Bos ChatGPT Wanti-wanti AI Super Pintar Bisa Jadi Bencana
Ilustrasi AI Bubble.(Leonardo AI/Lucid Origin)
08:11
11 April 2026

Bos ChatGPT Wanti-wanti AI Super Pintar Bisa Jadi Bencana

- CEO OpenAI, Sam Altman, memberi peringatan keras kepada para pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS).

Ia mendesak pemerintah AS untuk segera mengambil langkah nyata dalam menyambut era kecerdasan buatan (AI) tingkat lanjut, atau yang kerap disebut sebagai superintelligence.

Bos ChatGPT ini menegaskan bahwa saat ini, teknologi AI tidak lagi sekadar ranah teori atau uji coba laboratorium. AI telah bergerak cepat menjadi pendorong utama ekonomi sehari-hari.

Oleh karena itu, AS harus siap menghadapi dua sisi mata uang dari revolusi ini, potensi keuntungan yang luar biasa besar, sekaligus risiko bencana yang mengintai.

Altman memaparkan sisi positif dari kehadiran superintelligence. Sistem AI super pintar tersebut sudah mampu mengambil alih tugas pemrograman (coding) dan riset yang dulunya harus dikerjakan oleh satu tim penuh.

Ke depannya, generasi model AI terbaru akan membawa lompatan yang lebih jauh.

"AI akan membantu para ilmuwan membuat penemuan-penemuan besar, dan memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh kelompok berskala besar," jelas Altman, seperti dikutip KompasTekno dari kanal YouTube Axios.

Menurut dia, dinamika ketenagakerjaan pun sudah mulai bergeser. Seorang programer di tahun 2026 ini sudah bekerja dengan cara yang jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya.

Pada akhirnya, AI akan bertransformasi menjadi semacam utilitas atau kebutuhan pokok layaknya aliran listrik.

"Anda akan memiliki asisten super personal yang berjalan di cloud," ujar Altman.

Sistem langganan AI pun akan fleksibel. Makin sering atau makin cerdas tingkat AI yang Anda gunakan, makin tinggi tagihan bulanannya, dan begitu pula sebaliknya.

Baca juga: Mark Zuckerberg Jelaskan Konsep Superintelligence: Bukan untuk Otomatisasi

Persaingan geopolitik

Bagi Altman, pengembangan superintelligence bukan sekadar soal inovasi bisnis, melainkan pertarungan geopolitik.

Ia menekankan betapa pentingnya bagi AS untuk lebih dulu sukses membangun teknologi ini, sebelum didahului oleh negara rival.

Meski demikian, Altman menolak keras wacana nasionalisasi (pengambilalihan proyek AI sepenuhnya oleh pemerintah).

"Argumen terkuat melawan nasionalisasi adalah bahwa ini kemungkinan besar tidak akan berhasil jika dijalankan sebagai proyek pemerintah, dan itu akan menjadi hal yang menyedihkan," tukasnya.

Sebagai gantinya, solusi yang ia tawarkan adalah kolaborasi antara perusahaan swasta pengembang AI dan pemerintah AS.

Baca juga: Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?

Di balik janji efisiensi, Altman juga membunyikan alarm bahaya. Kecerdasan buatan tingkat tinggi bisa dengan mudah disalahgunakan untuk mempercepat eksperimen biologis berbahaya.

"Kita tidak lagi jauh dari dunia di mana model open-source memiliki kemampuan luar biasa di bidang biologi," tegas Altman.

Potensi kelompok teroris menggunakan AI untuk meracik patogen (virus atau bakteri mematikan) baru kini menjadi ancaman nyata, bukan lagi sekadar kemungkinan teoretis.

Di sektor keamanan siber, ancamannya bahkan sudah memakan korban. Menurut Charles Guillemet, CTO dari perusahaan hardware wallet kripto Ledger, AI telah mengubah kekuatan yang membuatnya lebih "berpihak" ke pihak peretas.

AI dianggap telah memudahkan hacker untuk mengeksploitasi celah aplikasi perangkat lunak.

Tugas peretasan rumit yang dulu memakan waktu berbulan-bulan kini bisa dieksekusi hanya dalam hitungan detik. Tak heran jika tahun lalu saja, industri kripto menelan kerugian hingga 1,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 24 triliun) akibat pencurian siber.

Melihat besarnya potensi serangan siber berskala global yang bahkan bisa terjadi pada tahun ini, Altman menyimpulkan satu hal krusial, mencegah skenario kiamat tersebut membutuhkan upaya dan koordinasi lintas sektor yang luar biasa.

"Sangat penting memastikan bahwa orang-orang yang membangun AI ini adalah mereka yang memiliki integritas tinggi dan dapat dipercaya," pungkas Altman.

Tag:  #chatgpt #wanti #wanti #super #pintar #bisa #jadi #bencana

KOMENTAR