Ingin Kembali Berteman dengan Mantan Kekasih, Wajarkah?
Ilustrasi berteman dengan mantan.(Dok. Unsplash/Brooke Cagle)
19:20
20 April 2026

Ingin Kembali Berteman dengan Mantan Kekasih, Wajarkah?

- Putus hubungan bukan hanya soal mengakhiri status sebagai pasangan, tetapi juga kehilangan seseorang yang dulu sangat dekat secara emosional.  Meski sudah tak berstatus kekasih, apakah mungkin kita tetap berteman dengan mantan?

Jawabannya tidak selalu sederhana. Beberapa orang berhasil menjalin hubungan pertemanan yang sehat setelah putus, sementara yang lain justru merasa semakin terluka. 

Ada beberapa faktor penting yang menentukan apakah hal ini bisa berhasil atau tidak.

Baca juga: Perasaan Rindu Setelah Putus Ternyata Bukan Buat Mantan, Ini Penjelasan Psikolog

Apakah seseorang bisa kembali berteman dengan mantan kekasih?

Seberapa serius hubungan sebelumnya?

Tingkat kedalaman hubungan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemungkinan tetap berteman. Hubungan yang singkat dan kasual umumnya lebih mudah bertransisi menjadi pertemanan.

Penulis buku tentang hubungan ‘Millennial Love’, Olivia Petter mengatakan, beberapa hubungan singkat justru bisa berkembang menjadi persahabatan tanpa beban emosional.

“Ada satu atau dua hubungan singkat yang pernah saya jalani dan kemudian berkembang menjadi persahabatan,” ujarnya, seperti dikutip dari BBC, Senin (20/4/2026).

Namun, hal ini berbeda dengan hubungan yang serius. Ketika banyak kenangan, komitmen, dan keterlibatan emosional yang kuat, proses untuk kembali menjadi teman biasa cenderung lebih rumit.

“Hubungan kasual biasanya memiliki lebih sedikit hal rumit untuk diurai, sehingga lebih mudah beralih menjadi pertemanan,” jelas pelatih hubungan Kate Mansfield.

Baca juga: 5 Zodiak yang Cenderung Tak Cut Off Mantan Sepenuhnya, Ada Aquarius

Ilustrasi zodiak paling green flag.Shutterstocks Ilustrasi zodiak paling green flag.

Apakah perasaan sudah benar-benar selesai?

Salah satu kunci utama adalah apakah kedua pihak sudah benar-benar move on secara emosional.  Bukan sekadar tidak lagi berstatus sebagai pasangan, tetapi juga tidak lagi memiliki harapan romantis.

“Kamu perlu benar-benar memproses perpisahan, bukan hanya secara praktis, tetapi juga secara emosional,” ungkap Mansfield.

Ia juga menekankan pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri. Jika seseorang masih berharap mantan akan berubah pikiran atau ingin tetap dekat untuk memantau kehidupan cintanya, maka itu bukanlah pertemanan yang sehat.

Baca juga: Ingin Rujuk, Ini Cara Meyakinkan Diri Pasangan Tak Mengulangi Kesalahan

“Jika kamu masih berharap mereka akan kembali, itu bukan pertemanan, melainkan keterikatan yang terselubung,” terangnya.

Selain itu, penting juga mempertimbangkan apakah ada kesamaan minat di luar hubungan romantis. Tanpa fondasi tersebut, hubungan pertemanan akan sulit bertahan.

Seberapa banyak waktu yang diberikan untuk jeda?

Banyak orang mencoba langsung berteman setelah putus, padahal jeda waktu sangat penting untuk memulihkan emosi. 

Memberi ruang dapat membantu kedua pihak memahami perasaan masing-masing dan menerima kenyataan bahwa hubungan telah berakhir.

Baca juga: Punya Sahabat yang Baik Bisa Bikin Umur Lebih Panjang

“Penting untuk memiliki waktu jeda dan mengambil jarak untuk refleksi,” kata Petter.

Namun, pengalaman setiap orang bisa berbeda. Komedian sekaligus penulis buku ‘The Breakup Monologues’, Rosie Wilby mengaku tetap dekat dengan mantannya meski hanya sempat berhenti berkomunikasi selama beberapa minggu.

Kini, setelah puluhan tahun, hubungan tersebut berubah menjadi seperti keluarga. 

“Dia terasa seperti saudara bagi saya sekarang,” ujar Wilby.

Meski demikian, para ahli sepakat bahwa jeda tetap dibutuhkan, meski durasinya bisa berbeda-beda tergantung kondisi hubungan.

Baca juga: 100 Kata-Kata untuk Sahabat Tersayang yang Tulus, Bikin Persahabatan Makin Hangat

Bagaimana jika sudah memiliki pasangan baru?

Faktor lain yang tak kalah penting adalah bagaimana hubungan dengan pasangan baru. 

Menjaga pertemanan dengan mantan bisa menjadi sensitif, terutama jika pasangan merasa tidak nyaman. Mansfield menegaskan pentingnya komunikasi terbuka dalam situasi ini. 

“Jika pasangan baru merasa tidak nyaman, penting untuk mempertimbangkan kekhawatiran mereka dengan serius,” ujarnya.

Ia juga menyarankan untuk menetapkan batasan dalam pertemanan, seperti mengurangi frekuensi komunikasi atau lebih sering bertemu dalam kelompok.

Hal ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan dalam hubungan baru sekaligus tetap menghormati masa lalu.

Baca juga: Korban Ghosting Lebih Sulit Move On, Ini Penyebabnya

Kapan sebaiknya tidak berteman dengan mantan?

Tidak semua hubungan bisa berakhir dengan pertemanan. Dalam beberapa kasus, menjaga jarak justru menjadi pilihan yang lebih sehat.

Misalnya, jika hubungan sebelumnya bersifat toksik, melibatkan kekerasan, atau ada kepercayaan yang rusak, maka berteman kembali dapat memperburuk kondisi emosional.

“Kadang-kadang, hal paling baik yang bisa dilakukan adalah menerima bahwa hubungan itu telah berakhir,” pungkas Mansfield.

Petter juga mengakui, ia hanya memutuskan kontak sepenuhnya dengan mantan yang memberikan dampak negatif dalam hidupnya.

Baca juga: 5 Zodiak yang Nggak Suka Dendam, Lebih Pilih Move On daripada Menyimpan Marah

Tag:  #ingin #kembali #berteman #dengan #mantan #kekasih #wajarkah

KOMENTAR