2 Tentara AS Hilang di Maroko, Pencarian Masih Berlangsung
- Militer Amerika Serikat sedang mencari dua tentaranya yang hilang selama latihan di Maroko pada Sabtu (2/5/2026).
Komando Afrika AS (Africom) menyatakan bahwa kedua personel tersebut hilang di sekitar area pelatihan militer dekat Kota Tan-Tan.
Hingga saat ini, identitas maupun cabang militer asal kedua personel tersebut belum diungkapkan ke publik.
"Insiden tersebut masih dalam penyelidikan dan proses pencarian masih berlangsung hingga saat ini," bunyi pernyataan resmi militer AS, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Minggu (3/5/2026).
Baca juga: Kali Pertama, AS Akan Tembakkan Rudal Hipersonik Dark Eagle ke Iran
Latihan militer terbesar di Afrika
Kedua tentara yang hilang tersebut merupakan bagian dari African Lion, latihan militer tahunan terbesar yang digelar oleh Africom.
Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas antara pasukan AS dengan negara-negara anggota NATO, seperti Perancis dan Italia, serta negara-negara mitra di Afrika.
Secara keseluruhan, latihan yang berlangsung di Maroko, Ghana, Senegal, dan Tunisia ini melibatkan lebih dari 7.000 personel yang berasal dari 30 negara berbeda.
Program ini telah dimulai sejak pertengahan April dan dijadwalkan berakhir pada awal Mei 2026.
Hilangnya dua tentara AS kembali mengingatkan pada tragedi tahun 2012 dalam latihan serupa, di mana sebuah helikopter MV-22 Osprey jatuh di Maroko dan menewaskan dua Marinir AS.
Baca juga: Tanggapi Santai Penarikan 5.000 Tentara AS, Jerman: Agak Dilebih-lebihkan
AS memulai latihan militer di Maroko pada akhir April setelah menyelesaikan latihan di Tunisia. Latihan tersebut diperkirakan akan selesai pada awal Mei.
Dua Marinir AS tewas dan dua anggota militer lainnya terluka ketika sebuah helikopter MV-22 Osprey jatuh di Maroko selama latihan African Lion pada 2012.
Operasi militer AS di Afrika sebagian besar berfokus pada memerangi kelompok teroris yang telah ditentukan, seperti ISIS, Boko Haram, dan al-Shabaab.
AS telah menarik diri dari operasi di Afrika selama bertahun-tahun.
Tahun lalu, mantan komandan Africom, Michael Langley mengatakan, pasukan AS perlu mampu membawa mitranya ke tingkat operasi independen.
Baca juga: Misi Kemanusiaan, AS Bakal Kawal Kapal untuk Lewati Selat Hormuz
Rusia-China mulai "masuk" Afrika
ilustrasi militer.
Seiring dengan berkurangnya pengaruh AS di seluruh Afrika, negara-negara seperti Rusia dan China telah memperluas jejak mereka di seluruh benua tersebut, termasuk melalui apa yang disebut Korps Afrika milik Moskwa.
Korps Afrika merupakan penerus utama Grup Wagner, sebuah organisasi tentara bayaran terkenal yang sebagian besar dibubarkan setelah pemimpinnya saat itu, Yevgeny Prigozhin, melancarkan pemberontakan anti-Kremlin pada pertengahan 2023.
Pemerintah Rusia mengeklaim, pasukan tersebut mencegah kudeta yang dipimpin pemberontak di negara Afrika Barat, Mali, awal pekan ini.
Africom memiliki sekitar 2.000 personel militer, sipil, dan kontrak, yang hampir tiga perempatnya berbasis di markas komando di Jerman.
Komando Afrika mencakup 53 negara di Afrika, sebuah wilayah daratan yang luasnya kira-kira tiga setengah kali ukuran AS, menurut militer. Komando ini telah beroperasi penuh sejak tahun 2008.
Tag: #tentara #hilang #maroko #pencarian #masih #berlangsung