LNG Qatar Diserang Iran, Bos Energi: Sudah Diingatkan Sejak Awal
Foto ini menunjukkan fasilitas operasional QatarEnergy di Kota Industri Ras Laffan pada 2 Maret 2026.(-)
11:04
21 Maret 2026

LNG Qatar Diserang Iran, Bos Energi: Sudah Diingatkan Sejak Awal

– Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengaku telah lama memperingatkan risiko besar jika konflik dengan Iran memicu serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk.

Peringatan itu disampaikan kepada para eksekutif perusahaan minyak dan gas mitra, termasuk pejabat Amerika Serikat (AS), jauh sebelum serangan benar-benar terjadi.

“Saya selalu mengingatkan, berbicara dengan para eksekutif perusahaan minyak dan gas yang bekerja sama dengan kami, juga dengan Menteri Energi AS, tentang konsekuensi yang bisa terjadi dan dampaknya yang merugikan bagi kami,” ujar Kaabi, dikutip dari Reuters, Sabtu (21/3/2026).

QatarEnergy diketahui bermitra dengan sejumlah raksasa energi global seperti ExxonMobil dan ConocoPhillips.

Baca juga: AS-Israel Mulai Beda Tujuan di Iran, Trump-Netanyahu Tak Padu

Serangan Iran Lumpuhkan Fasilitas LNG

Pernyataan itu muncul setelah Qatar menghadapi serangan Iran yang berdampak pada fasilitas energi strategisnya.

Serangan rudal dan drone dalam konflik yang berlangsung selama tiga pekan antara AS-Israel melawan Iran telah merusak tanker, kilang, hingga infrastruktur energi penting di kawasan Teluk.

Dampak terbesar terjadi di kompleks Ras Laffan, fasilitas gas alam cair (LNG) terbesar di dunia yang dioperasikan QatarEnergy.

Kaabi mengungkapkan, kerusakan pada fasilitas yang dibangun dengan investasi mencapai 26 miliar dollar AS itu berpotensi mengganggu pasokan LNG ke Eropa dan Asia hingga lima tahun ke depan.

Baca juga: Serangan Israel Tewaskan 1.001 Orang di Lebanon, 3.134 di Iran

Kapasitas Ekspor Turun 17 Persen

Serangan tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memangkas sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar.

Kerusakan paling krusial terjadi pada “cold box”, yakni komponen utama dalam proses pendinginan gas sebelum dikirim dalam bentuk cair.

“Unit utama itu hancur total,” kata Kaabi.

Fasilitas pendingin tersebut merupakan bagian dari dua dari total 14 unit pemrosesan (train) di kompleks Ras Laffan.

Tanpa Peringatan Serangan

Kaabi menegaskan, pihaknya tidak menerima peringatan sebelumnya terkait serangan Israel ke ladang gas South Pars milik Iran, yang memicu eskalasi konflik.

Ladang South Pars merupakan bagian dari ladang gas terbesar di dunia yang juga terhubung dengan North Field milik Qatar.

Baca juga: Harga Minyak Turun Usai AS Buka Kemungkinan Cabut Sanksi Kapal Tanker Iran

“Saya tidak mengetahui apa pun, dan saya rasa tidak ada yang tahu. Presiden Trump juga mengatakan tidak tahu, jadi bagaimana mungkin kami tahu?” ujarnya.

Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran meluncurkan serangan balasan ke infrastruktur energi di sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar.

Ekspansi Tertunda, Proyek Mangkrak

Selain merusak fasilitas yang ada, konflik juga berdampak pada rencana ekspansi besar QatarEnergy di North Field.

Proyek yang ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi LNG dari 77 juta ton menjadi 126 juta ton per tahun pada 2027 kini dipastikan tertunda.

“Tidak ada pekerjaan yang berjalan. Tidak ada pekerja di lokasi. Pasti tertunda, bisa berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun,” kata Kaabi.

Evakuasi besar-besaran juga dilakukan, dengan sekitar 10.000 pekerja dipindahkan dalam waktu 24 jam dan seluruh operasi dihentikan sementara.

Baca juga: Klaim Tak Tahu-menahu, Trump Ancam Hancurkan Ladang Gas Iran Jika Qatar Diserang Lagi 

Meski demikian, Kaabi memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Kaabi menambahkan, produksi QatarEnergy baru bisa kembali normal jika konflik mereda. Setelah itu pun dibutuhkan waktu setidaknya tiga hingga empat bulan untuk kembali beroperasi penuh.

Sementara itu, perusahaan masih mengkaji apakah kerugian akibat perang dapat ditanggung oleh asuransi.

Dampak Ekonomi Meluas

Lebih jauh, Kaabi menilai konflik ini membawa dampak luas terhadap ekonomi kawasan Teluk.

“Ini membuat kawasan mundur 10 hingga 20 tahun,” ujarnya.

Ia menyebut sektor pariwisata lumpuh, penerbangan terganggu, perdagangan menurun, hingga aktivitas pelabuhan nyaris terhenti.

Negara-negara yang bergantung pada minyak dan gas pun mengalami tekanan besar karena penurunan pendapatan, yang pada akhirnya akan berdampak pada belanja pemerintah.

Ketika ditanya soal perasaannya atas serangan terhadap negaranya dan perusahaan yang dipimpinnya, Kaabi sempat terdiam.

“Sulit untuk menggambarkannya,” ujarnya singkat.

Tag:  #qatar #diserang #iran #energi #sudah #diingatkan #sejak #awal

KOMENTAR