7 Kebiasaan yang Sering Dianggap Buruk, Padahal Tanda Anda Punya Empati Tinggi
Orang yang memiliki empati tinggi sering dipuji karena mampu memahami perasaan orang lain dengan baik. Namun, kemampuan ini ternyata juga bisa muncul dalam bentuk kebiasaan yang sekilas terlihat negatif.
Psikolog berlisensi dari Thriveworks, Dr Brandy Smith, mengatakan empati tinggi adalah kemampuan di atas rata-rata untuk menangkap emosi orang lain.
"Empati tinggi dipahami sebagai kemampuan yang lebih besar dari rata-rata untuk mengenali emosi orang lain," kata Smith, seperti dikutip dari Parade (7/6/2026).
Menurut dia, beberapa kebiasaan yang sering dianggap buruk sebenarnya bisa menjadi tanda seseorang sangat peduli terhadap orang lain. Namun, kebiasaan tersebut tetap perlu dijaga agar tidak melewati batas yang sehat.
Baca juga: 5 Kalimat yang Disebut Jadi Tanda Manipulasi dalam Hubungan
7 tanda orang dengan empati tinggi
Berikut adalah beberapa tanda orang dengan empati tinggi.
1. Merasa ada yang tidak beres pada seseorang
Orang dengan empati tinggi sering kali bisa merasakan perubahan suasana hati atau perilaku orang lain. Mereka cepat menyadari ketika seseorang tampak berbeda dari biasanya.
Namun, Smith mengingatkan bahwa kemampuan tersebut tidak berarti seseorang selalu mengetahui penyebabnya.
"Merasakan ada sesuatu yang tidak beres lalu menanyakannya bisa membantu. Namun, menganggap tebakan kita pasti benar justru bisa menjadi masalah," ujarnya.
2. Sulit mengutamakan kebutuhan diri sendiri
Banyak orang yang sangat empatik lebih fokus memikirkan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri.
Mereka ingin memastikan orang yang dicintai merasa nyaman dan terbantu.
Padahal, menurut Smith, seseorang tetap perlu memperhatikan kebutuhan pribadi agar dapat terus hadir untuk orang lain.
Baca juga: Anak Gagal SNBT, Kenali Tanda Stres Terpendam
3. Terlalu ikut merasakan emosi orang lain
Ilustrasi mengobrol. Terlalu memikirkan orang lain, sulit berkata tidak, hingga overthinking ternyata bisa menjadi tanda empati yang tinggi menurut psikolog.
Empati membuat seseorang mampu memahami apa yang sedang dirasakan orang lain. Namun, sebagian orang sampai ikut merasakan kesedihan, kecemasan, atau tekanan yang dialami orang lain seolah itu masalah mereka sendiri.
"Itu hal yang positif ketika seseorang bisa merasakan apa yang dialami orang lain. Yang menjadi masalah adalah ketika pengalaman orang lain dirasakan seolah-olah itu pengalaman dirinya sendiri," kata Smith.
Baca juga: Psikolog Ungkap 5 Tanda Kecemasan pada Pria yang Kerap Tak Disadari
4. Selalu ingin memperbaiki keadaan
Keinginan membantu orang lain keluar dari situasi sulit juga sering ditemukan pada orang dengan empati tinggi. Mereka merasa tidak nyaman melihat orang terdekat sedih atau terluka.
Menurut Smith, niat membantu memang baik, tetapi tidak semua masalah harus segera diperbaiki.
"Tidak menyadari bahwa emosi sulit dan masa-masa berat merupakan bagian normal dari kehidupan bisa menjadi masalah," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dorongan berlebihan untuk membuat semua orang merasa baik dapat berubah menjadi toxic positivity.
5. Berusaha menyenangkan semua orang
Orang yang sangat empatik sering menjadi penengah dalam konflik. Mereka berusaha menjaga hubungan tetap harmonis dan menghindari pertengkaran.
Smith mengatakan perilaku tersebut tidak selalu buruk.
Namun, kebiasaan ini bisa menjadi masalah jika seseorang terus-menerus mengorbankan pendapat atau kebutuhannya sendiri demi menyenangkan orang lain.
Baca juga: 3 Tanda Pasangan Anda Benar-benar Cocok, Bukan Sekadar Chemistry
6. Merasa bisa mengendalikan hasil suatu situasi
Sebagian orang dengan empati tinggi merasa bertanggung jawab terhadap kondisi orang lain. Mereka berpikir bahwa jika melakukan sesuatu dengan cara tertentu, masalah orang lain bisa sepenuhnya teratasi.
Menurut Smith, menyadari bahwa seseorang dapat memberi pengaruh positif memang baik.
Namun, menganggap diri mampu mengendalikan semua hasil bukanlah harapan yang realistis.
7. Terlalu banyak menganalisis pengalaman
Kebiasaan lain yang sering muncul adalah terus memikirkan kembali interaksi yang telah terjadi.
Misalnya, seseorang berulang kali mengingat percakapan dan bertanya-tanya apakah ada kata-kata yang mungkin menyinggung orang lain. Dalam batas tertentu, refleksi seperti ini dapat membantu memperbaiki hubungan.
Namun, Smith mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut bisa berkembang menjadi siklus berpikir berulang yang tidak lagi bermanfaat.
Baca juga: 10 Tanda Teman Tidak Tulus, Jangan Abaikan Sinyalnya
Mengapa kebiasaan ini bisa muncul?
Menurut Smith, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat terbentuk karena berbagai faktor.
Sebagian orang memang memiliki empati tinggi secara alami. Namun, ada juga yang mengembangkan kemampuan tersebut melalui pengalaman hidup atau pola pengasuhan sejak kecil.
Dalam beberapa kasus, pengalaman sulit pada masa kanak-kanak membuat seseorang menjadi lebih peka terhadap kondisi emosional orang lain.
Meski demikian, Smith menegaskan bahwa empati tetap merupakan kualitas yang berharga selama disertai batasan yang sehat.
"Kepedulian terhadap orang lain itu penting, tetapi menjadi terlalu fokus pada kebutuhan mereka hingga melupakan diri sendiri dapat menimbulkan masalah," kata Smith.
Baca juga: Waspadai, 7 Tanda Pasangan Kehilangan Perasaan dalam Hubungan
Tag: #kebiasaan #yang #sering #dianggap #buruk #padahal #tanda #anda #punya #empati #tinggi