Kebiasaan Buka Medsos Larut Malam Berdampak Buruk bagi Otak Remaja
Ilustrasi susah tidur karena main HP. Kebiasaan lama membalas chat ternyata tidak selalu karena sikap cuek, melainkan bisa dipengaruhi kondisi psikologis yang jarang disadari.(Shutterstock)
13:25
31 Mei 2026

Kebiasaan Buka Medsos Larut Malam Berdampak Buruk bagi Otak Remaja

- Remaja masa kini sering terpaku pada layar gawai hingga larut malam. Kebiasaan menggulir layar secara terus-menerus tanpa sadar mengambil waktu istirahat yang penting bagi pertumbuhan.

Remaja seharusnya tidur lelap selama 8-10 jam setiap semalam. Namun, lebih dari separuh remaja di penjuru Amerika Serikat (AS) tercatat menghabiskan waktu hingga sejam lebih hanya untuk memandangi layar antara pukul 22.00-06.00 pada hari sekolah.

Temuan itu berdasarkan studi "Smartphone Use on School Nights in the Adolescent Brain Cognitive Development Study" (2026).

Profesor Madya Pediatri di University of California, San Francisco, terlibat dalam penelitian tersebut, Jason M. Nagata, menambahkan, lebih dari separuh remaja sibuk bermain gawai antara pukul 24.00-04.00.

Baca juga: Scroll Medsos Berlebihan Berpotensi Merusak Kebahagiaan, Ini Kata Psikiater

Kesimpulan ini ditarik melalui data dari Adolescent Brain Cognitive Development Study. Terkait tingginya pemakaian gawai tengah malam tersebut, Profesor Psikiatri dan Perilaku Manusia di Brown University, dr. Mary A. Carskadon turut memberikan peringatan.

“Ini bisa menjadi tantangan bagi remaja untuk mendapatkan tidur yang cukup, dan hal itu berdampak pada perilaku mereka saat siang hari," ujar dia, melansir CNN Health, Minggu (31/5/2026).

Dampak buruk kurang tidur bagi remaja

Kemampuan menyerap berbagai informasi menurun

Carskadon yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut menerangkan, kurangnya jam tidur merugikan usia remaja, yang mana kondisi fisik dan otaknya masih terus berkembang.

Dampak utamanya adalah merosotnya fungsi kognitif yang memicu kesulitan remaja dalam belajar maupun menyerap berbagai informasi harian.

Padahal, salah satu tugas utama remaja adalah belajar, baik itu di sekolah, seputar olahraga, cara berperilaku, hingga bersosialisasi.

Baca juga: Kisah Para Ayah Jadi Pelindung Anak Perempuan di Era Medsos

Regulasi emosi memburuk

Regulasi emosi remaja pun dipastikan ikut memburuk. Eksperimen khusus pada sekelompok remaja berusia 14-17 tahun dalam studi tahun 2013 membuktikan, mereka yang jam tidurnya dipangkas menjadi 6,5 jam saja per malam, langsung merasa lebih cemas, lelah, dan gampang marah.

“Semakin sedikit tidur yang seorang remaja miliki, semakin mudah tersinggung mereka,” ujar Carskadon.

Main HP sebelum tidur.iStockPhoto/bymuratdeniz Main HP sebelum tidur.

Apabila terus diabaikan, berkurangnya waktu tidur juga akan memicu tingginya risiko depresi, kecemasan, bahkan pikiran untuk melukai diri sendiri.

Aplikasi apa yang sering dibuka?

Sebagian besar pemakaian gawai malam hari ini dihabiskan untuk membuka jejaring media sosial dan hiburan seperti YouTube, Instagram, dan TikTok, dengan durasi rata-rata 33 menit.

Dari tiga platform tersebut, hanya YouTube yang merespons temuan ini. Mereka memberikan informasi panduan fitur kontrol orangtua di lamannya untuk menangani masalah tersebut.

Baca juga: Kebiasaan Gen Z Ini Bikin Milenial Stres, dari Komunikasi hingga Medsos

Meski demikian, Carskadon menuturkan, deretan media sosial tersebut tetap sangat merugikan para remaja. Ia menyoroti bahwa aplikasi-aplikasi tersebut menuntut interaksi aktif dari penggunanya, yang pada akhirnya semakin mengganggu kualitas tidur.

“Saat kamu seharusnya tertidur, tingkat kewaspadaan harus menurun, tetapi interaksi semacam itulah yang meningkatkan kewaspadaanmu dan membuatnya lebih sulit untuk tidur,” jelas dia.

Di samping itu, bunyi dering dan kilat cahaya notifikasi gawai turut merusak siklus istirahat.

Melalui analisis lain tahun 2023, 17 persen remaja mengaku terbangun setidaknya sekali semalam akibat pesan singkat, lalu 20 persen dari mereka refleks akan kembali memainkan gawainya.

“Tiba-tiba kamu melihat pesan-pesan ini, dan itu dapat membuat mereka (remaja) aktif kembali dan membuatnya lebih sulit untuk tertidur,” ucap Nagata.

Baca juga: Ahli Ungkap Masalah Tumbuh Kembang Tersering akibat Gawai

Bukan cuma masalah remaja, tapi masalah keluarga

Menghentikan kebiasaan bergadang sembari bermain gawai juga menuntut peran orangtua.

“Saya pikir penting bagi orangtua untuk mencontohkan perilaku pemakaian layar yang sehat,” saran Nagata.

“Kami juga menemukan bahwa salah satu prediktor utama penggunaan gawai remaja sebenarnya adalah penggunaan gawai orangtua mereka," sambung dia.

Keluarga disarankan menyusun jadwal bermain gawai untuk ditaati seluruh penghuni di rumah. Kamu bisa menetapkan area bebas gawai, atau mengalokasikan jam tanpa gawai secara rutin.

Buatlah rutinitas lain di rumah supaya perhatian mereka segera teralihkan.

Semua perangkat elektronik pribadi pun sebaiknya dilarang memasuki area kamar tidur. Kamu bahkan disarankan menyiapkan tempat penyimpanan gawai bersama demi memaksa setiap orang terpisah dari peranti elektroniknya pada saat waktu tidur tiba.

"Ini bukan hanya masalah remaja, ini adalah masalah keluarga," pungkas Carskadon.

Baca juga: Jaga Kesehatan Mental dengan Zona Bebas Gawai di Rumah

Tag:  #kebiasaan #buka #medsos #larut #malam #berdampak #buruk #bagi #otak #remaja

KOMENTAR