10 Perubahan Kulit Setelah Melahirkan
- Setelah melahirkan, tubuh perempuan mengalami banyak perubahan, termasuk pada kondisi kulit. Perubahan hormon, kurang tidur, hingga stres pascapersalinan menjadi faktor utama yang memengaruhi kesehatan kulit.
Menurut Associate Professor Dermatologi di Duke University School of Medicine, Anne Marano, MD, kadar hormon estrogen yang sebelumnya tinggi selama kehamilan akan turun drastis setelah melahirkan.
“Ketika terjadi penurunan estrogen secara tiba-tiba setelah melahirkan, manfaat estrogen pada kulit ikut berkurang,” jelas Marano, dikutip dari Parents, Senin (20/4/2026).
Penurunan ini membuat kulit menjadi lebih kering, sensitif, hingga rentan mengalami berbagai masalah. Berikut 10 perubahan kulit yang umum terjadi setelah melahirkan.
Baca juga: Menjelang Persalinan, Alyssa Daguise Bagikan Perasaan Campur Aduk di Trimester Akhir
10 Perubahan kulit yang terjadi setelah melahirkan
1. Kulit kering, gatal, dan eksim
Kulit kering dan gatal menjadi salah satu keluhan paling umum setelah melahirkan. Hal ini terjadi akibat penurunan estrogen dan dehidrasi yang dipicu hormon stres (kortisol).
Kondisi ini juga bisa memicu eksim, terutama bagi yang sebelumnya memiliki riwayat.
“Eksim sangat umum terjadi pada periode postpartum karena perubahan hormon dan cairan tubuh. Oleh karena itu, penggunaan pelembap setiap hari sangat penting,” kata Marano.
2. Jerawat muncul kembali
Perubahan hormon dan tingginya kadar kortisol dapat memicu munculnya jerawat. Meski selama kehamilan kulit tampak lebih cerah, kondisi ini bisa berubah setelah melahirkan.
Marano menyarankan membersihkan wajah dua kali sehari dengan pembersih lembut. Ia juga menekankan pentingnya konsultasi dokter sebelum menggunakan obat tertentu, terutama bagi ibu menyusui.
Baca juga: Bukan Cuma Hormon, Ini 6 Penyebab Perempuan Sering Merasa Lelah
Menurut dokter, selepas melahirkan, nyeri haid bisa berkurang atau tidak ada sama sekali.
3. Munculnya skin tag dan cherry angioma
Skin tag adalah benjolan kecil yang tidak berbahaya dan biasanya muncul di area lipatan kulit seperti leher atau ketiak. Sementara cherry angioma adalah bintik merah kecil akibat pembuluh darah.
Keduanya umum terjadi selama kehamilan dan bisa tetap ada setelah melahirkan. Meski tidak berbahaya, kondisi ini bisa dihilangkan jika mengganggu penampilan.
Baca juga: Sering Pegal Saat Hamil, Bolehkah Dipijat? Ini Penjelasan Dokter
4. Melasma atau flek hitam
Melasma ditandai dengan munculnya bercak gelap di wajah, seperti pipi, hidung, dan dagu. Kondisi ini dipicu oleh perubahan hormon dan bisa bertahan hingga lama setelah melahirkan.
Paparan sinar matahari dapat memperparah kondisi ini, sehingga penggunaan tabir surya menjadi sangat penting.
5. Keringat berlebih dan ruam panas
Banyak ibu mengalami keringat berlebih, terutama di malam hari. Kondisi ini dipicu oleh penurunan estrogen yang menyebabkan sensasi mirip hot flashes.
“Keringat berlebih dan ruam panas biasanya berkaitan dengan penurunan estrogen. Ruam terjadi karena keringat dapat menjadi iritan bagi kulit,” jelas Marano.
Baca juga: Cerita Diana Mengidap PCOS, Terkejut karena Bisa Hamil
6. Kulit menipis dan lebih sensitif
Penurunan estrogen juga menyebabkan produksi kolagen berkurang. Akibatnya, kulit menjadi lebih tipis, mudah iritasi, dan sensitif terhadap produk perawatan yang sebelumnya aman.
7. Stretch mark dan ruam PUPPP
Stretch mark sering muncul di perut, paha, atau payudara. Selain itu, beberapa ibu juga bisa mengalami PUPPP, yaitu ruam merah yang terasa sangat gatal.
“PUPPP merupakan reaksi hipersensitivitas akibat perubahan cairan tubuh dan pembengkakan, yang bisa terjadi selama atau setelah kehamilan,” tambah dia.
Baca juga: Apakah Stretch Mark di Paha Bisa Hilang?
8. Perubahan pada puting dan areola
Area puting dan areola menjadi lebih sensitif setelah melahirkan, terutama bagi ibu menyusui.
Gesekan, kelembapan, dan hormon dapat menyebabkan iritasi, kering, bahkan luka.
9. Mati rasa atau kesemutan
Meski jarang, beberapa ibu mengalami sensasi kesemutan atau mati rasa di area tertentu seperti paha atau perut.
Kondisi ini biasanya disebabkan oleh tekanan saraf saat persalinan dan akan membaik seiring waktu.
Baca juga: Penyebab Rambut Rontok Parah Setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya
10. Rambut rontok berlebihan
Rambut rontok setelah melahirkan sering mengejutkan banyak ibu. Kondisi ini biasanya terjadi 2–4 bulan setelah persalinan akibat perubahan hormon dan stres fisik.
“Kerontokan rambut terjadi sebagai respons ‘fight or flight’ tubuh setelah melahirkan. Kondisi ini biasanya berlangsung 6 hingga 12 minggu,” tandas Marano.
Perubahan kulit setelah melahirkan adalah hal yang normal dan dialami banyak perempuan.
Meski demikian, penting untuk tetap memperhatikan kondisi kulit dan berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala yang mengganggu atau tidak membaik.
Baca juga: Rutinitas Mandi 10 Menit Bikin Rileks Ibu yang Baru Melahirkan