Trump Mau Kuasai Minyak Iran, Sebut AS Bisa Buka Selat Hormuz
– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan merebut minyak Iran di tengah perang yang masih berlangsung. Ia juga menyebut opsi membuka Selat Hormuz jika konflik berlangsung lebih lama.
“Dengan sedikit waktu lagi, kita dapat dengan mudah MEMBUKA SELAT HORMUZ, MENGAMBIL MINYAKNYA, & MENGHASILKAN KEUNTUNGAN BESAR. ITU AKAN MENJADI 'SEMBURAN MINYAK' BAGI DUNIA???,” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya Truth Social, Jumat (3/4/2026).
Pernyataan tersebut muncul hanya tiga hari setelah Trump menegaskan bahwa perang tidak berkaitan dengan minyak. Hal ini menambah daftar perubahan pernyataannya sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026.
Baca juga: Usai Bersitegang dengan Trump, Macron Ajak Dunia Tak Bergantung pada AS
Dilansir dari The Guardian, Trump dalam beberapa kesempatan menyampaikan pernyataan yang berbeda terkait arah konflik. Ia sempat menyebut perang hampir selesai, namun di saat yang sama tetap membuka kemungkinan serangan lanjutan terhadap infrastruktur Iran.
Sikapnya terhadap Selat Hormuz juga berubah. Trump pernah menyatakan negara lain dapat membuka jalur tersebut sendiri, tetapi kemudian mengklaim AS bisa melakukannya dengan mudah.
Klaim negosiasi hingga bantahan Iran
Pada 29 Maret 2026, Trump menyebut negosiasi dengan Iran berjalan baik. Ia mengklaim Teheran telah menyetujui sebagian besar dari 15 tuntutan AS yang disampaikan melalui Pakistan.
"Mereka memberi kami sebagian besar poin. Mengapa tidak? Mereka setuju dengan rencana kami. Kami meminta 15 hal, dan sebagian besar, kami akan meminta beberapa hal lainnya," ujar Trump.
Baca juga: Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran, Ketegangan Meningkat
Trump juga menyatakan Iran mengirim minyak sebagai tanda keseriusan. Ia bahkan membuka opsi untuk mengambil minyak Iran dan mempertimbangkan merebut Pulau Kharg yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut.
Namun, klaim itu dibantah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan.
Ancaman hancurkan infrastruktur
Sehari kemudian, Trump menyebut ada “kemajuan besar” dalam pembicaraan dengan apa yang ia sebut sebagai “rezim baru” di Iran.
Pada saat bersamaan, ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik, ladang minyak, hingga fasilitas vital lainnya jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Ancaman tersebut berlanjut pada 1 April 2026. Trump mengklaim Iran meminta gencatan senjata, namun hal itu dibantah pemerintah Iran sebagai pernyataan tidak berdasar.
Baca juga: Anggaran 2,2 Triliun Dollar AS Trump: Belanja Militer Naik, Program Sosial Dipangkas
Dalam pidato resmi di Gedung Putih, Trump menyebut tujuan utama perang hampir tercapai, tetapi tetap mengancam akan membawa Iran kembali ke “zaman batu”.
"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras. Dalam dua hingga tiga minggu ke depan, kita akan mengembalikan mereka ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada,” ujarnya.
Ancaman serangan lanjutan
Pada 2 April 2026, Trump kembali melontarkan ancaman terhadap infrastruktur Iran.
“Kepemimpinan Rezim Baru tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan, CEPAT! AS bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran. Jembatan selanjutnya, lalu Pembangkit Listrik!” tulis Trump.
Pernyataan itu muncul setelah serangan udara menghantam jembatan di Iran dan menjadi bagian dari eskalasi retorika Washington terhadap Teheran.
Tag: #trump #kuasai #minyak #iran #sebut #bisa #buka #selat #hormuz