Arsenal Juara Setelah Tidak ''Kecopetan'' Lagi
PADA akhirnya semua ada batasnya. Pelatih Josep "Pep" Guardiola dan Manchester City melawan itu sejak menang 2-1 atas Liverpool di Stadion Anfield, 8 Februari lalu.
Saat itu sang kapten Bernardo Silva menjadi protagonis lewat gol yang menyamakan kedudukan dan ditutup gol penalti Erling Haaland.
Jantung Guardiola berdetak lagi dan klub yang diraciknya memiliki kepercayaan diri untuk mengejar Arsenal--klub dari ibu kota Inggris yang dalam tiga musim terakhir terus-menerus "kecopetan" di babak akhir kompetisi Liga Premier.
Sejak menumbangkan The Reds itu, City memiliki momen-momen penting yang diharapkan menghantam mental Arsenal yang diarsiteki Mikel Arteta, bekas asisten Guardiola.
Momen kedua adalah ketika City membungkam Arsenal di final Carabao Cup, 22 Maret 2026.
Ini trofi minor, tapi tak dilupakan oleh Guardiola yang memang terkenal ambisius---kalau bukan 'kemaruk' trofi.
Sepasang gol Nico O'Reilly di stadion Wembley, London menyudahi perlawanan Declan Rice dkk. City juara Piala Liga, Guardiola memberi trofi ke-19 kepada klub kaya raya itu.
Baca juga: Persib, Kesabaran Kolektif, dan Loyalitas Bobotoh
Momen ketiga datang di stadio Etihad, 19 April 2026. Ini adalah final sesungguhnya dalam perebutan trofi Liga Premier antara City kontra Arsenal.
Sekali lagi City menghantam Arsenal, 2-1. Waktu itu Haaland menjadi pahlawan lewat gol penentunya.
City berpesta di kandang. Tapi itu adalah pesta kecepatan yang bakal disesali Guardiola dan pasukannya.
Di tengah pesta lawan itu, Declan Rice merespons. "It's not done," kata gelandang bertenaga kuda itu kepada teman-temannya di Arsenal.
Dan segalanya memang jauh dari selesai. Kalimat Rice itu akan dikenang sebagai titik balik kebangkitan Arsenal. Menjadi tuah yang menggerakkan skuad untuk tidak menyerah.
Namun, kita lanjutkan dulu dengan mengingat momen sebelum laga 'final' itu.
Pada 19 April, City melawat ke Stamford Bridge, kandang Chelsea.
Di sana City menang 3-0. Di tribune seorang fans City sangat girang. Ia mengolok-olok Arsenal dalam sebuah adegan ikonik:
Menenggak minuman di botol berlogo "Arsenal". Itu bisa diartikan "Arsenal bisa kami telan, dapat ditundukkan oleh City dengan skuad mahal dan kelas satu."
Dengan membungkam Arsenal dan memiliki satu laga tunda, pasukan biru langit makin mengejar Arsenal.
Empat hari setelah menyikut Meriam London, City menundukkan Burnley, 1-0. City pun naik ke puncak klasemen karena unggul produktivitas gol.
Itulah momen keempat yang dikibarkan City untuk menyudahi lomba memperebutkan trofi tertinggi di sepak bola Inggris.
Baca juga: Membaca Kehebatan Persib yang Berpeluang Hattrick Juara
Setelah momen itu, City menuruni lembah penuh ranjau. Tersisa lima laga, The Blue Sky mulai tergelincir. Jawara Liga Premier tidak ditentukan di bulan April, melainkan Mei.
Pada 5 Mei, City terkulai di depan Everton. Stadion Hill Dickinson, di kota Liverpool tak bersahabat pada Haaland dkk.
Sampai menit ke-80, City tertinggal 1-3. Untunglah Haaland dan Jeremy Doku melesakkan dua gol balasan untuk memaksa hasil seri 3-3.
Membawa pulang satu poin, City tertekan. Sang rival, Arsenal justru memperlihatkan ketangguhan mental.
Rice dkk tak mau menyerah sebelum segalanya tidak terbeli. Arsenal menang 1-0 atas Newcastle United pada 25 April 2026.
Selanjutnya menang 3-0 atas Fulham, menundukkan West Ham United 1-0, serta menghantam Burnley 1-0.
Setelah ditahan Everton, City masih mencoba mengejar. Saat itu Guardiola mengatakan perebutan gelar tergantung Arsenal.
City lalu menang dengan skor 3-0 atas Brentford dan Crystal Palace. Tabungan mental City kian menggelembung setelah juara Piala FA dengan membekuk Chelsea, 1-0.
Jadi, di atas kertas, City "pede" banget saat melawat ke stadion Vitality, kandang Bournemouth, 20 Mei 2026. Guardiola menargetkan dapat membawa pulang tiga poin agar tetap dalam persaingan.
Semua ada batasnya. City dihantam jadwal padat: Dalam 10 atau 11 hari harus main empat kali.
Itu risiko yang harus ditanggung Guardiola yang rakus trofi. Dan harga yang harus dibayarnya: City kelelahan ketika melawat ke kandang Bournemouth.
Sejak menit ke-38, City telah menghadapi ketidakmungkinan akibat gol tuan rumah yang diceploskan Eli Junior Kroupi.
Bayangan kegagalan hinggap di kepala Haaland, Doku, Rodri, Silva, O'Reilly, hingga Gianluigi Donnarumma.
Haaland memang menyamakan skor di menit 90+4, tapi itu terlambat. Dengan waktu kurang tiga menit, City butuh keajaiban besar untuk meraih gol kedua dan menang.
Tidak ada happy ending. Batas yang dituju Pep Guardiola tak sanggup digapai. Manchester City menyerah.
Dan Arsenal--yang menang 1-0 atas Burnley lewat gol Kai Havertz di hari sebelumnya--jawara tanpa harus memikirkan laga terakhir (pekan ke-38).
Arsenal unggul empat poin dan tidak mungkin dikejar lagi oleh City.
Baca juga: Persib dan Seni Menjaga Sense of Belonging di Era Sepak Bola Modern
Saat Haaland menjaringkan gol, sebagian di antara pemain Arsenal atau bahkan Arteta dan tim pelatih, mungkin tegang.
Di antara mereka mungkin duduk, selonjoran dan berbaring di atas sofa menyaksikan laga Bournemouth versus City. Namun, itu ketegangan yang berakhir manis. Bournemouth memaksa hasil seri.
Dan fans City yang mengolok-olok Arsenal di laga kontra Chelsea mungkin saat ini bersedih sekali.
Seperti klubnya, petualangan hidup tidak selalu berakhir manis. Pahit, manis, gembira dan sedih adalah warna-warni hidup.
Bournemouth meraih poin bukan untuk Arsenal, tapi untuk diri sendiri.
Klub yang dilatih Andoni Iraola itu mengincar posisi keenam agar punya peluang meraih tiket Liga Champions Eropa musim depan.
Skenario itu mungkin dengan dua syarat: Satu, Aston Villa, duduk di peringkat lima Liga Premier.
Dan kedua, pasukan Unai Emery itu juara Liga Europa. Dengan juara Liga Europa, Villa berhak atas tiket Liga Champions sehingga satu tiket dari jalur Liga Premier diberikan pada peringkat enam. Begitu aturannya.
Penantian 22 tahun Arsenal berakhir sudah. Mikel Arteta meletakkan diri sebagai salah satu manajer yang mempersembahkan trofi Liga Inggris untuk The Gunners.
Ia sejajar dengan Arsene Wenger. Dan mungkin saja Arteta bakal melampaui 'sang profesor' jika di final Liga Champions nanti Arsenal menang atas Paris Saint-Germain.
Wenger belum satu pun meraih trofi Liga Champions. Ia pernah mengantar Arsenal ke final musim 2005/2006, tapi dipecundangi oleh Barcelona.
Dengan kepercayaan diri yang kini sangat bergelora, Arsenal mungkin saja sanggup juara Eropa musim ini.
Peruntungan Arsenal datang setelah tiga musim runner-up Liga Premier. Arsenal pada masa Wenger pernah mengalaminya sebelum kampiun Inggris.
Kai Havertz yang melesakkan gol tunggal ke gawang Burnley di laga ke-37 adalah pencipta gol Chelsea saat juara Liga Champions musim 2020/2021. Dan Arsenal juga sudah mengalami final Liga Champions.
Entah sebelum atau setelah Everton menahan City, saya pernah bilang ke kawan yang pecandu berat Arsenal:
Saya khawatir Arsenal juara ganda di musim ini--Liga Premier dan Liga Champions.