Legenda Persebaya Ibnu Grahan dan Kenangan Lawan AC Milan
AC Milan akan menggelar tur pramusim ke Jakarta pada Agustus 2026. AC Milan dijadwalkan melawan Chelsea di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu 8 Agustus 2026.(Dok. AC Milan)
23:16
1 Mei 2026

Legenda Persebaya Ibnu Grahan dan Kenangan Lawan AC Milan

- Kabar kedatangan AC Milan ke Indonesia dalam tur pramusim Agustus 2026 di Jakarta langsung membangkitkan kenangan lama bagi mantan pemain dan pelatih sepak bola Indonesia Ibnu Grahan.

Bukan sekadar penonton, ia pernah merasakan langsung atmosfer menghadapi klub raksasa Italia itu di lapangan.

“Pas dengar berita tentang pramusim AC Milan ke Indonesia lawan Chelsea saya langsung tak nontok rek, jersey AC Milan ku ta gawe," kata pelatih asal Surabaya itu kepada Kompas.com.

"Saya antusias untuk menonton pertandingan yang akan datang. Saya ingin melihat perkembangan Liga Italia dan Inggris ini sampai di mana. Seperti saat Argentina lawan timnas itu saya nonton. Antusias sekali nonton pertandingan-pertandingan besar seperti ini” imbuhnya.

Baginya, momen ini bukan hanya nostalgia, tetapi juga kesempatan melihat langsung perkembangan sepak bola Eropa yang terus berubah.

Kenangan 1994, Saat Surabaya Menantang Raksasa Eropa

Laga pramusim ini menjadi memori yang membawanya kembali ke tahun 1994, ketika Surabaya Selection menghadapi AC Milan di Stadion Gelora 10 November.

Rossoneri datang dengan reputasi besar sebagai salah satu tim terbaik dunia.

"Ketika itu untuk Surabaya Selection ada seleksi dulu diikuti Assyabaab Salim Group, Persebaya dan Mitra Surabaya. Akhirnya dikerucutkan dan saya masuk dalam susunan pemain," ujar Ibnu Grahan.

Baca juga: AC Milan ke Indonesia: Kenangan Kepulauan Seribu dan 8 Ikan Kakap

Pelatih Indonesia Ibnu Grahan saat menyaksikan laga Piala Dunia U17 2023 Indonesia di Jakarta International Stadium.Dokumentasi Pribadi Pelatih Indonesia Ibnu Grahan saat menyaksikan laga Piala Dunia U17 2023 Indonesia di Jakarta International Stadium.

"Waktu sebelum AC Milan datang ke Surabaya, Pak Rusdy Bahalwan bilang 'pemain Eropa itu tinggi-tinggi pasti lambat-lambat kamu harus main pendek dan cepat' tapi ternyata meskipun tinggi yo cepet-cepet."

"Ya mati laga berakhir berakhir dengan skor 1-4 itu," sambungnya sambil tertawa.

Sampai saat ini ia pun masih mengingat betul atmosfer pertandingan tersebut, termasuk deretan bintang yang menjadi idola di masanya.

“Kesannya sopo seng ga seneng, tidak hanya aku saja saat itu apalagi lagi sedang moncer-moncernya Gianluigi Lentini dan Dejan Savicevic. Lagi top-topnya Fabio Capello sebagai pelatih," kata pelatih berusia 58 tahun itu.

Baca juga: BREAKING NEWS - AC Milan ke Indonesia, Tanding Lawan Chelsea di GBK

Meski tidak semua pemain inti hadir, kekuatan klub yang bermarkas di Stadion San Siro itu tetap terasa.

Headline Tabloid BOLA pada minggu pertama Juni 1994, menyambut kedatangan AC Milan ke Indonesia.DOK TABLOID BOLA Headline Tabloid BOLA pada minggu pertama Juni 1994, menyambut kedatangan AC Milan ke Indonesia.

Nama-nama seperti Dejan Savicevic, Sebastiano Rossi, hingga Marcel Desailly tetap memberikan kualitas pertandingan tinggi di lapangan.

Apalagi dalam laga yang berakhir dengan skor 1-4, Ibnu Grahan menjadi pencetak gol tunggal Surabaya Selection melalui penalti menjadi momen tidak terlupakan.

“Nah ketika mendapat penalti itu tidak ada yang berani nendang, ya sudah saya ambil saja. harusnya Heri Kiswanto dan Jessie Mustamu tapi keduanya tidak siap. Terus nunjuk ‘Ibnu ae-Ibnu ae’ ya sudah saya, pokoknya nendang masuk dan dapat bonus,” katanya lagi.

Jersey, Kenangan, dan Pelajaran Berharga di Luar Lapangan

Lebih dari sekadar pertandingan, pengalaman menghadapi AC Milan meninggalkan jejak emosional yang mendalam bagi Ibnu Grahan.

Salah satu momen paling berkesan adalah perjuangannya mendapatkan jersey milik Fernando De Napoli usai laga.

Sesuatu yang tidak mudah karena tidak semua pemain Milan bersedia bertukar kostum.

“Setelah itu saya tukar jersey masih saya simpan sampai sekarang, setelah pertandingan itu saya sering nonton pertandingan AC Milan meskipun tidak rutin tapi saya selalu ingin tahu perkembangan AC Milan,” ujar pelatih berlisensi A AFC

Kenangan tersebut tidak berhenti sebagai nostalgia saja, justru dari laga itu justru membuka cara pandangnya terhadap sepak bola profesional yang sesungguhnya.

Laga melawan klub sekelas AC Milan memberi lebih dari sekadar pengalaman di lapangan.

Ia melihat memahami bagaimana standar profesional dijalankan sebuah klub Eropa, bahkan dalam hal-hal yang belum menjadi perhatian di Indonesia saat itu.

“Dulu kita belum ngerti namanya hydrogen gymnastic lalu recovery pakai es batu yang namanya ice bath. Sebenarnya pada tahun 1990an ada yang memberitahu tapi tidak dilaksanakan dan di Indonesia sendiri tidak fokus di situ," tutur Ibnu Grahan.

"AC Milan kan menginapnya di hotel kawasan Gunungsari nah setelah main mereka langsung kembali ke hotel dan berendam,” imbuhnya.

Dari situ, ia mulai memahami bahwa pemulihan adalah bagian penting dari performa pemain, bukan sekadar pelengkap.

“Dejan itu setelah cetak 3 gol langsung balik ke hotel tidak menunggu sampai bubar. Saya tanyakan ke panitia terus saya tanya ngapain setelah di hotel terus dikasih tau setelah sampai hotel dia langsung melakukan recovery di kolam renang dan icebath," ujar mantan pelatih Bhayangkara FC itu

Tidak hanya soal pemulihan, perhatian terhadap detail juga terlihat dari hal sederhana seperti standar bola pertandingan.

Ia mengingat bagaimana pemain lawan memperhatikan tekanan bola hingga hal terkecil.

"Menurut mereka merasa kurang keras, pompanya antara ukuran 7-10, kan bagi kita biasanya di ukuran 7-8 itu sudah keras. Nah buat mereka itu kurang keras padahal bagi kita itu sudah keras karena kurang biasa ya mereka," sambungnya.

Dari semua pengalaman itu akhirnya menjadi bekal berharga dalam perjalanan Ibnu Grahan yang saat ini sebagai pelatih. 

“Nah itu yang sampai saat ini diluar permainan yang sangat melekat dipikiran saya,” ujarnya lagi

Belajar Tanpa Henti dari Sepak Bola Modern

Kini di tengah perannya sebagai pelatih, Ibnu Grahan tetap menjaga api semangatnya terhadap sepak bola.

Ia rutin menyempatkan diri menyaksikan berbagai pertandingan, baik di level nasional maupun internasional, demi mengikuti perkembangan taktik dan kualitas permainan yang terus berubah.

“Penting sekali dalam arti biar tidak ketinggalan, anggap saja ini pelatih desa yang sudah umur masih ingin maju dan ingin belajar, sepak bola ini dinamis,” kata salah satu legenda sepak bola Surabaya itu.

Kebiasaan menonton pertandingan bukan sekadar hobi tetapi menjadikannya sebagai sarana memperkaya wawasan yang kemudian dibagikan kepada para pemain muda di akademi yang dibina.

Ia percaya, seorang pelatih harus selalu “update” agar mampu memberikan materi terbaik kepada anak didiknya.

“Biar pengetahuan dan pengalaman kita terasah, kita juga jadi tahu perkembangan level sepak bola kita,” pungkas Ibnu Grahan.

Tag:  #legenda #persebaya #ibnu #grahan #kenangan #lawan #milan

KOMENTAR