Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet, Harmoni Adat, Spiritualitas, dan Pelestarian Borobudur
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.(Dok. Kemenpar)
08:14
4 Mei 2026

Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet, Harmoni Adat, Spiritualitas, dan Pelestarian Borobudur

Kawasan Candi Borobudur kembali menjadi pusat perhatian ketika Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet digelar sebagai prosesi sakral pemindahan Arca Unfinished Buddha ke lokasi baru di Lapangan Kenari.

Kegiatan ini bukan hanya seremoni adat, tetapi juga momentum penting yang mempertemukan unsur budaya, spiritualitas, dan kebijakan pelestarian warisan dunia.

Ritual agung tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang menegaskan bahwa pemindahan arca menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem kebudayaan nasional, khususnya di kawasan warisan dunia Borobudur.

Mbah Bhelet: Arca yang tak selesai, warisan tak ternilai

Arca Unfinished Buddha, atau yang akrab disebut masyarakat sebagai Mbah Bhelet, merupakan figur unik dalam sejarah Borobudur.

Disebut “belum selesai” karena pahatan patung yang tidak sempurna, arca ini menyimpan misteri arkeologis sekaligus ruang interpretasi bagi para ahli, seniman, hingga peziarah.

Baca juga: Misteri Arca Unfinished Buddha Candi Borobudur, Benarkah Ini Berasal dari Dalam Stupa Induk?

Arca tersebut sebelumnya berada di dalam tanah di bawah stupa induk Borobudur, kemudian dipindahkan ke Museum Karmawibhangga untuk tujuan konservasi.

Kini, ritual boyongan mengantarkan arca ini menuju Lapangan Kenari agar lebih mudah diakses publik.

Prosesi adat: Peran masyarakat dalam mengiringi boyongan

Atmosfer sakral terasa kuat selama ritual berlangsung. Masyarakat Lembaga Adat Desa Borobudur memberikan penghormatan melalui pagelaran Wayang Ruwat yang dipimpin Ki Dalang Darmo Widjoyo.

Doa dari tokoh-tokoh agama setempat turut menyertai proses peletakan arca di lokasi barunya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Saat Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet.Dok. Kemenbud RI Menteri Kebudayaan Fadli Zon Saat Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi sinergi masyarakat dan pelaku budaya yang menjaga keberlangsungan ritual adat tersebut.

“Tradisi ini menggambarkan spiritual journey untuk memohon keberkahan dan kebaikan. Ia menjadi pelengkap serta penyempurna dari nilai budaya yang kita jaga bersama,” ujarnya.

Ritual ini menegaskan peran komunitas lokal sebagai penjaga tradisi yang menghidupkan Borobudur bukan hanya sebagai monumen batu, tetapi juga sebagai ruang budaya yang terus bernapas.

Sinergi pemerintah dan budayawan dalam penempatan arca

Pemindahan Mbah Bhelet ke Lapangan Kenari dilakukan dengan pertimbangan matang. Menteri Fadli menjelaskan bahwa prosesnya telah melibatkan seniman, budayawan, pemuka adat, hingga para Bante dan Bhikkhu.

Tujuannya adalah menempatkan arca pada ruang yang memberi nilai spiritual lebih kuat sekaligus inklusif bagi wisatawan dan peziarah.

Baca juga: Menyusuri Kabut dan Pinus di Menoreh, Borobudur Highland Suguhkan Alam, Budaya, dan Petualangan

Dengan posisi baru, arca diharapkan menjadi ikon tambahan dalam wisata religi dan budaya di Borobudur, tanpa mengurangi prinsip konservasi.

Jelang Waisak 2026: Penataan ditarget selesai

Pemindahan arca dan pembangunan pedestal penyangga ditargetkan rampung sebelum perayaan Tri Suci Waisak, 31 Mei 2026. Pemerintah memastikan semua tahap berjalan harmonis dengan kegiatan keagamaan yang akan dipusatkan di kawasan Borobudur.

Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari upaya lebih besar dalam pemajuan kebudayaan nasional.

Revitalisasi situs budaya, percepatan registrasi cagar budaya, hingga penguatan museum menjadi strategi penting untuk memastikan Borobudur tetap menjadi pusat kebudayaan dunia.

Tag:  #ritual #ageng #boyongan #mbah #bhelet #harmoni #adat #spiritualitas #pelestarian #borobudur

KOMENTAR