Waspada, 5 Kesalahan Pola Asuh Ini Bisa Membahayakan Anak
Ilustrasi orangtua bersama anak. Psikiater menjelaskan bahwa pola komunikasi dan cara orang tua memperlakukan anak sejak kecil sangat memengaruhi kemampuan anak membangun hubungan yang sehat saat dewasa.(Freepik/Freepik)
13:05
3 Juni 2026

Waspada, 5 Kesalahan Pola Asuh Ini Bisa Membahayakan Anak

- Setiap orangtua pasti ingin anaknya tumbuh sehat hingga dewasa. Namun, tanpa disadari, sebagian orangtua  mungkin justru sering melakukan kebiasaan yang tampak sepele tapi berpotensi membahayakan nyawa anak.

Dokter spesialis anak sekaligus kepala petugas medis di Zarminali Pediatrics, Amanda Furr, kepada The New York Post membeberkan lima kesalahan pengasuhan yang kerap disepelekan, tetapi terbukti memicu berbagai masalah kesehatan kronis, bahkan mengancam nyawa.

Baca juga: Pola Asuh Otoritatif Dinilai Paling Ideal, Begini Cara Menerapkannya pada Anak

Kesalahan pengasuhan yang sebenarnya berbahaya

1. Pemakaian kursi mobil menghadap depan

Banyak orangtua buru-buru memutar posisi kursi mobil anak agar menghadap depan ketika menginjak usia satu tahun.

Meski kakinya tampak kesempitan sebelum car seat diputar menghadap depan, sebaiknya pikir ulang sebelum melakukannya karena jika terjadi benturan anak berpotensi mengalami cedera serius. 

Kursi menghadap belakang terbukti mendistribusikan tenaga benturan ke punggung, kepala, dan leher secara merata.

"Menghadap ke belakang secara drastis lebih aman, dan anak-anak harus tetap menghadap ke belakang selama car seatnya masih memungkinkan,” kata dr. Furr.

Tergantung pada anak dan kursi yang dipakai, langkah ini biasanya dilakukan hingga dua sampai empat tahun, dan terkadang lebih lama.

"Tulang belakang balita masih berkembang, dan tabrakan menghadap ke depan menempatkan tekanan luar biasa pada struktur rapuh tersebut," sambung dia.

Baca juga: Panduan Memilih Child Car Seat untuk Mudik Nyaman dan Aman Keluarga

Ilustrasi car seat(Thinkstockphotos) Ilustrasi car seat

2. Menuruti kebiasaan anak pilih-pilih makanan

Menghadapi anak yang sulit makan memang melelahkan. Namun, kebiasaan menuruti keinginan anak justru membuat anak bisa kekurangan nutrisi yang dibutuhkannya. Kebiasaan makan tersebut juga bisa terbawa sampai anak dewasa.

“Masa balita adalah jendela penting untuk membangun preferensi makanan, keragaman mikrobioma usus, dan pola nutrisi yang dapat bertahan seumur hidup,” jelas dr. Furr.

Otak butuh nutrisi yang tepat, terutama kebutuhan makronutrien seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Batasi asupan gula pada anak agar anak tidak terbiasa mengonsumsi yang manis. Selain itu, anemia karena kekurangan zat besi juga berpengaruh pada kecerdasarannya.

Baca juga: Risiko Anemia pada Anak Bisa Muncul sejak Kehamilan, Waspadai Dampaknya

Untuk menghadapi si kecil yang pemilih, biasakan terus menawarkan pilihan sehat yang beragam.

“Saya merekomendasikan mengenalkan anak pada satu jenis makanan berulang kali jika anak terlihat kurang suka.  Hindari memaksa atau menyogok agar anak makan.  Ingat, butuh 10-15 kali paparan sebelum seorang anak menerima sesuatu yang baru, jadi teruslah menawarkan,” kata dr. Furr.

3. Abai memantau penggunaan media sosial

Berbagai masalah kesehatan mental remaja saat ini juga terkait dengan masifnya penggunaan media sosial. Sebainya anak tidak memiliki media sosial sendiri sampai ia berusia remaja. Orangtua juga perlu melakukan pendampingan agar anak memiliki kebiasaan digital yang baik. 

"Penggunaan media sosial yang berat dikaitkan dengan gangguan tidur, perbandingan sosial, cyberbullying, dan berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk aktivitas yang membangun ketahanan dan persepsi diri yang sehat,” ungkap dr. Furr.

Baca juga: Kenapa Pekerja Muda Rentan Burnout? Psikolog Soroti Tekanan Karier dan Media Sosial

Ilustrasi anak bermain gawai. Freepik. Ilustrasi anak bermain gawai.

4. Jadwal terlalu padat dan kurang bermain

Orangtua kerap memadati keseharian anak dengan kegiatan terstruktur, sehingga waktu bermain menjadi banyak terkorbankan.

Padahal, bermain bebas sangatlah penting untuk pertumbuhan otak yang sehat, pengaturan emosi, perkembangan fisik, dan kesehatan mental jangka panjang.

Bermain juga membantu membangun kreativitas, ketahanan, dan keterampilan manajemen konflik si kecil.

Padatnya jadwal sangat rentan memicu stres kronis layaknya kecemasan, gangguan tidur, gangguan perut, irritable bowel syndrome, dan berisiko memicu penyakit jantung ketika dewasa.

5. Menunda jadwal vaksinasi

Jadwal vaksinasi dirancang untuk memberikan tingkat kekebalan tepat di saat sistem imun anak sangat rentan terhadap infeksi dan komplikasi.

“Menunda atau melewatkan vaksin anak-anak yang direkomendasikan tidak membuat anak-anak lebih aman. Itu membuat mereka lebih rentan,” tegas dr. Furr.

Baca juga: Tips Liburan Aman, IDAI Ingatkan Orangtua Pentingnya Vaksin Anak

Tag:  #waspada #kesalahan #pola #asuh #bisa #membahayakan #anak

KOMENTAR