Kesenjangan EQ, Salah Satu Alasan Pasangan Sering Berselisih
- Menyampaikan perasaan kepada pasangan seharusnya menjadi cara untuk mempererat hubungan dan membangun pemahaman yang lebih dalam. Namun, tidak semua orang mendapatkan respons yang diharapkan. Ada kalanya curahan hati justru disambut dengan sikap dingin, respons singkat, atau minim empati.
Kondisi ini bisa jadi bukan karena pasangan tidak peduli, melainkan adanya kesenjangan kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) dalam hubungan.
Kesenjangan EQ merujuk pada perbedaan kemampuan dua individu dalam mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi.
Perbedaan tersebut dapat memengaruhi cara pasangan berkomunikasi, merespons konflik, hingga menyelesaikan masalah emosional bersama. Akibatnya, salah satu pihak bisa merasa tidak didengar atau tidak dipahami, meski pasangannya sebenarnya memiliki niat baik.
"Banyak orang berasumsi kesenjangan EQ berarti satu pihak tidak peduli. Itu tidak benar," kata psikolog klinis dan pakar hubungan di Hily Dating App, Sabrina Romanoff, seperti dikutip dari HuffPost, Selasa (2/6/2026).
"Itu berarti mereka tidak pernah diajarkan keterampilannya, dan mereka sering memperlakukanmu seperti mereka diperlakukan saat kecil," lanjutnya.
Baca juga: 4 Kunci Hubungan Langgeng Menurut Studi, Ada Frekuensi Konflik
Memahami kesenjangan emosional dalam hubungan
Tanda-tanda ketidakseimbangan kecerdasan emosional sering muncul dalam momen-momen penuh ketegangan. Saat kamu pulang dengan perasaan kesal, pasangan dengan EQ rendah mungkin langsung memberikan saran teknis yang kurang berempati alih-alih mendengarkan keluh kesah.
Mengenali gejala pasangan dengan EQ rendah
Mereka cenderung meminimalkan perasaan dan menghindari empati. Situasi lain yang sering muncul adalah ketidakmampuan membaca ekspresi.
"Misalnya, satu pihak mungkin merespons dengan kemarahan ketika yang lain mulai menangis, menafsirkan air mata sebagai tekanan untuk memperbaiki perasaan orang lain," jelas terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Angela Sitka.
Bagi pihak dengan EQ rendah, ketegangan emosional yang belum terselesaikan terasa sangat tidak nyaman.
Baca juga: 4 Cara Mengelola Overthinking Menurut Psikolog, Kenali Nama Emosi
Mereka mencoba menghentikannya dengan meminta maaf secara terburu-buru, menutup diri, atau meninggalkan percakapan.
Mereka juga mungkin kesulitan menyadari emosi mereka sendiri, yang kemudian muncul dalam bentuk perilaku pasif-agresif atau nada bicara yang kasar karena kurangnya skill komunikasi yang sehat.
Dampak pada keharmonisan hubungan
Ilustrasi bertengkar.
Jika dibiarkan, perbedaan ini akan memberikan dampak jangka panjang. Saat kedua pasangan memiliki EQ seimbang, mereka bisa tetap hadir secara emosional selama konflik berlangsung.
Sebaliknya, kesenjangan ini akan membuat penyelesaian masalah menjadi buntu.
Baca juga: 4 Tahapan Hubungan Asmara, Kamu dan Pasangan Ada di Fase Mana?
"Bahkan ketidaksepakatan kecil bisa menjadi lingkaran setan dengan satu orang berusaha berkomunikasi secara langsung, sedangkan yang lain sering defensif, menutup diri, atau menjadi pasif," ujar Romanoff.
Sering kali, pihak dengan EQ lebih rendah menganggap upaya pasangan untuk membahas emosi sebagai konflik yang tidak perlu.
Akibatnya, pihak dengan EQ lebih tinggi sering menanggung beban emosional sendirian, memimpin percakapan sulit, dan terus-menerus memastikan perasaan pasangannya.
"Lama-kelamaan kamu beradaptasi dengan pasangan, melepaskan diri dari kebutuhanmu sendiri, dan mulai menekan apa yang kamu sadari tidak akan terpenuhi dalam hubungan. Kamu akan mengecilkan dirimu hanya untuk menjaga keharmonisan," papar Romanoff.
Baca juga: 8 Tanda Pasangan Tak Sepenuhnya Memperjuangkan Hubungan
Cara memperbaiki kesenjangan EQ
Kabar baiknya, kondisi ini bisa diatasi. Langkah pertama adalah mengungkapkan secara spesifik tentang kebutuhanmu. Jangan gunakan kata-kata yang samar agar pasangan paham apa yang harus dilakukan.
"Jauh lebih efektif untuk mendeskripsikan bagaimana kamu ingin didukung, entah itu pasangan mengajukan beberapa pertanyaan tindak lanjut tentang kegiatan hari ini atau hanya menawarkan tangan untuk digenggam," saran Sitka.
Proses ini membutuhkan kesabaran ekstra. Kamu tidak boleh terjebak dalam pemikiran bahwa pasangan harus memahami segalanya tanpa arahan. Pasangan bukanlah cerminan diri yang bisa membaca pikiran.
Baca juga: Mana Lebih Awet, Pasangan yang Bertemu di Aplikasi Kencan atau Dunia Nyata?
"Jika mereka benar-benar ingin memenuhi kebutuhan emosional kita, mereka butuh arahan yang jelas, dan tanggung jawab kita untuk memberi mereka peta jalan tentang cara melakukannya," imbuh dia.
Jika komunikasi mandiri terasa sulit, luangkan waktu untuk melakukan terapi pasangan sehingga bisa mendapatkan umpan balik langsung.
Meski kemajuan tidak terjadi dalam semalam, upaya pasangan untuk mengenali dan mengungkapkan emosi merupakan tanda pertumbuhan yang bermakna.
Jika pasangan tetap bersedia belajar dan berkembang, hubungan tersebut memiliki peluang besar untuk tetap bertahan dan tumbuh lebih kuat.
Baca juga: Hubungan Beda Usia? Ini 5 Tips agar Tetap Langgeng dan Sehat
Tag: #kesenjangan #salah #satu #alasan #pasangan #sering #berselisih