Mengapa Rumah Bekas Pembunuhan Susah Laku?
Ilustrasi rumah.(Freepik/jcomp)
17:09
2 Juni 2026

Mengapa Rumah Bekas Pembunuhan Susah Laku?

- Dalam bisnis properti, lokasi, luas bangunan, dan aksesibilitas biasanya menjadi faktor utama yang menentukan harga sebuah rumah.

Namun, ada satu faktor lain yang kerap membuat sebuah hunian sulit dilirik pembeli, yakni riwayat peristiwa tragis yang pernah terjadi di dalamnya.

Rumah yang pernah menjadi lokasi pembunuhan, bunuh diri, atau peristiwa kematian yang menghebohkan umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual dibandingkan rumah lain di kawasan yang sama.

Bahkan, dalam banyak kasus, pemilik harus menurunkan harga secara signifikan untuk menarik minat pembeli.

Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya mengatakan, rumah dengan riwayat semacam itu memang memiliki tantangan tersendiri di pasar.

Baca juga: Tips Beli Rumah Bekas Kebakaran hingga Bunuh Diri

"Sedang rumah-rumah bermasalah seperti bekas pembunuhan, bunuh diri, dikenal angker dan lain-lain, maka kalau berminat membeli harus sangat murah, minimal 30 persen sampai 50 persen dari nilai pasar," ujar Bambang kepada Kompas.com, dikutip Selasa (2/6/2026).

Sulit Dijual

  • Faktor Psikologis Pembeli

Menurut Bambang, koreksi harga tersebut bukan disebabkan oleh kerusakan fisik bangunan, melainkan lebih karena persepsi pasar.

Pada pasar properti, keputusan membeli rumah tidak semata-mata didasarkan pada hitung-hitungan ekonomi.

Banyak calon pembeli mempertimbangkan faktor kenyamanan, rasa aman, hingga ketenangan saat menempati sebuah hunian.

Karena itu, rumah yang memiliki sejarah kelam sering kali kalah bersaing dengan properti lain yang tidak memiliki stigma serupa, meskipun spesifikasi bangunan dan lokasinya setara.

Bambang mengatakan, sebagian pembeli masih merasa keberatan menempati rumah yang pernah menjadi lokasi peristiwa tragis.

Akibatnya, jumlah calon pembeli potensial menjadi lebih terbatas dibandingkan rumah pada umumnya.

  • Tidak Ada Aturan Khusus

Berbeda dengan rumah yang mengalami kerusakan akibat kebakaran, banjir, atau bencana alam, tidak ada regulasi secara khusus mengatur penurunan nilai rumah yang pernah menjadi lokasi tindak pidana atau bunuh diri.

Nilai rumah pada akhirnya ditentukan oleh mekanisme pasar, yakni kesediaan pembeli untuk membayar dan kemampuan penjual menemukan peminat.

Karena itu, besaran penurunan harga dapat berbeda-beda pada setiap kasus.

Ada rumah yang hanya mengalami koreksi harga terbatas, tetapi ada pula yang harus dijual jauh di bawah harga pasar karena sulit mendapatkan pembeli.

  • Lokasi Tetap Menentukan

Meski memiliki riwayat negatif, bukan berarti rumah dengan kondisi tersebut tidak memiliki nilai jual.

Bambang menilai, faktor lokasi pun tetap menjadi penentu utama dalam bisnis real estat.

Baca juga: Rumah Mangkrak Bertahun-tahun, Apakah Aman Dibeli?

Rumah yang berada di kawasan strategis dengan pasokan lahan terbatas biasanya masih memiliki peminat, meskipun membutuhkan waktu pemasaran yang lebih panjang.

Sebaliknya, rumah dengan riwayat tragis yang berada di kawasan dengan banyak pilihan hunian serupa cenderung menghadapi tekanan harga yang lebih besar.

  • Peluang bagi Sebagian Pembeli

Di balik stigma buruk tersebut, terdapat pula kelompok pembeli yang melihatnya sebagai peluang.

Mereka menganggap penurunan harga yang cukup besar dapat menjadi kesempatan memperoleh properti dengan nilai yang lebih murah dibandingkan harga pasar.

Namun, Bambang mengingatkan agar pembeli tetap melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap legalitas tanah dan bangunan sebelum melakukan transaksi.

Sebab, hal yang perlu menjadi perhatian utama bukanlah sejarah rumah semata, melainkan status hukum properti, kondisi bangunan, serta potensi biaya renovasi yang mungkin munci setelah pembelian.

Pada akhirnya, rumah bekas pembunuhan atau bunuh diri memiliki pasar yang lebih sempit dibandingkan rumah biasa.

Itulah sebabnya banyak pemilik rumah terpaksa memberikan diskon besar-besaran agar properti tersebut kembali menarik di mata calon pembeli.

Tag:  #mengapa #rumah #bekas #pembunuhan #susah #laku

KOMENTAR