Guru Potong Rambut Siswi di SMKN 2 Garut, Komnas Perempuan Ingatkan Pentingnya Ruang Dialog
Wakil Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Dahlia Madanih mengingatkan pentingnya ruang dialog dengan orang tua dan peserta didik dalam pendisiplinan di sekolah.
"Pihak sekolah penting membangun ruang dialog dengan orang tua, serta peserta didik untuk membangun kesadaran dalam membangun karakter pencapaian tujuan pendidikan," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (7/5/2026).
"Membangun karakter dan moralitas tinggi justru penting dibangun dari kesadaran bukan dari paksaan apalagi dengan cara-cara kekerasan," sambungnya.
Hal ini disampaikan Dahlia, menanggapi peristiwa pemotongan rambut seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMKN 2 Garut kepada siswi yang rambutnya berwarna selain hitam, termasuk yang mengenakan hijab.
Baca juga: Guru BK SMKN 2 Garut Minta Maaf usai Viral Potong Rambut Siswi
Selain itu, Komnas Perempuan juga memandang pemotongan rambut secara paksa adalah salah satu bentuk kekerasan.
Pasalnya, tindakan tersebut memiliki potensi mempermalukan, merendahkan, dan bersifat sewenang-wenang.
"Dan dapat menyebabkan dampak psikologis seperti trauma, takut dan hilangnya kepercayaan diri," tuturnya.
Menurut Dahlia, membangun budaya disiplin dan karakter peserta didik, harus dikerangkai dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Baca juga: Rambut Para Siswi Digunting oleh Oknum Guru SMKN 2 Garut, KPAI Minta Evaluasi Serius
Dia menilai, tindakan kekerasan yang dilakukan dengan mengatasnamakan moralitas sering menempatkan tubuh perempuan sebagai pihak yang menanggung beban penilaian atas yang disebut bermoral atau amoral.
"Mewarnai rambut, bukanlah salah satu indikator seseorang dapat dikatakan memiliki nilai moral yang baik atau tidak baik," ucapnya.
Guru BK Minta Maaf
Guru BK SMKN 2 Garut, Ani Musaidah kini telah menyampaikan permohonan maaf usai viralnya kasus pemotongan rambut siswi saat razia kerapian di sekolah.
Caption foto : Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMKN 2 Garut Ani Musaidah menyampaikan permohonan maaf atas kasus pemotongan rambut siswi di SMKN 2 Garut. dok : SMKN 2 Garut (Sidqi Al Ghifari)
Permohonan maaf itu disampaikan Ani melalui rekaman video yang diterima Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: DPRD Jabar Soroti Kasus Potong Rambut Siswi SMKN 2 Garut, Ingatkan Pembinaan Harus Humanis
Ani mengatakan, razia rambut dilakukan sebagai bagian dari penegakan tata tertib sekolah, khususnya terkait kerapian dan kedisiplinan siswa.
Namun, ia mengakui pelaksanaan kegiatan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan memicu berbagai persepsi di masyarakat.
“Saya ibu Ani Musaidah sebagai guru BK, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terkait beredarnya informasi mengenai pelaksanaan razia kerapian rambut di lingkungan sekolah,” ujar Ani.
Ani mengakui terdapat hal-hal yang tidak berkenan dalam pelaksanaan razia tersebut.
Baca juga: Pengakuan Guru SMKN 2 Garut yang Potong Rambut Siswi: Psikologis Saya Lagi Tak Baik
Karena itu, ia meminta maaf kepada para siswi, orangtua, dan masyarakat yang merasa tidak nyaman atas kejadian tersebut.
“Dengan kerendahan hati saya memohon maaf kepada seluruh pihak khususnya kepada siswi yang saya cintai orangtua dan masyarakat yang merasa kurang nyaman atas kejadian ini,” ungkapnya.
Ani juga berjanji akan melakukan evaluasi dan memperbaiki pendekatan dalam penerapan tata tertib sekolah.
Menurut dia, penegakan disiplin harus dilakukan secara lebih bijak, humanis, dan komunikatif agar tidak kembali menimbulkan polemik.
Baca juga: Dampak Trauma Siswi SMKN 2 Garut yang Rambutnya Dipotong Oknum Guru
Kuasa hukum siswa, Asep Muhidin mengatakan, sebanyak 18 orangtua siswi SMKN 2 Garut memilih berdamai dengan pihak sekolah terkait polemik razia rambut tersebut.
Termasuk sembilan orangtua siswi yang sebelumnya berada di bawah pendampingan hukumnya.
“Alhamdulillah semuanya sudah memilih musyawarah mufakat dengan berdamai dan memaafkan, tanpa melanjutkan ke ranah hukum,” ujarnya.
Tag: #guru #potong #rambut #siswi #smkn #garut #komnas #perempuan #ingatkan #pentingnya #ruang #dialog