Strategi Iran “Akal-akalan” Ekspor Minyak di Tengah Blokade AS
Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi(AFP/ATTA KENARE)
15:36
17 April 2026

Strategi Iran “Akal-akalan” Ekspor Minyak di Tengah Blokade AS

Tekanan terhadap ekspor minyak Iran kian meningkat setelah Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade laut terhadap aktivitas pelayaran dari dan menuju pelabuhan Iran.

Namun, di tengah pembatasan tersebut, Teheran masih menemukan celah untuk menjaga aliran minyaknya tetap bergerak ke pasar global.

Dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (17/4/2026), data pelacakan kapal menunjukkan, Iran telah mengirim sekitar 9 juta barrel minyak mentah dari penyimpanan terapung (floating storage) di Teluk Oman sejak blokade mulai berlaku pada 13 April 2026.

Baca juga: Bahlil Sebut Minyak Rusia Mulai Dikirim ke RI Bulan Ini

Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.

Layanan pemantau kapal TankerTrackers mencatat, pengiriman tersebut menjadi salah satu strategi utama Iran untuk mempertahankan ekspor di tengah tekanan militer dan sanksi.

Tak hanya itu, sekitar 2 juta barrel tambahan bahkan sudah dikirim sehari sebelum blokade resmi diberlakukan.

Ini menunjukkan Iran telah mengantisipasi pembatasan ini dengan mempercepat pengapalan dari stok yang tersedia.

Memanfaatkan stok terapung

Penggunaan floating storage menjadi kunci dalam strategi Iran saat ini. Ketika akses keluar-masuk pelabuhan dibatasi, minyak yang sudah tersimpan di kapal tanker di laut menjadi alternatif untuk tetap memasok pasar.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Usai Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir

Langkah ini memungkinkan Iran tetap menyalurkan minyak tanpa harus bergantung pada fasilitas darat yang lebih mudah diawasi atau diblokade.

Selain itu, strategi ini juga memberi fleksibilitas logistik. Minyak yang sudah berada di laut dapat dialihkan ke pembeli melalui berbagai mekanisme, termasuk transfer antar kapal (ship-to-ship transfer), yang selama ini kerap digunakan dalam perdagangan minyak Iran di bawah sanksi.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Namun, pendekatan ini bukan tanpa batas. Kapasitas penyimpanan terapung tetap terbatas, dan keberlanjutan strategi ini sangat bergantung pada kemampuan Iran menjaga arus keluar dari stok tersebut.

Blokade dan tekanan terhadap ekspor

Blokade AS menargetkan langsung jalur ekspor utama Iran, yang selama ini mengandalkan pengiriman laut melalui Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya.

Baca juga: Cari Cara Angkut Minyak ke RI, Dubes Rusia: Perusahaan Perkapalan Barat Enggan Kerja Sama

Kebijakan ini bertujuan mencegah kapal bepergian ke dan dari pelabuhan Iran, sekaligus menekan ekspor minyak yang selama ini mencapai sekitar 2 juta barrel per hari (bph). 

Langkah tersebut diambil setelah gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang kemudian meningkatkan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Sejak blokade diberlakukan, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut langsung terdampak. Sejumlah kapal dilaporkan berbalik arah, sementara lalu lintas melalui Selat Hormuz menurun tajam.

Pelaku pasar, termasuk trader dan pemilik kapal, kini terus memantau apakah Iran mampu mempertahankan ekspor melalui jalur alternatif seperti penyimpanan terapung atau armada bayangan (shadow fleet).

Baca juga: Kilang Pertamina Siap Olah Suplai Minyak Mentah dari Rusia

Gambaran lalu lintas kapal yang terganggu

Data pelayaran menunjukkan perubahan signifikan dalam pergerakan kapal di kawasan tersebut.

Dalam 24 jam terakhir hingga Kamis pagi waktu setempat, setidaknya 11 kapal masih melintas di Selat Hormuz, meskipun dengan volume yang jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal.

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Di sisi lain, laporan juga menyebutkan adanya kapal-kapal yang mencoba tetap beroperasi meski menghadapi risiko tinggi akibat blokade.

Beberapa tanker yang terkait dengan Iran atau telah dikenai sanksi tetap berupaya memasuki kawasan Teluk, menunjukkan bahwa implementasi blokade belum sepenuhnya merata.

Baca juga: Pasar Ragukan Perundingan AS-Iran, Harga Minyak Dunia Naik Jadi 99,39 Dollar AS Per Barrel

Dua supertanker yang dikenai sanksi AS dilaporkan memasuki Teluk pekan ini meski ada blokade.

Namun demikian, banyak kapal lain memilih menghindari kawasan tersebut karena meningkatnya risiko keamanan dan ketidakpastian.

Dampak terhadap pasar energi global

Blokade terhadap ekspor minyak Iran berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi global.

Sebagai salah satu produsen utama, Iran memasok sekitar 2 juta barrel minyak per hari ke pasar internasional, sebagian besar ke China.

Baca juga: Impor Minyak dari Rusia, Bahlil Pastikan Tak Ganggu Perjanjian RI dengan AS

Gangguan terhadap pasokan sebesar itu berisiko memperketat keseimbangan pasar, terutama di tengah kondisi geopolitik yang sudah memanas.

Selain itu, pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu choke point energi terpenting dunia, juga meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya distribusi minyak global secara lebih luas.

Situasi ini membuat pelaku pasar energi semakin waspada terhadap potensi lonjakan harga minyak jika gangguan berlanjut.

Strategi bertahan Iran

Di tengah tekanan tersebut, Iran tidak hanya mengandalkan penyimpanan terapung, tetapi juga kemungkinan memanfaatkan berbagai metode lain untuk mempertahankan ekspor.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/BOB63 Ilustrasi kapal tanker.

Baca juga: BBM Ditahan Meski Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Siapkan Tambahan Subsidi

Selama ini, Iran dikenal memiliki jaringan perdagangan minyak yang fleksibel, termasuk penggunaan kapal dengan identitas yang disamarkan serta transfer muatan di laut untuk menghindari pengawasan.

Kondisi saat ini memperlihatkan bahwa strategi tersebut masih digunakan, meskipun dalam skala yang lebih terbatas akibat meningkatnya pengawasan militer.

Pengiriman 9 juta barrel dari floating storage menjadi bukti bahwa Iran masih memiliki ruang untuk bergerak, setidaknya dalam jangka pendek.

Namun, efektivitas strategi ini akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di lapangan, termasuk ketat atau longgarnya implementasi blokade oleh AS.

Baca juga: IEA Ungkap Dampak Perang Iran: Pasokan Minyak Terganggu, Permintaan Menyusut

Ketidakpastian ke depan

Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau dua hal utama: kemampuan Iran mempertahankan aliran ekspor dan dampak blokade terhadap pasokan global.

Jika Iran mampu terus memanfaatkan stok terapung dan jalur alternatif, maka gangguan pasokan mungkin dapat ditekan.

Sebaliknya, jika blokade semakin efektif dan ruang gerak Iran menyempit, maka tekanan terhadap pasar energi global berpotensi meningkat.

Sejauh ini, data menunjukkan bahwa Iran masih mampu menjaga sebagian aliran minyaknya tetap berjalan, meski dalam kondisi yang jauh dari normal.

Baca juga: Blokade Selat Hormuz Tekan Pasokan, Harga Minyak Bertahan di Atas 90 Dollar AS

Pengiriman jutaan barrel minyak dari laut menjadi gambaran bagaimana negara tersebut beradaptasi di tengah tekanan geopolitik dan ekonomi yang semakin intens.

Tag:  #strategi #iran #akal #akalan #ekspor #minyak #tengah #blokade

KOMENTAR