Instruksi ASN Berlari ke Kantor dan Ilusi Efisiensi Energi
Ilustrasi ASN. WFH ASN. ASN WFH setiap hari Jumat.((Shutterstock))
14:06
3 April 2026

Instruksi ASN Berlari ke Kantor dan Ilusi Efisiensi Energi

KETEGANGAN geopolitik di Selat Hormuz pada April 2026 telah mendorong harga minyak dunia ke level yang mencemaskan. Di dalam negeri, guncangan ini direspons melalui berbagai kebijakan instruktif yang menyita perhatian publik.

Salah satu yang paling menonjol adalah instruksi Gubernur Jawa Tengah agar aparatur sipil negara (ASN) bersepeda atau bahkan berlari ke kantor.

Kita pun menyaksikan kontras yang ganjil: krisis energi global di satu sisi, dan barisan aparatur yang terengah-engah di jalanan di sisi lain.

Namun, pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah keringat ASN tersebut merupakan instrumen efisiensi yang terukur, atau sekadar teatrikal politik untuk menunjukkan sense of crisis yang bersifat permukaan?

Kebijakan semacam ini seharusnya tidak berhenti pada simbolisme fisik yang kontroversial.

Paradigma efisiensi perlu digeser, dari pendekatan manual menuju efisiensi sistemis berbasis Green Talent.

Berisiko Menggerus Motivasi

Manajemen talenta di era disrupsi menuntut respons yang cerdas dan berkelanjutan. Efisiensi energi dalam birokrasi semestinya menjadi bagian dari transformasi budaya kerja, bukan beban tambahan bagi individu.

Baca juga: WFH Burung, Kucing, dan Sapi

Dalam perspektif Michael Armstrong (2021), kinerja merupakan fungsi dari kemampuan dan motivasi.

Instruksi “berlari ke kantor” justru berisiko menggerus motivasi sebelum ASN menyentuh meja pelayanan.

Stamina yang terkuras di perjalanan dapat berdampak pada kualitas pengambilan keputusan. Alih-alih meningkatkan produktivitas, beban fisik yang dipaksakan berpotensi menciptakan kelelahan kolektif yang kontraproduktif.

Perbedaan respons antardaerah—di mana Solo menyatakan siap sementara Cilacap bersikap skeptis—menunjukkan bahwa manajemen talenta tidak dapat diseragamkan dengan pendekatan one size fits all.

Di Jawa Tengah, persoalan utama produktivitas bukan semata kemacetan, melainkan jarak tempuh antarwilayah yang panjang.

Bagi ASN di wilayah pinggiran atau kaki gunung, perjalanan puluhan kilometer setiap hari merupakan beban fisik yang nyata, meski sering tak terlihat dampaknya terhadap kualitas pelayanan.

Dalam konteks geografis demikian, memaksakan aktivitas fisik tambahan justru berisiko menguras energi kognitif.

Efisiensi sejati dalam birokrasi modern lahir dari pengurangan mobilitas fisik melalui sistem digital yang tangkas.

Optimalisasi Flexible Work Arrangement (FWA), termasuk bekerja dari rumah atau dari kantor dekat domisili, dapat memangkas konsumsi energi secara signifikan sekaligus meningkatkan efektivitas kerja.

Konsep kantor dekat domisili menjadi jalan tengah yang rasional antara kerja jarak jauh dan kantor pusat.

Pemerintah dapat mengonsolidasikan gedung-gedung yang tersebar menjadi hub kerja bersama lintas instansi.

Memang, transformasi ini bukan tanpa tantangan fiskal, terutama terkait potensi peningkatan biaya operasional.

Namun, dalam perspektif manajemen talenta strategis, biaya tersebut merupakan investasi untuk menjaga ketangkasan organisasi.

Efisiensi justru dapat dicapai dengan mengurangi ketergantungan pada gedung pusat berskala besar dan mengalihkannya ke unit kerja yang lebih fleksibel.

Green Talent

Gedung-gedung dinas yang selama ini kurang optimal dapat dimanfaatkan melalui sistem hot-desking.

Biaya operasional hub semacam ini jauh lebih kecil dibanding “biaya sosial” akibat kelelahan kronis ASN yang harus menempuh perjalanan panjang setiap hari.

Pendekatan ini merupakan antitesis dari kebijakan simbolik yang hanya mengganti moda transportasi menjadi aktivitas fisik.

Digitalisasi manajemen talenta—mulai dari e-office hingga sistem penilaian kinerja daring—merupakan instrumen efisiensi yang lebih elegan dan berkelanjutan.

Sudah saatnya konsep Green Talent diperkenalkan sebagai standar baru dalam birokrasi Indonesia. Green Talent bukan berarti aparatur yang kuat secara fisik, melainkan mereka yang memiliki kompetensi keberlanjutan.

Baca juga: Ironi WFH ASN: Kritik Jusuf Kalla dan Miskalkulasi Efisiensi BBM

Pembentukan talenta ini harus dimulai sejak rekrutmen, dengan menempatkan literasi energi dan kemampuan efisiensi berbasis teknologi sebagai kompetensi inti.

Pemerintah juga perlu membangun “meritokrasi hijau” yang memberi penghargaan kepada unit kerja inovatif.

Insentif seharusnya diberikan kepada mereka yang mampu mengurangi jejak karbon melalui sistem, bukan melalui aktivitas fisik yang bersifat performatif.

Pada akhirnya, manajemen talenta yang sehat bertumpu pada keadilan. Solidaritas dalam menghadapi krisis energi harus dimulai dari keteladanan anggaran para pimpinan.

Akan muncul pertanyaan moral jika ASN diminta berlari, sementara belanja kendaraan dinas mewah tetap berjalan tanpa koreksi.

Budaya organisasi yang sadar lingkungan tumbuh dari kepercayaan, bukan dari instruksi yang menekan.

Krisis energi 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mereformasi manajemen karier ASN menuju keberlanjutan.

Transformasi yang dibutuhkan adalah perubahan pada akar sistem, bukan sekadar kosmetik kebijakan.

Birokrasi yang benar-benar “berlari” adalah birokrasi yang cepat berinovasi dalam merespons disrupsi global.

Pada akhirnya, kualitas bangsa dalam menghadapi krisis tidak diukur dari keringat aparatur di jalan raya, melainkan dari kecerdasan sistem dan keteladanan pemimpin. Birokrasi harus menjaga energinya untuk melayani, bukan menghabiskannya di aspal.

Tag:  #instruksi #berlari #kantor #ilusi #efisiensi #energi

KOMENTAR