Putin Diintai Ancaman Pembunuhan dan Kudeta, Dilaporkan Tinggal di Bunker Bawah Tanah
Kemananan Presiden Rusia Vladimir Putin semakin diperketat, seiring dengan munculnya isu ancaman pembunuhan dan kudeta.(SPUTNIK/MIKHAIL VOSKRESENSKIY via AFP)
21:12
6 Mei 2026

Putin Diintai Ancaman Pembunuhan dan Kudeta, Dilaporkan Tinggal di Bunker Bawah Tanah

Kremlin dilaporkan memperketat pengamanan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin di tengah meningkatnya kekhawatiran soal ancaman pembunuhan dan potensi kudeta internal.

Berdasarkan laporan intelijen, sebagaimana dilansir First Post, Selasa (5/5/2026), situasi di lingkar kekuasaan Rusia kini berada dalam kondisi “siaga tinggi” sejak awal Maret 2026.

Pengetatan ini terjadi seiring tekanan berkepanjangan akibat perang di Ukraina serta meningkatnya ketegangan di dalam elite Rusia.

Baca juga: Piala Oscar dari Film tentang Putin Hilang di Bandara AS, Maskapai Panik

Aktivitas beralih ke fasilitas bawah tanah

Sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, Putin disebut menghabiskan waktu lebih lama di fasilitas bawah tanah yang diperkuat keamanannya.

Lokasi-lokasi ini, termasuk di wilayah Krasnodar dekat Laut Hitam, dilaporkan dirancang untuk menopang aktivitas dalam jangka panjang.

Ia disebut dapat berada di fasilitas tersebut selama berminggu-minggu untuk mengawasi operasi militer dan berkomunikasi dengan para komandan.

“Orang dalam" turut diawasi

Laporan intelijen menyebut bahwa pengawasan bahkan diperluas hingga ke kehidupan pribadi orang-orang terdekat Putin, termasuk koki, fotografer, dan staf keamanan, yang disebut turut dipantau hingga ke rumah mereka.

Mereka juga menghadapi pembatasan dalam aktivitas sehari-hari, seperti larangan menggunakan transportasi umum.

Selain itu, komunikasi dengan orang-orang yang memiliki akses ke Putin dibatasi secara ketat dengan penggunaan perangkat tanpa akses internet guna mengurangi risiko penyadapan atau kebocoran informasi.

Setiap tamu yang ingin bertemu Putin harus melalui beberapa lapis pemeriksaan. Praktik ini sebenarnya bukan hal baru, namun laporan terbaru menunjukkan skala dan intensitasnya meningkat secara signifikan.

Pergerakan Putin makin terbatas

Pengetatan keamanan turut berdampak pada mobilitas Putin. Laporan intelijen menyebut jumlah lokasi yang ia kunjungi secara rutin kini berkurang drastis.

Beberapa kediaman yang sebelumnya kerap digunakan, termasuk di wilayah Moskwa dan Valdai, disebut tidak lagi menjadi bagian dari rutinitasnya.

Putin juga dilaporkan belum mengunjungi fasilitas militer sepanjang 2026, berbeda dengan tahun sebelumnya ketika kunjungan semacam itu lebih sering dilakukan.

Meski demikian, Kremlin tetap berupaya menampilkan kesan aktivitas normal, antara lain melalui penggunaan rekaman yang telah disiapkan sebelumnya.

Baca juga: Usai Disambangi Menlu Iran, Putin Telepon Trump 90 Menit, Bahas Apa?

Putin juga masih melakukan sejumlah pertemuan terbatas dengan tokoh regional dan internasional, seperti pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang disebut berlangsung dalam kondisi sangat terkendali.

Dampak Perang Ukraina

Foto ini menunjukkan bunga dan mainan yang dibawa oleh orang-orang di depan sebuah bangunan tempat tinggal di Kyiv pada Kamis (1/8/2025), sebagian hancur setelah serangan rudal Rusia pada pagi hari tanggal 31 Juli 2025. Pemerintah Ukraina mengatakan bahwa serangan Rusia di ibu kota, Kyiv, pada Kamis (31/7/2025) menjadi yang paling parah selama setahun ini. AFP/SERGEI SUPINSKY Foto ini menunjukkan bunga dan mainan yang dibawa oleh orang-orang di depan sebuah bangunan tempat tinggal di Kyiv pada Kamis (1/8/2025), sebagian hancur setelah serangan rudal Rusia pada pagi hari tanggal 31 Juli 2025. Pemerintah Ukraina mengatakan bahwa serangan Rusia di ibu kota, Kyiv, pada Kamis (31/7/2025) menjadi yang paling parah selama setahun ini.

Perang di Ukraina turut memberi tekanan besar bagi Rusia. Perkiraan Barat menyebut korban bulanan mencapai puluhan ribu, sementara kemajuan teritorial dinilai terbatas.

Dari sisi ekonomi, dampak konflik mulai terasa dengan gangguan layanan data seluler di kota-kota besar yang memicu frustrasi publik.

Gangguan ini disebut sebagai bagian dari langkah pengamanan, namun berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sentimen publik juga disebut mengalami perubahan. Data survei yang dikutip dalam laporan menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Putin menurun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh kondisi ekonomi, kenaikan harga, serta pembatasan akses internet.

Pada 9 Mei mendatang, yang bertepatan dengan Parade Hari Kemenangan, acara disebut akan digelar tanpa menampilkan alat utama sistem persenjataan berat seperti kendaraan lapis baja dan sistem rudal.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengaitkan keputusan ini dengan situasi ancaman yang ada. Ia menyatakan, “Dengan latar belakang ancaman teroris ini, tentu semua langkah diambil untuk meminimalkan bahaya.”

Acara tersebut juga diperkirakan akan dihadiri lebih sedikit pejabat tinggi dari luar negeri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Serangan terhadap pejabat militer

Salah satu pemicu peningkatan kewaspadaan adalah serangkaian serangan terhadap tokoh militer Rusia.

Insiden paling menonjol adalah tewasnya Letnan Jenderal Fanil Sarvarov di Moskwa pada 22 Desember 2025, yang dilaporkan melibatkan operatif Ukraina.

Peristiwa ini memicu rapat darurat yang diwarnai ketegangan di kalangan pejabat tinggi. Kepala Staf Umum Rusia, Valery Gerasimov, disebut mengkritik keras pimpinan dinas keamanan karena dinilai gagal mengantisipasi ancaman.

Laporan tersebut menyebut, “Menekankan ketakutan dan demoralisasi yang ditimbulkan di kalangan personel (militer), Valery Gerasimov dengan keras mengkritik rekan-rekannya di dinas khusus atas kurangnya antisipasi.”

Disebutkan pula, “Di akhir pertemuan yang tegang ini, Vladimir Putin menyerukan ketenangan, mengusulkan format kerja alternatif, dan menginstruksikan para peserta untuk menyampaikan solusi konkret dalam waktu satu minggu.”

Isu kudeta

Selain ancaman eksternal, laporan intelijen juga menyoroti kekhawatiran akan potensi kudeta atau konspirasi internal. Nama Sergei Shoigu disebut memiliki pengaruh besar di kalangan militer dan dikaitkan dengan potensi risiko tersebut.

Laporan juga menyinggung penangkapan Ruslan Tsalikov, mantan deputi dan sekutu Shoigu, pada 5 Maret, dengan tuduhan penggelapan, pencucian uang, dan suap. Perkembangan ini ditafsirkan sebagai indikasi perubahan dinamika kekuatan di dalam elite Rusia.

Meskipun tidak ada bukti langsung mengenai rencana kudeta, laporan tersebut mencerminkan tingginya tingkat ketidakpercayaan di antara para pemimpin Rusia.

Situasi ini mengingatkan pada peristiwa Juni 2023 ketika pemimpin kelompok Wagner, Yevgeny Prigozhin, memimpin pergerakan bersenjata menuju Moskwa, yang sempat mengguncang stabilitas internal Rusia.

Baca juga: Babak Baru Hubungan AS-Rusia, Trump Mau Boyong Putin ke KTT G20

Tag:  #putin #diintai #ancaman #pembunuhan #kudeta #dilaporkan #tinggal #bunker #bawah #tanah

KOMENTAR