Cara ASN Perempuan Memisahkan Urusan Rumah dan Kantor saat WFH, Ini Cerita Mereka
Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kerap dianggap memberi fleksibilitas lebih bagi pekerja.
Namun, bagi sebagian ibu pekerja termasuk aparatur sipil negara (ASN), WFH justru menghadirkan tantangan baru: batas antara urusan rumah dan pekerjaan kantor yang semakin tipis.
Di ruang yang sama, peran sebagai pekerja dan pengelola rumah tangga kerap berjalan bersamaan. Lalu, bagaimana para ibu ASN menyiasati situasi ini agar keduanya tetap berjalan?
Kali ini, Kompas.com berbincang dengan tiga perempuan yang berprofesi sebagai ASN sekaligus ibu rumah tangga.
Menyelesaikan urusan rumah lebih dulu
Bagi sebagian ibu, kunci utama menjaga batas adalah mengatur urutan prioritas sejak pagi. Rahmi (39), seorang ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengaku selalu menuntaskan pekerjaan domestik sebelum mulai bekerja.
Ia biasanya menyiapkan kebutuhan anak-anak sekolah dan memasak terlebih dahulu, baru kemudian mengikuti rapat daring sekitar pukul 08.00 atau 09.00.
“Kalau pekerjaan rumah sudah selesai, jadi lebih fokus saat mulai kerja,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Strategi ini membantunya menciptakan transisi yang jelas antara peran di rumah dan peran profesional, meskipun dilakukan di tempat yang sama.
WFH membuat batas kerja dan urusan rumah makin tipis. Tiga ibu ASN punya cara sendiri menyiasatinya, dari atur waktu hingga tahan distraksi.
Mengandalkan dukungan di rumah
Selain pengaturan waktu, dukungan di rumah juga berperan penting. Rahmi mengaku terbantu dengan kehadiran asisten rumah tangga, sehingga pekerjaan domestik tidak sepenuhnya ia tangani sendiri saat jam kerja berlangsung.
Dengan demikian, ia dapat menjaga agar pekerjaan kantor tidak terlalu bercampur dengan urusan rumah.
Namun, tidak semua ibu memiliki kondisi serupa. Bagi yang harus mengerjakan semuanya sendiri, batas tersebut menjadi lebih sulit dijaga.
Baca juga: WFH Jumat: Peluang Slow Living atau Beban Baru bagi ASN? Ini Kata Mereka yang Menjalani
Fleksibilitas yang tidak selalu mudah
Arisha (31), ASN di kementerian pusat dengan dua anak balita, merasakan langsung tantangan membagi fokus saat WFH.
Ia kerap harus menjalankan beberapa hal sekaligus, seperti mengikuti rapat sambil mengawasi anak atau menyelesaikan pekerjaan di sela aktivitas rumah.
“Kadang Zoom sambil jaga anak-anak, atau upload kerjaan sambil nunggu masakan,” ungkapnya.
Meski demikian, ia berusaha tetap membuat batas dengan cara menunda pekerjaan domestik saat jam kerja, lalu menyelesaikannya setelah tugas kantor lebih terkendali.
Menurutnya, fleksibilitas WFH tetap bisa dimanfaatkan, asalkan ada kesadaran untuk mengatur prioritas.
Distraksi yang sulit dihindari
Sementara itu, Farika Maula (31), dosen di Yogyakarta, menyoroti tantangan lain: distraksi dari lingkungan rumah itu sendiri.
Bukan hanya urusan anak, tetapi juga pekerjaan domestik yang selalu ada.
Ia mengakui, bekerja di rumah kerap membuat ritme kerja menjadi tidak konsisten. Niat untuk mulai bekerja di pagi hari bisa tertunda karena tergoda mengerjakan hal lain.
“Padahal niatnya kerja, tapi ternyata bekerja di dalam rumah tidak selalu kondusif,” ujarnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa memisahkan pekerjaan dan urusan rumah bukan hanya soal waktu, tetapi juga tantangan untuk menjaga fokus.
Antara efisiensi dan peluang konsumtif
Farika juga mengaku tidak merasakan perubahan signifikan dari sisi pengeluaran rumah tangga saat WFH. Namun, ia menyadari adanya pergeseran kebiasaan.
“Katanya WFH untuk menghemat energi, tapi di rumah malah jadi sering jajan pesan makanan online. Jadinya bukan hemat, malah tambah sampah,” ungkapnya.
Ketika waktu memasak terasa terbatas atau energi terkuras oleh pekerjaan dan urusan domestik, layanan pesan-antar terkadang menjadi solusi instan yang sulit ditolak.
Baca juga: Suka Duka WFH Jumat, ASN Cemas Dianggap Mangkir Kerja
Jam kerja yang kian kabur
Tantangan lain yang dirasakan para ibu ASN adalah jam kerja yang menjadi lebih panjang. Tanpa batas fisik seperti di kantor, pekerjaan kerap berlanjut hingga sore bahkan malam hari.
Arisha mengaku masih sering merespons pesan atau panggilan pekerjaan di luar jam kerja. Hal serupa juga dirasakan ASN Rahmi yang menyebut koordinasi dengan atasan justru lebih intens saat WFH.
Akibatnya, meski berada di rumah, waktu untuk benar-benar beristirahat terkadang berkurang.
Pada akhirnya, keberhasilan memisahkan kedua peran tersebut sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu, termasuk usia anak, beban kerja, dan dukungan yang tersedia.
WFH memang menawarkan fleksibilitas, tetapi tanpa pengelolaan yang baik, fleksibilitas tersebut justru dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.
Tag: #cara #perempuan #memisahkan #urusan #rumah #kantor #saat #cerita #mereka