurang, tidurnya kacau," ungkap dia.

Keluhan samar ini kerap disalahartikan sebagai sekadar kelelahan biasa oleh orangtua, sehingga pertolongan medis sering kali terlambat diupayakan.

"Padahal altitude sickness, dalam hal ini acute mountain sickness, munculnya biasanya dalam jam-jam pertama," tutur dr. Arifin.

Baca juga: Bahaya Pakai Lensa Kontak Saat Mandi dan Berenang, Jangan Anggap Sepele

Hipotermia

Terpaan udara dingin yang ekstrem di dataran tinggi juga melipatgandakan risiko hipotermia, seperti yang dicurigai terjadi pada kasus balita di Gunung Ungaran.

Anak balita memiliki komposisi anatomi yang membuat suhu panas di dalam tubuh mereka lebih cepat menguap.

"Anak yang kecil, terutama yang lebih kecil lebih mudah kehilangan panas tubuh karena komponen rasio permukaan tubuh, luas permukaan tubuh terhadap massa tubuhnya, itu lebih besar," jelas dr. Arifin.

Sederhananya, suhu panas di dalam tubuh balita lebih cepat "bocor" dibandingkan dengan orang dewasa.

Baca juga: Hindari Bedak, Ini Kunci Merawat Kulit Bayi yang Tepat

Risiko tubuh membeku ini semakin tinggi karena balita hanya berdiam diri di dalam balutan gendongan sepanjang perjalanan pendakian.

"Kalau anak bergerak, itu biasanya dia bisa menghasilkan kalor dari pergerakan tubuhnya. Tapi anak akan digendong. Akibatnya, tubuhnya pasif dan tidak menghasilkan panas dari aktivitas ototnya," papar dr. Arifin.

Pakaian yang lembab akibat tetesan embun atau keringat, serta tiupan angin kencang di jalur pendakian, bisa membuat suhu badan balita anjlok dalam waktu yang sangat singkat.

Dehidrasi dan evakuasi medis yang terhambat

Selain hawa dingin yang menusuk tulang, cuaca yang terlihat sejuk di atas gunung justru kerap menyamarkan sengatan terik matahari.

Paparan sinar ultraviolet di elevasi tinggi bisa menyebabkan kulit balita melepuh dan mempercepat terjadinya dehidrasi. Ditambah lagi, anak balita juga kehilangan cairan tubuh yang menguap tanpa terasa (insensible water loss).

Saat deretan komplikasi medis ini mulai menyerang ketahanan fisik anak, evakuasi penyelamatan dari atas gunung menjadi hal yang bisa cukup sulit untuk dilakukan dengan cepat.

"Kalau terjadi sesuatu di atas, evakuasinya akan rumit. Jadi risiko untuk keterlambatan pertolongan itu juga jadi concern kalau kita mengajak anak untuk mendaki gunung," terang dr. Arifin.

Baca juga: Bayi Juga Bisa Mengalami Infeksi Saluran Kemih, Waspadai Penyebabnya

Tag:  #bahaya #bawa #bayi #tahun #naik #gunung #bukan #cuma #hipotermia

KOMENTAR