Rupiah Melemah Paling Dalam di Asia, Analis Sebut Defisit Anggaran Jadi Beban
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS.(KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA)
10:16
18 April 2026

Rupiah Melemah Paling Dalam di Asia, Analis Sebut Defisit Anggaran Jadi Beban

- Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus terdepresiasi atau melemah.

Tekanan yang mata uang Garuda tak sekadar dipicu faktor global, namun juga disebabkan oleh defisit fiskal atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mendekati batas atas.

Hal itu membebani persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Tanah Air.

Nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris menyentuh Rp 17.200 per dollar AS saat penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Rupiah Hampir Rp 17.200 per Dollar AS, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 50 poin atau 0,29 persen ke level Rp 17.188 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 17.138 per dollar AS.

Kurs rupiah Jisdor hari ini pun ditutup ke posisi Rp 17.189 per dollar AS, melemah 47 poin atau 0,27 persen dari penutupan perdagangan kemarin.

Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor melemah 0,45 persen dari Rp 17.112 per dollar AS pada Jumat pekan lalu.

Adapun, mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah terhadap dollar AS pada perdagangan Kamis (17/4/2026) waktu New York.

Namun, rupiah mencatatkan depresiasi paling dalam dibandingkan mata uang kawasan lainnya.

Berdasarkan data Reuters, pergerakan mata uang Asia menunjukkan mayoritas berada di zona merah terhadap dollar AS.

Rupiah mencatat depresiasi terdalam atau 0,26 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,16 persen dan yen Jepang turun 0,14 persen.

Baht Thailand terkoreksi 0,12 persen, diikuti ringgit Malaysia yang melemah 0,08 persen serta dollar Singapura turun tipis 0,05 persen.

Sementara itu, yuan China relatif stabil dengan pelemahan terbatas 0,02 persen.

Di tengah tekanan tersebut, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang yang menguat, dengan kenaikan 0,07 persen terhadap dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah saat ini tidak lagi sepenuhnya dipengaruhi faktor global.

Menurutnya, tekanan utama justru datang dari dalam negeri, khususnya terkait defisit anggaran yang semakin mendekati batas atas 3 persen.

Defisit APBN 2026 sebelumnya diperkirakan akan melebar ke 2,9 persen karena kenaikan harga minyak dunia, bahkan diprediksi bisa turun sedikit ke kisaran 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun angka itu masih lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen, pemerintah memastikan tetap menjaga defisit di bawah 3 persen dari PDB.

“Bagaimana posisinya nilai tukar rupiah dibandingkan dengan mata uang negara lainnya? Ya mata uang rupiah saat ini mungkin pelemahannya lebih tajam dibandingkan dengan mata uang negara lain,” ujar Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Jumat.

Meskipun dollar AS sempat melemah pada Jumat sore waktu Indonesia, dan sejumlah indikator eksternal menunjukkan perbaikan, rupiah tetap tidak mampu menguat.

Hal itu mencerminkan sentimen negatif domestik yang lebih dominan dibandingkan faktor global.

“Ya karena kita lihat tadi pun juga dollar AS ini sedikit melemah ya. Kemudian data eksternal pun juga sepertinya cukup bagus, tetapi rupanya rupiah masih terus mengalami pelemahan,” paparnya.

“Karena apa? Karena lagi-lagi saya katakan, saya lihat tentang masalah defisit anggaran yang masih dijadikan sebagai momok. Ya karena kita lihat bahwa hampir mendekati 2,9 persen. Nah ini yang cukup menarik sehingga mata uang rupiah terus mengalami pelemahan,” kata Ibrahim.

Defisit Fiskal Imbas Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi

Di kawasan ASEAN, beberapa negara sudah menyesuaikan harga bahan bakar mengikuti harga pasar.

Dampaknya, beban anggaran mereka menjadi lebih ringan dan fiskal relatif lebih stabil karena tidak perlu menanggung subsidi besar.

Sementara itu, Indonesia masih mempertahankan harga BBM bersubsidi.

Ibrahim mencatat kebijakan itu membuat pemerintah harus menutup selisih harga dengan dana yang besar, apalagi kebutuhan impor minyak mentah juga tinggi.

Akibatnya, tekanan terhadap anggaran meningkat dan kebutuhan dollar untuk impor ikut membesar, yang pada akhirnya turut membebani nilai tukar rupiah.

“Anggaran pendapatan belanja negaranya itu sedikit lebih stabil dibandingkan dengan Indonesia, karena Indonesia masih mempertahankan harga BBM, terutama subsidi. Sehingga apa? Sehingga pemerintah harus mensubsidi begitu besar-besar lagi ya terhadap impor harga minyak mentah yang cukup besar,” tukasnya.

Ia pun menyarankan agar pemerintah mengkaji ulang kebijakan subsidi energi, termasuk kemungkinan penyesuaian harga BBM non-subsidi untuk menekan beban fiskal.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menyampaikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026, meskipun harga energi global bergejolak.

Kebijakan ini diambil sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto usai lawatan ke Rusia dan Prancis.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan keputusan tersebut didukung oleh kondisi pasokan energi nasional yang masih terjaga.

Ia memastikan ketersediaan stok BBM, baik solar, bensin, maupun elpiji, berada di atas batas minimum sehingga relatif aman.

“Insyaallah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, bensin, maupun elpiji. Kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun,” ungkap Bahlil dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).

Dari sisi fiskal, pemerintah menilai kebijakan ini masih dapat dijalankan tanpa memberikan tekanan berlebih pada anggaran negara.

Hal ini didukung oleh harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang masih berada di bawah asumsi dalam APBN.

Bahlil menjelaskan, selama harga ICP berada di bawah level 100 dollar AS per barrel, kebijakan subsidi masih dalam batas aman.

Hingga saat ini, rata-rata ICP sejak Januari tercatat tidak melebihi 77 dollar AS per barrel, sehingga ruang fiskal dinilai masih cukup untuk menjaga stabilitas harga BBM subsidi.

Meski demikian, dari sisi pasokan, Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor yang cukup besar.

Konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barrel per hari, sementara produksi dalam negeri baru berada di kisaran 600.000 hingga 610.000 barrel per hari.

Artinya, terdapat kebutuhan impor sekitar 1 juta barrel per hari untuk menutup kekurangan tersebut.

Untuk memperkuat ketahanan energi, pemerintah membuka peluang kerja sama strategis dengan Rusia, tidak hanya terkait pasokan minyak mentah, tetapi juga investasi di sektor infrastruktur energi.

Baca juga: Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Anjlok ke Kisaran 80 Dollar AS

Tag:  #rupiah #melemah #paling #dalam #asia #analis #sebut #defisit #anggaran #jadi #beban

KOMENTAR