WFH Jumat untuk ASN, Antara Fleksibilitas dan Beban Baru di Rumah
Ilustrasi WFH, work from home. Sosiolog UI menilai WFH Jumat untuk ASN belum tentu berdampak besar pada keseimbangan kerja, terutama jika tidak disertai budaya kerja yang jelas.(Google Gemini AI)
16:05
7 Mei 2026

WFH Jumat untuk ASN, Antara Fleksibilitas dan Beban Baru di Rumah

Wacana Work from Home (WFH) hari Jumat untuk aparatur sipil negara atau ASN memunculkan harapan soal kerja yang lebih fleksibel, tetapi dampaknya dinilai belum tentu besar terhadap keseimbangan hidup pekerja.

Bagi sebagian pekerja muda, WFH Jumat bisa terdengar seperti ruang untuk bekerja lebih tenang tanpa perjalanan komuter dan ritme kantor yang padat.

Namun, bagi pekerja yang juga memikul urusan domestik, bekerja dari rumah dapat membuat batas antara pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah menjadi lebih kabur.

Sosiolog Universitas Indonesia (FISIP UI), Dr. Ida Ruwaida, M.Si., menilai WFH Jumat tidak akan banyak mengubah pola relasi kerja maupun pembagian peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga.

“Jika Jumat WFH hanya diberlakukan kepada ASN, menurut saya tidak terlalu berdampak karena persentase jumlah ASN kementerian atau lembaga negara di Jakarta khususnya relatif sedikit,” kata Ida saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/5/2026).

Baca juga: WFH Setiap Jumat Berisiko Sebabkan ASN Gen Z Merasa Kesepian, Psikolog Bagikan Tips Mengatasinya

Jumat sudah relatif lebih santai

Ida menjelaskan, sebelum wacana WFH ditetapkan, Jumat bagi sebagian ASN sudah dikenal sebagai hari yang relatif lebih santai.

Ada instansi yang mengisi Jumat dengan kegiatan krida, olahraga, pengajian, atau kegiatan lain.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan Jumat dipilih sebagai hari WFH.

“Bagi ASN, sebelum ditetapkan kebijakan WFH, Jumat adalah hari krida, hari relatif lebih santai,” ujar Ida.

Menurut Ida, karena konteks Jumat sudah berbeda dari hari kerja lain, kebijakan WFH pada hari tersebut kecil kemungkinan memicu perubahan besar.

Dampaknya juga dinilai tidak besar terhadap pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, apalagi ada instansi pemerintah yang mayoritas pegawainya perempuan.

Baca juga: Cerita Wildan Tetap Produktif Selama Jalani WFH sebagai ASN Gen Z

Ibu bekerja bisa merasa lebih terbebani

Ilustrasi WFH, work from home. Sosiolog UI menilai WFH Jumat untuk ASN belum tentu berdampak besar pada keseimbangan kerja, terutama jika tidak disertai budaya kerja yang jelas.Google Gemini AI Ilustrasi WFH, work from home. Sosiolog UI menilai WFH Jumat untuk ASN belum tentu berdampak besar pada keseimbangan kerja, terutama jika tidak disertai budaya kerja yang jelas.

Meski dampak besar dinilai kecil, Ida tidak menutup kemungkinan ada perempuan ASN yang merasa lebih terbebani ketika bekerja dari rumah.

Pengalaman ini pernah terasa pada masa pandemi Covid-19, ketika banyak pekerja harus menjalankan pekerjaan kantor sekaligus urusan domestik dari rumah.

“Mungkin dengan WFH, dimungkinkan ada perempuan-perempuan ASN yang merasa lebih terbebani sebagaimana masa Covid-19,” kata Ida.

Namun, Ida menekankan konteks saat ini berbeda karena WFH hanya satu hari dan dilakukan pada Jumat, yang kerap dipandang sebagai hari kerja lebih pendek.

Dengan kondisi itu, peluang WFH Jumat mengubah pembagian kerja dan pola relasi laki-laki serta perempuan dinilai kecil.

“Apalagi pada kalangan generasi muda, di perkotaan khususnya, mulai terbangun pemahaman tentang isu gender,” ujar Ida.

Baca juga: Tips bagi Ibu Bekerja WFH agar Tidak Cepat Burnout

Fleksibilitas belum tentu berarti efisiensi

WFH Jumat juga kerap dikaitkan dengan efisiensi, baik dari sisi energi, waktu, maupun biaya kerja. Namun, Ida menilai efisiensi tidak bisa dilihat hanya dari kebijakan bekerja dari rumah.

Menurut dia, ada faktor lain yang perlu diperhatikan, termasuk gaya hidup pekerja.

“Sebab itu WFH Jumat tidak akan berdampak besar, apalagi mampu mengefisienkan anggaran, karena faktor lain yang perlu dilihat adalah kaitannya dengan gaya hidup,” kata Ida.

Dalam konteks pekerja muda, fleksibilitas kerja bisa dimaknai sebagai kesempatan mengatur suasana kerja sendiri.

Namun, bila bekerja dari rumah bergeser menjadi bekerja dari kafe atau tempat lain demi suasana tertentu, potensi penghematan bisa berkurang.

Baca juga: Cara ASN Perempuan Memisahkan Urusan Rumah dan Kantor saat WFH, Ini Cerita Mereka

Jika sekolah ikut PJJ, dampaknya bisa terasa

Ida mengatakan, dampak WFH Jumat mungkin sedikit terasa jika sekolah juga menerapkan pembelajaran jarak jauh atau PJJ pada hari yang sama.

Namun, pengaruh itu terutama akan dirasakan oleh orangtua yang berstatus ASN.

“Kalau sekolah-sekolah juga di-PJJ-kan pada hari Jumat, mungkin ada sedikit pengaruhnya, itu pun untuk orangtua yang ASN,” ujar Ida.

Ia mengingatkan, kebijakan seperti ini bisa tidak efektif jika Jumat, Sabtu, dan Minggu dimaknai sebagai akhir pekan panjang.

Jika itu terjadi, WFH Jumat tidak akan banyak membantu efisiensi atau mendorong perubahan tatanan dan pola relasi dalam keluarga maupun masyarakat.

Butuh budaya kerja yang jelas

Ida menilai pengalaman pandemi menunjukkan bahwa WFH dan PJJ lebih sering dipahami sebagai kondisi darurat, bukan sebagai dasar membangun kultur kerja baru.

“Fakta bahwa akan terbangun realitas baru pada masa Covid-19, ternyata kini kembali ke era lama karena kebijakan WFH maupun PJJ dimaknai sebagai kondisi darurat, bukan untuk membangun kultur baru,” kata Ida.

Karena itu, WFH Jumat tidak cukup hanya dilihat sebagai pemindahan lokasi kerja dari kantor ke rumah.

Tanpa batas komunikasi, pembagian peran yang adil, dan pemahaman bersama tentang jam kerja, WFH Jumat berisiko hanya menjadi harapan kerja yang lebih tenang, bukan perubahan nyata dalam keseimbangan hidup pekerja.

Baca juga: Tantangan WFH bagi ASN Perempuan, Bagaimana Membagi Waktu Kerja dan Urusan Rumah?

Tag:  #jumat #untuk #antara #fleksibilitas #beban #baru #rumah

KOMENTAR