Jangan Mudah Tergiur Beli Stopkontak Murah, Risiko Kebakaran Mengintai
Ilustrasi stopkontak ekstensi.(Shutterstock/marketlan)
10:09
2 Juni 2026

Jangan Mudah Tergiur Beli Stopkontak Murah, Risiko Kebakaran Mengintai

- Masyarakat masih kerap mengabaikan aspek keselamatan saat menggunakan instalasi listrik di rumah.

Salah satu kebiasaan yang banyak ditemukan adalah memilih stopkontak, steker, dan kabel ekstensi murah tanpa memerhatikan kualitas maupun standar keamanan yang berlaku.

Dosen dan Peneliti Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, mengatakan, penggunaan perangkat kelistrikan berkualitas rendah dapat meningkatkan risiko panas berlebih, korsleting, hingga kebakaran.

Baca juga: 9 Kesalahan Instalasi Listrik di Rumah yang Sering Dilakukan

Menurut Kevin, produk stopkontak dan steker murah umumnya tidak memiliki label Standar Nasional Indonesia (SNI).

Selain itu, produk tersebut sering menggunakan kabel berukuran kecil, berbahan campuran yang bukan tembaga murni, serta memiliki isolasi tipis yang lebih mudah getas dan meleleh saat digunakan dalam jangka panjang.

"Produk semacam ini umumnya menggunakan kabel berukuran kecil (di bawah 1,5 mm²), berbahan campuran (bukan tembaga murni), dan dengan isolasi tipis yang cepat getas dan mudah meleleh. Kombinasi ini meningkatkan risiko panas berlebih, korsleting, dan akhirnya kebakaran," ujar Kevin saat dihubungi Kompas.com, Kamis (21/05/2026).

Kesalahan Umum Penggunaan Stopkontak di Rumah

Selain penggunaan perangkat berkualitas rendah, Kevin menjelaskan masih banyak kesalahan lain yang sering dilakukan masyarakat saat menggunakan instalasi listrik rumah tangga.

Salah satunya adalah menumpuk banyak colokan pada satu stopkontak dengan bantuan terminal ekstensi. Kebiasaan ini dapat menyebabkan beban berlebih atau overload yang memicu kenaikan suhu pada titik sambungan listrik.

Risiko menjadi lebih besar apabila beberapa peralatan berdaya tinggi seperti setrika, dispenser, dan rice cooker digunakan secara bersamaan pada satu ekstensi.

Baca juga: Rebutan Listrik Pusat Data AI Ubah Peta Investasi Korporasi Asia Pasifik

Kesalahan lain yang juga sering ditemukan adalah menyambung kabel hanya menggunakan lilitan dan lakban biasa. Sambungan seperti ini berpotensi longgar dan menimbulkan percikan api sesaat yang tidak selalu terdeteksi oleh Miniature Circuit Breaker (MCB).

Selain itu, masyarakat juga masih sering mencabut colokan dengan menarik kabel, bukan bagian kepala steker. Kebiasaan tersebut dapat membuat sambungan kabel dan steker menjadi longgar sehingga meningkatkan risiko percikan listrik.

"Hal ini sangat berisiko, terutama pada kabel ekstensi buatan sendiri, karena sambungan longgar dapat memicu percikan listrik," katanya.

Kevin juga menyoroti praktik modifikasi instalasi listrik tanpa pengetahuan teknis yang memadai. Beberapa contoh yang kerap ditemukan adalah penambahan stopkontak tanpa memperhitungkan ukuran kabel yang sesuai, pembuatan kabel ekstensi secara mandiri dengan sambungan lakban, hingga penggantian MCB dengan kapasitas lebih besar karena perangkat proteksi sering turun atau trip.

Padahal, penggantian MCB dengan rating yang lebih besar tanpa penyesuaian ukuran kabel dapat mengurangi sensitivitas proteksi terhadap korsleting sehingga kabel berisiko terbakar sebelum MCB memutus arus listrik.

Pasang Stopkontak Sesuai Lokasi

Aspek lain yang juga perlu diperhatikan adalah kesesuaian stopkontak dan saklar dengan lokasi pemasangannya.

Menurut dia, masih banyak rumah yang menggunakan stopkontak indoor biasa di area yang rentan terkena air seperti dapur, teras, area cuci, hingga kamar mandi.

Padahal, perangkat tersebut harus dipilih berdasarkan IP Rating (Ingress Protection) yang menunjukkan tingkat ketahanan terhadap debu dan air. Mengacu pada PUIL 2011, area lembap atau rentan percikan air memerlukan stopkontak dengan perlindungan minimal IP44.

Baca juga: Bekasi Punya SPKLU Terbesar di Indonesia, Kapasitas Setara Listrik Industri

Di kamar mandi, stopkontak harus memiliki perlindungan tahan air minimal IPX4, ditempatkan di zona aman yang jauh dari sumber air, menggunakan kabel khusus area basah, serta terhubung dengan sistem pentanahan.

"Idealnya, saklar lampu kamar mandi dipasang di luar pintu kamar mandi, sehingga sepenuhnya bebas dari paparan air, uap, dan kelembapan," papar Kevin.

Tag:  #jangan #mudah #tergiur #beli #stopkontak #murah #risiko #kebakaran #mengintai

KOMENTAR