Tertekan Biaya Hidup, Kelas Menengah RI Andalkan ''Side Hustle''
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengimbau perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD menerapkan Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.(ANTARA FOTO/Salma Talita)
15:08
16 April 2026

Tertekan Biaya Hidup, Kelas Menengah RI Andalkan ''Side Hustle''

Kelas menengah Indonesia berada dalam fase perubahan yang signifikan.

Riset terbaru Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 memotret kelompok ini bukan hanya sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga sebagai kelompok yang tengah menghadapi tekanan struktural sekaligus beradaptasi secara aktif.

Laporan yang dirilis Katadata Insight Center (KIC) ini disusun melalui survei nasional terhadap 1.000 responden pada periode kuartal IV 2025 hingga kuartal I 2026.

Baca juga: Kelas Menengah, Kemiskinan, dan Reorientasi Kebijakan Ekonomi

Pekerja pulang dari kantor di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini, sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaran.HARIAN KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Pekerja pulang dari kantor di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini, sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaran.

Riset ini secara khusus menggali kondisi ekonomi, perilaku konsumsi, strategi keuangan, hingga kecemasan masa depan kelas menengah.

Co-founder & CEO Katadata Indonesia Metta Dharmasaputra berharap hasil riset ini dapat menjadi acuan dalam memahami kondisi kelas menengah.

“Mudah-mudahan KIMCI di tahun keduanya bisa menjadi acuan untuk memahami peta lanskap middle class di Indonesia,” ujar Metta dalam pernyataan tertulis, Kamis (16/4/2026).

Kelas menengah Indonesia: menyusut, tapi tetap dominan

Salah satu temuan utama dalam KIMCI 2026 adalah menyusutnya jumlah kelas menengah.

Baca juga: Masyarakat Kelas Menengah Tulang Punggung Perekonomian Indonesia

Data menunjukkan proporsi kelas menengah turun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 16,9 persen pada 2024. Di sisi lain, kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) justru meningkat hingga 48,8 persen.

Penurunan ini terjadi di tengah peran kelas menengah yang masih sangat dominan dalam ekonomi.

Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.HARIAN KOMPAS/PRIYOMBODO Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.

Pada 2024, kelompok ini menyumbang 81,5 persen dari total konsumsi rumah tangga. Sementara konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 58,8 persen terhadap PDB Indonesia.

Dalam laporan KIMCI disebutkan, kelas menengah merupakan tulang punggung perekonomian, motor penggerak konsumsi, penopang stabilitas, dan menjadi kunci bagi pertumbuhan ke depan.

Baca juga: Sarjana Rp 4,6 Juta dan Ilusi Kelas Menengah Indonesia

Namun, tren penurunan jumlah tersebut menjadi sinyal penting. Riset ini menyebut kondisi tersebut sebagai indikasi meningkatnya kerentanan kelas menengah.

“Alarm sunyi” tekanan ekonomi

KIMCI 2026 menggambarkan situasi kelas menengah sebagai sebuah “alarm sunyi” yang mencerminkan tekanan ekonomi yang tidak selalu terlihat, tetapi nyata dirasakan.

Tekanan ini berasal dari kombinasi kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, dan meningkatnya kebutuhan dasar.

Dalam laporan disebutkan, kelas menengah tidak hanya berjuang untuk naik, tetapi juga bertahan agar tidak turun.

Baca juga: Jika Kelas Menengah Tumbang

Tekanan tersebut tercermin dalam empat sumber keresahan utama, yakni sebagai berikut.

  • Kecukupan penghasilan terhadap kebutuhan hidup
  • Kesulitan memiliki rumah
  • Biaya pendidikan yang terus meningkat
  • Risiko biaya kesehatan, terutama di masa tua

Keempat aspek ini saling terkait dan memperlihatkan bagaimana ruang keuangan kelas menengah semakin terbatas.

Daya beli melemah, konsumsi bergeser

Hasil riset juga menunjukkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi.

Ilustrasi masyarakat kelas menengah berbelanja di sebuah mal di Jakarta. KOMPAS.com/Krismas Wahyu Utami Ilustrasi masyarakat kelas menengah berbelanja di sebuah mal di Jakarta.

Kelas menengah kini meningkatkan porsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok, seperti makanan dan rumah tangga, sementara pengeluaran untuk barang tahan lama dan jasa menurun.

Baca juga: Jadi Kontributor Utama Konsumsi Nasional, Jumlah Kelas Menengah RI Terus Merosot

Perubahan ini menjadi indikator melemahnya daya beli.

“Penurunan konsumsi pada kategori ini mencerminkan adanya tekanan ekonomi yang menyebabkan daya beli kelas menengah menurun,” demikian temuan dalam laporan KIMCI.

Selain itu, inflasi disebut turut mendorong perubahan perilaku konsumsi, di mana masyarakat lebih fokus pada kebutuhan esensial.

Struktur keuangan kelas menengah Indonesia: tertekan tapi tetap disiplin

KIMCI 2026 juga mengungkap struktur keuangan rumah tangga kelas menengah. Sebanyak 40,5 persen pendapatan digunakan untuk konsumsi harian, sementara 16,4 persen dialokasikan untuk cicilan atau pinjaman.

Baca juga: Kembalikan Daya Beli, Kelas Menengah Butuh Lapangan Kerja Berkualitas

Artinya, lebih dari separuh pendapatan terserap untuk kebutuhan rutin dan kewajiban finansial.

Di sisi lain, kelas menengah tetap mengalokasikan 21,8 persen pendapatan untuk tabungan dan investasi.

Temuan ini menunjukkan adanya disiplin finansial di tengah keterbatasan ruang fiskal rumah tangga.

Namun, tekanan tetap terasa. Sebanyak 63,6 persen responden mengaku pernah mengalami kondisi di mana pengeluaran lebih besar daripada penghasilan.

Baca juga: UOB: Manufaktur Jadi Kunci Tingkatkan Daya Beli Kelas Menengah

Situasi ini menggambarkan rapuhnya ketahanan finansial kelas menengah terhadap guncangan ekonomi.

Ilustrasi rutinitas pekerja di Jakarta KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN Ilustrasi rutinitas pekerja di Jakarta

Side hustle jadi “lapisan pengaman”

Salah satu respons paling nyata terhadap tekanan ekonomi adalah meningkatnya pekerjaan sampingan alias side hustle.

Riset menunjukkan sekitar 46,3 persen responden memiliki pekerjaan sampingan, dan 94,8 persen dari mereka berencana melanjutkannya dalam lima tahun ke depan.

Fenomena ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap pendapatan.

Baca juga: Di Antara Mimpi dan Cicilan, Ujian Kelas Menengah Indonesia Wujudkan Kepemilikan Rumah

Vice President Finance & Business Development Katadata Ivan Triyogo Priambodo menyebut bahwa pekerjaan sampingan kini bukan sekadar tambahan.

“Bagi kelas menengah satu sumber pendapatan tidak lagi cukup untuk memberikan kepastian karena itu pekerjaan sampingan bukan sekedar tambahan melainkan sebuah lapisan pengaman,” ujar Ivan.

Motivasi utama melakukan side hustle adalah untuk meningkatkan pendapatan (53,1 persen) dan menambah tabungan (41,5 persen).

Namun, pekerjaan sampingan juga mulai dimanfaatkan untuk pengembangan diri dan persiapan jangka panjang, seperti wirausaha.

Baca juga: Warren Buffett: 5 Perangkap Mental Ini Bikin Kelas Menengah Sulit Kaya

Investasi bergeser jadi alat bertahan

KIMCI 2026 juga mencatat perubahan penting dalam perilaku investasi. Kepemilikan instrumen investasi seperti saham, reksa dana, dan aset kripto menunjukkan tren peningkatan.

Namun, motivasi investasi mengalami pergeseran.

Investasi tidak lagi hanya bertujuan untuk pertumbuhan kekayaan, tetapi menjadi strategi untuk menjaga daya beli di tengah inflasi.

Hal ini terlihat dari motivasi utama menabung dan berinvestasi yang didominasi oleh kebutuhan darurat (66,8 persen).

Ilustrasi investasi. Menjelang akhir 2025, pasar keuangan kembali bergejolak. Para analis menyarankan investor tetap tenang dan disiplin agar peluang cuan tidak hilang di tengah ketidakpastian.PIXABAY/NATTANAN KANCHANAPRAT Ilustrasi investasi. Menjelang akhir 2025, pasar keuangan kembali bergejolak. Para analis menyarankan investor tetap tenang dan disiplin agar peluang cuan tidak hilang di tengah ketidakpastian.

Baca juga: 5 Kesalahan Keuangan yang Bisa Menggerus Kekayaan Kelas Menengah

Motivasi lain termasuk menjaga aset dari inflasi (33 persen) dan mencari penghasilan tambahan (30,1 persen).

Dalam laporan disebutkan bahwa investasi kini lebih berfungsi sebagai alat defensif untuk menjaga stabilitas keuangan rumah tangga.

Konsumen semakin berbasis nilai

Perubahan juga terlihat pada perilaku konsumsi.

Sebanyak 49,5 persen responden menyebut kualitas, kegunaan, dan pengalaman sebagai faktor utama dalam membeli produk, sementara harga hanya dipilih oleh 12,5 persen responden.

Baca juga: Pemerintah Pertebal Jaring Pengaman Sosial untuk Kelas Menengah Rentan

Hal ini menunjukkan pergeseran menuju konsumsi berbasis nilai.

“Kelas menengah kini berevolusi menjadi konsumen cerdas yang lebih memprioritaskan fungsi dan ketahanan produk dibandingkan sekadar harga murah,” demikian temuan dalam laporan KIMCI.

Temuan ini juga diperkuat oleh pernyataan Ivan.

“Keputusan belanja tidak semata-mata ditentukan harga yang paling murah. Yang semakin penting bagi mereka adalah nilai,” ujarnya.

Baca juga: 10 Kebiasaan Orang Kaya yang Bisa Dipelajari Kelas Menengah

Tekanan pada hunian, pendidikan, dan kesehatan

Riset KIMCI juga menyoroti tiga sektor utama yang menjadi sumber tekanan terbesar.

Pertama, hunian. Sebanyak 35 persen responden menyebut harga rumah yang mahal sebagai hambatan utama, sementara 29 persen menghadapi keterbatasan akses pembiayaan.

Ilustrasi pendidikan.freepik.com Ilustrasi pendidikan.

Kedua, pendidikan. Hampir seluruh responden (99 persen) berharap anaknya memiliki pendidikan yang lebih tinggi, tetapi biaya pendidikan menjadi salah satu aspek dengan penilaian terendah.

Ketiga, kesehatan. Biaya kesehatan dinilai sebagai risiko terbesar yang dapat mengganggu stabilitas keuangan.

Baca juga: 5 Hal yang Dianggap Aset oleh Kelas Menengah, Padahal Bukan

Dalam laporan disebutkan, biaya kesehatan dipandang sebagai “bom waktu” yang dapat menguras tabungan dalam waktu singkat.

Kecemasan masa depan meningkat

Selain tekanan saat ini, riset juga menunjukkan meningkatnya kecemasan terhadap masa depan.

Penurunan kondisi kesehatan menjadi kekhawatiran terbesar, dengan persentase mencapai 62,3 persen. Disusul kekhawatiran terhadap ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup setelah pensiun (47,1 persen).

Meski demikian, kesadaran untuk mempersiapkan masa depan sudah mulai terlihat.

Baca juga: 5 Perbedaan Pola Pikir Orang Miskin, Kelas Menengah, dan Orang Kaya

Berbagai langkah dilakukan, seperti menerapkan pola hidup sehat (64,2 persen), menyiapkan tabungan darurat (56,7 persen), dan mulai berwirausaha (51,3 persen).

Namun, laporan mencatat bahwa kesiapan tersebut masih belum optimal karena keterbatasan ruang finansial.

Peran kebijakan publik

Di tengah tekanan tersebut, riset KIMCI menekankan pentingnya peran kebijakan publik.

Research Analyst Katadata Insight Center Kholis Dana P. menyebut bahwa kebijakan harus mampu menjaga daya beli dan mendukung keberlanjutan kelas menengah.

Baca juga: Benarkah Makan Tabungan Jadi Satu-satunya Masalah Kelas Menengah?

“Kebijakan publik memiliki peran penting mulai dari menjaga daya beli, mengendalikan biaya hidup, memperluas akses terhadap pekerjaan, hingga perlindungan sosial yang adaptif,” kata Kholis.

Ia juga menegaskan bahwa kelas menengah harus tetap didorong untuk berkembang.

“Kelas menengah bukan hanya tentang perlindungan, tetapi tentang memastikan mereka tetap tumbuh dan berkontribusi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Tag:  #tertekan #biaya #hidup #kelas #menengah #andalkan #side #hustle

KOMENTAR