CottonInk Archipelago Ramu Wastra Nusantara Jadi Ready-to-Wear Modern
Koleksi Cita Senada dari lini CottonInk Archipelago yang ditampilkan pada pertunjukan Pasar Sukaria di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05)()
18:10
24 Mei 2026

CottonInk Archipelago Ramu Wastra Nusantara Jadi Ready-to-Wear Modern


- Melangkah masuk ke panggung runway untuk koleksi bertajuk Cita Senada dari lini CottonInk Archipelago tak ubahnya menjejaki pasar di hari Minggu pagi lengkap dengan jajanan tradisional, jamu, sayur-mayur, dan alunan musik yang membangkitkan rasa hangat.

Alih-alih menghadirkan suasana runway yang dingin dan berjarak, CottonInk justru membangun atmosfer hangat yang dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

Pertunjukan bertajuk “Pasar Sukaria” itu dibuka dengan penampilan tari tradisional kontemporer dari Omah Wulangreh.

Para penari bergerak selaras mengikuti irama musik Jawa modern, menjadi pembuka yang tepat untuk audiens membaca ke mana arah koleksi CottonInk Archipelago kali ini, yakni kekinian, tetapi tetap berpijak pada identitas lokal.

Baca juga: Cottonink Perkenalkan Koleksi Fall/Winter Lewat Cottonink City Guide

CEO and Creative Director CottonInk, Carline Darjanto, mengatakan koleksi “Cita Senada” menjadi semacam perjalanan pulang bagi lini Archipelago.

“Ini kayak semacam homage atau istilahnya kita kayak homecoming kembali ke koleksi itu,” ujar Carline saat ditemui usai pertunjukan di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05).

Carline menjelaskan, CottonInk Archipelago sebenarnya sudah hadir sejak 2012 dan sempat menampilkan koleksi bernuansa serupa di Jakarta Fashion Week 2014.

Namun, lini tersebut kembali dihidupkan pada 2024 karena melihat kebutuhan konsumen terhadap pakaian bergaya Indonesia yang tetap modern dan nyaman dikenakan sehari-hari.

Customer kami membutuhkan opsi pakaian Indonesia tapi yang modern, yang bisa dipakai ke kantor ataupun bisa dipakai ke acara-acara gitu, casual, nyaman dipakai,” lanjut Carline.

Baca juga: Koleksi Teranyar CottonInk x Nada Puspita Terinspirasi Keindahan Pesisir Liguria

Permainan Tekstur dan Motif Jadi Pusat Perhatian

Koleksi Cita Senada dari lini CottonInk Archipelago yang ditampilkan pada pertunjukan Pasar Sukaria di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05) Koleksi Cita Senada dari lini CottonInk Archipelago yang ditampilkan pada pertunjukan Pasar Sukaria di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05)Jika diperhatikan sekilas, siluet koleksi “Cita Senada” cenderung sederhana. Tidak banyak potongan dramatis atau struktur rumit yang mendominasi runway. Akan tetapi, di situ lah letak daya tariknya.

CottonInk Archipelago menempatkan permainan tekstur, weaving, embroidery, dan motif sebagai pusat perhatian utama. Motif wajik yang terinspirasi dari tenun Jepara diolah dalam berbagai bentuk, mulai dari kain lilit, luaran, kemeja, hingga kebaya modern.

Carline Darjanto (kiri) dan Ria Sarwono (kanan) dalam acara pertunjukan Pasar Sukaria di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05) Carline Darjanto (kiri) dan Ria Sarwono (kanan) dalam acara pertunjukan Pasar Sukaria di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05)Brand and Marketing Director CottonInk, Ria Sarwono, mengatakan pendekatan desain seperti ini memang sudah menjadi identitas CottonInk sejak awal.

“Kita tuh pengin bajunya dipakai lama, timeless, dan orang tuh enggak perlu mikir,” ujar Ria di kesempatan yang sama.

Baca juga: Promo Harbolnas dari 4 Brand Baru COTTONINK, Mau?

Sentuhan merah di antara krim dan biru

Ia menambahkan, karakter ready-to-wear tetap dipertahankan, meski koleksi kali ini banyak mengadopsi elemen Nusantara.

“Bentuknya dalam CottonInk Archipelago yang kita infuse kain-kain Nusantara dan segala macam,” katanya.

Nuansa warna koleksi juga terasa konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Palet krim dan berbagai gradasi biru mendominasi runway, menghadirkan kesan seperti hamparan laut yang tenang.

Di tengah dominasi warna dingin tersebut, tiba-tiba muncul tampilan berwarna merah terang yang langsung mencuri perhatian audiens. Kehadiran warna merah itu terasa kontras, sekaligus menyegarkan di tengah “lautan” biru dan putih.

Baca juga: Busana Muslim Penuh Warna, Kolaborasi Cottonink dan Ria Miranda

Carline mengaku penyisipan warna merah itu memang disengaja untuk membangkitkan energi koleksi.

Strategi tersebut mengingatkan pada pendekatan rumah mode legendaris Christian Dior yang dikenal kerap menempatkan gaun merah terang di tengah koleksinya demi “membangunkan” mata audiens.

“Merah itu kan sebetulnya melambangkan Indonesia sekali,” ujar Carline.

“Dengan iklim global yang lagi tidak enak gitu, semoga kita punya satu koleksi yang membuat kita semangat, bahagia,” lanjutnya.

Baca juga: COTTONINK Jawab Kebutuhan Ibu-Anak Kembaran Baju

Pasar Tradisional yang Diterjemahkan dalam Format Modern

Koleksi Cita Senada dari lini CottonInk Archipelago yang ditampilkan pada pertunjukan Pasar Sukaria di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05) Koleksi Cita Senada dari lini CottonInk Archipelago yang ditampilkan pada pertunjukan Pasar Sukaria di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (22/05)Pasar tradisional yang menjadi latar belakang runway, berusaha diterjemahkan oleh CottonInk melalui pengalaman emosional dalam keseluruhan pertunjukan.

Mulai dari musik latar, instalasi sayuran asli, kudapan pasar, sampai jamu tradisional, semuanya dirancang untuk membangkitkan rasa nostalgia. Suasana itu terasa akrab bagi banyak tamu yang datang.

Menurut Ria, tema “Pasar Sukaria” dipilih karena pasar merupakan ruang interaksi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

“Pasar tuh tempat orang berinteraksi, tempat orang ketemuan, transaksi dan segala macam,” ujar Ria.

Baca juga: 5 Ide Mix and Match Batik untuk Ngantor Ala Dave Tjoa

Menikmati tradisi tanpa konsep digital

Ia juga mengaku ingin mengingatkan audiens bahwa pengalaman berbelanja dan menikmati tradisi tidak semuanya harus berlangsung secara digital.

“Aku tuh selalu suka untuk reminding bahwa sesuatu tuh enggak semuanya (harus dilakukan) online,” pungkas Ria.

Kehangatan itu juga diterjemahkan melalui styling koleksi yang terasa mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tampilan menggunakan teknik layering sederhana, mulai dari tambahan selendang, kain lilit, hingga outer tipis yang membuat satu pakaian tampak berbeda.

Menurut Carline, pendekatan ini sekaligus menjadi cara CottonInk mengajak konsumen untuk bisa lebih mindful dalam berpakaian.

Baca juga: Mengenal Ulos Tumtuman dan Sadum, Dua Wastra dengan Teknik Jungkit

“Kita bisa dress up lebih dengan hanya menambahkan satu-dua hal. Tidak perlu punya 12 baju,” ujar Carline.

Koleksi-koleksi tersebut dirancang agar bisa bertahan lama di lemari dan tetap relevan dipakai dalam berbagai kesempatan.

Selain itu, penggunaan bahan katun membuat keseluruhan koleksi terasa ringan dan nyaman dikenakan di iklim tropis seperti Indonesia. Dengan motif dan tekstur yang sudah cukup ramai, styling sederhana justru membuat koleksi ini lebih menonjol.

Koleksi “Cita Senada” sendiri terdiri dari puluhan item untuk perempuan, laki-laki, dan anak-anak, mulai dari kebaya, kain lilit, hingga kemeja kasual. Seluruh koleksi sudah tersedia secara daring maupun di gerai CottonInk terdekat.

Tag:  #cottonink #archipelago #ramu #wastra #nusantara #jadi #ready #wear #modern

KOMENTAR