Gus Rozin: Kita Harus Akui Kekerasan di Pasentren Itu Ada
()
11:18
19 Mei 2026

Gus Rozin: Kita Harus Akui Kekerasan di Pasentren Itu Ada

Ketua Majelis Masyayikh, Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, menyatakan kekerasan di pesantren memang masih terjadi dan tidak bisa lagi ditutupi.

Menurut dia, selama beberapa tahun terakhir berkembang narasi bahwa kasus kekerasan, terutama kekerasan seksual, seolah hanya terjadi di luar lingkungan pesantren.

Namun, kondisi tersebut kini tidak bisa lagi dipungkiri.

“Saya kira kita harus mengakui bahwa kekerasan itu ada, pada sebagian. Sampai dua tahun lalu, tiga tahun yang lalu, kita masih bisa berbicara bahwa kekerasan, apalagi kekerasan seksual, itu di luar pesantren kita,” kata Gus Rozin di Grand Mercure Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Said Aqil Siroj: Kekerasan Seksual Khianati Marwah Pesantren

“Tetapi sampai sekarang secara bertahap kita tidak lagi bisa menutupi itu. Secara faktual kekerasan itu ada. Kekerasan beneran maupun kekerasan yang berasal dari kegamangan yang tidak sesuai dengan definisi-definisi baru soal kekerasan itu,” tambah dia.

Ia menilai, sebagian praktik yang dulu dianggap biasa di lingkungan pesantren kini tidak lagi relevan dengan tata nilai saat ini.

Gus Rozin mencontohkan cerita santri yang pernah disiram air selokan, dirundung teman sekamar, atau barang-barangnya dijarah lalu dianggap sebagai pengalaman yang membentuk mental.

Menurut dia, pengalaman semacam itu kerap diceritakan dengan nada bangga, termasuk di media sosial.

“Padahal yang semacam itu mungkin satu kebanggaan bagi kita para santri-santri lama, tetapi tidak relevan dengan tata nilai yang baru itu,” ucap dia.

Baca juga: Menag Sedih Ada Kasus Pencabulan Santriwati di Pati Saat Siapkan Ditjen Pesantren

Di sisi lain, Ketua PWNU itu juga menilai ada narasi yang berlebihan atau sengaja dibangun terkait isu kekerasan di pesantren.

“Saya kira juga ada framing yang berlebihan. Jadi, fakta internal kekerasan ada, fakta dari luar bahwa ada engineered narration (narasi yang direkayasa) itu juga ada,” jelas dia.

Ia mengatakan respons pesantren terhadap perubahan nilai dan isu kekerasan juga beragam.

Ada pesantren yang tetap mempertahankan tradisi lama, termasuk pola hukuman atau takzir.

Namun, ada pula yang berubah total hingga menurutnya lebih menyerupai sekolah berasrama dibanding pesantren.

Gus Rozin menilai sebagian besar pesantren saat ini berada di posisi tengah, yakni berusaha beradaptasi dengan nilai baru tanpa meninggalkan tradisi sepenuhnya.

Tag:  #rozin #kita #harus #akui #kekerasan #pasentren

KOMENTAR