Solusi Berobat Praktis bagi Karyawan dengan Mobilitas Tinggi
ilustrasi sakit. Mengapa Laki-laki Kalau Demam Seperti Mau Meninggal dan Penuh Drama? Ini Alasan Ilmiahnya(Freepik/Partystock)
08:40
28 April 2026

Solusi Berobat Praktis bagi Karyawan dengan Mobilitas Tinggi

- Lebih dari 69 persen populasi Indonesia berada di usia produktif. Hal ini menjadikan kesehatan karyawan sebagai aset strategis yang memengaruhi produktivitas dan daya saing bisnis.

Chief Human Capital Halodoc Thomas Purnawan Suhardja mengatakan, mendefinisikan ulang makna produktivitas yang sehat di tempat kerja menjadi langkah awal yang penting.

"Kalau kita bicara produktivitas, kita bicara bukan hanya pekerjaan, bukan hanya job desc, bukan hanya tugas yang harus diselesaikan, tetapi bagaimana seseorang bisa berkontribusi secara maksimal," tutur dia dalam konferensi pers Halodoc Indonesia Health Insigghts Q2 2026 Industry Report d Jakarta, Senin (27/4/2026).

Baca juga: IV Drip Tak Hanya untuk Orang Sakit, Ini Panduan Aman Penggunaannya

Thomas melanjutkan, tugas praktisi HR bukan hanya merekrut dan mengelola, tapi memastikan setiap karyawan punya fondasi yang kuat untuk berkembang, dan menjaga kesehatan dengan baik, baik itu fisik maupun mental.” 

Kesejahteraan emosional dan mental pekerja terbukti menjadi pilar utama yang menentukan kelancaran operasional harian perusahaan.

"Jadi, kondisi fisik dan mental buat HR itu sangat penting," tutur dia.

Menjaga kualitas dan kesejahteraan hidup pekerja

Kesadaran akan pentingnya kesehatan ini sejalan dengan upaya membangun lingkungan kerja yang kondusif. Di sisi lain, perusahaan menghadapi tantangan pembiayaan medis yang terus melonjak setiap tahunnya.

Baca juga: Cak Imin Sebut Biaya Kesehatan Nasional Didominasi Pengobatan

Chief Human Capital Halodoc Thomas Purnawan Suhardja dalam konferensi pers Halodoc Indonesia Health Insigghts Q2 2026 Industry Report di Jakarta, Senin (27/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Chief Human Capital Halodoc Thomas Purnawan Suhardja dalam konferensi pers Halodoc Indonesia Health Insigghts Q2 2026 Industry Report di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Salah satu jalan keluar terbaik adalah mencari titik tengah antara penyediaan layanan yang berkualitas dan anggaran yang terukur.

Menurut dia, tujuan akhirnya adalah memberikan perlindungan maksimal tanpa membebani arus kas asuransi kesehatan perusahaan.

"Mencari yang biayanya affordable dan mencari yang dampaknya itu maksimal, itu menjadi target dari semua perusahaan," kata Thomas.

Baca juga: Dunia Usaha Diajak Aktif dalam Pencegahan Penyakit Demam Dengue

Layanan medis digital di lingkungan kerja

Kemajuan gaya hidup digital memunculkan inovasi Digital Cashless Outpatient (DCO) sebagai alternatif pemulihan kesehatan para karyawan.

DCO adalah layanan B2B yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan, untuk bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan digital seperti Halodoc.

Fasilitas telekonsultasi ini memberikan keleluasaan bagi pekerja untuk mencari bantuan medis tanpa terikat waktu operasional klinik konvensional. Ditambah lagi, pekerja bisa berkonsultasi dan menebus obat secara gratis berkat kerja sama B2B itu.

"Dampaknya sebetulnya adalah bahwa karyawan bisa mengakses layanan digital itu kapan saja," kata Thomas.

Indonesia Health Insights juga mengungkap bahwa sebagian besar keluhan medis yang bersifat umum dapat ditangani secara digital tanpa tatap muka, sehingga kunjungan fisik hanya menjadi tujuan untuk kondisi yang benar-benar membutuhkan tindakan fisik lanjutan dengan tenaga medis. 

Baca juga: Jangan Ubah Dosis Obat Diabetes Saat Puasa Tanpa Konsultasi Dokter

Head of Business Strategy Halodoc Puspa Angelia dalam konferensi pers Halodoc Indonesia Health Insigghts Q2 2026 Industry Report di Jakarta, Senin (27/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Head of Business Strategy Halodoc Puspa Angelia dalam konferensi pers Halodoc Indonesia Health Insigghts Q2 2026 Industry Report di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Menghabiskan waktu berjam-jam di ruang tunggu rumah sakit kerap menguras tenaga pekerja yang sedang sakit. Tak jarang pasien memilih menunda berobat karena tak punya waktu sehingga penyakitnya bertambah parah.

"Kalau sakitnya lebih parah, biayanya tambah mahal," ujar Thomas.

Dengan integrasi layanan dari gawai, masa pemulihan dan istirahat dapat dimulai lebih cepat. Izin sakit yang terbuang untuk mengantre di fasilitas kesehatan, kini bisa dimanfaatkan untuk beristirahat penuh seharian.

Baca juga: Saatnya Stop Overthinking Sebelum Merusak Kesehatan

Efisiensi biaya klaim rawat jalan

Pemanfaatan teknologi juga menyelamatkan anggaran pemeliharaan kesehatan karyawan.

Berdasarkan data dari Halodoc, telekonsultasi mereduksi biaya klaim rawat jalan dalam persentase yang sangat signifikan dibandingkan perawatan konvensional.

"DCO ini bisa menekan biaya kesehatan per pasien 54-70 persen per klaim rawat jalan," kata Head of Business Strategy Halodoc Puspa Angelia.

Jika dibandingkan dengan biaya kunjungan tatap muka di kota besar, selisih pengeluaran tampak sangat mencolok. Penyakit ringan harian yang tadinya menelan dana cukup besar, kini bisa diselesaikan dengan anggaran yang jauh lebih minim.

"Itu kalau kita sakit flu misalnya atau ISPA, itu kita akan mengeluarkan biaya rata-rata 700 ribu, bahkan ada yang mencapai 1 juta rupiah," kata Puspa.

Efisiensi  ini juga memberikan ketenangan bagi karyawan. Pekerja tidak perlu cemas jatah asuransinya terkuras hanya untuk sekadar menebus obat batuk atau pilek rutin.

Baca juga: Apakah Harus Minum Antibiotik Saat Batuk Pilek? Ini Penjelasan Dokter

Tag:  #solusi #berobat #praktis #bagi #karyawan #dengan #mobilitas #tinggi

KOMENTAR