Harga Minyak Dunia Naik ke 105 Dollar AS Imbas Serangan Udara di Teheran
- Harga minyak dunia menguat pada akhir perdagangan Kamis (23/4/2026) waktu setempat atau Jumat (24/4/2026) pagi WIB, dipicu laporan serangan udara di Teheran serta meningkatnya ketegangan politik di Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 3,16 dollar AS atau 3,1 persen ke level 105,07 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,89 dollar AS atau 3,11 persen menjadi 95,85 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga bahkan sempat mencapai sekitar 5 dollar AS per barrel pada sesi perdagangan kemarin, sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatan.
Lonjakan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa sistem pertahanan udara Iran tengah menghadapi target di atas Teheran. Media Iran juga melaporkan adanya aktivitas pertahanan udara di wilayah tersebut.
Situasi diperburuk oleh kabar konflik internal di pemerintahan Iran antara kelompok garis keras dan moderat, serta pengunduran diri negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dari tim perunding dengan Amerika Serikat (AS) melalui perantara Pakistan.
Pengunduran diri tersebut dinilai sebagai kemenangan bagi kelompok garis keras di dalam pemerintahan Iran.
Baca juga: Serangan Kapal di Hormuz dan Penurunan Stok AS Bikin Harga Minyak Dunia Naik di Atas 100 Dollar AS
Selain itu, ketegangan meningkat setelah laporan serangan drone terhadap kelompok oposisi Kurdi Iran di sebuah pangkalan di Irak.
Iran juga menunjukkan kekuatan militernya di Selat Hormuz dengan merilis video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar, menyusul runtuhnya pembicaraan damai dengan AS yang sebelumnya diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut.
Presiden AS Donald Trump bahkan memerintahkan angkatan lautnya untuk bertindak tegas terhadap ancaman di wilayah tersebut. Dalam media sosialnya, ia meminta angkatan laut AS menembak dan menghancurkan kapal mana pun yang memasang ranjau di selat itu.
Analis Again Capital, John Kilduff, mengatakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh arus informasi yang saling bertentangan.
Pasar diterpa oleh laporan berita tentang Trump yang memperpanjang gencatan senjata minggu ini, tapi di sisi lain mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal Iran yang meletakkan ranjau.
"Sebagian orang menyebutnya permainan berita utama, saya menyebutnya roulette berita utama. Saya khawatir suatu hari kita akan bangun dan menyadari posisi pasokan jauh lebih buruk, dan harga akan melonjak ke level yang jauh lebih tinggi," ujarnya.
Baca juga: Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS
Meskipun Trump memperpanjang gencatan senjata setelah permintaan mediator Pakistan, Iran dan AS saat ini masih membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Padahal, sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari lalu, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.
Trump juga mengklaim bahwa AS kini memiliki kendali penuh atas selat tersebut.
"Kami memiliki kendali penuh atas selat itu, dan jalurnya ditutup rapat sampai Iran mencapai kesepakatan," ujarnya tanpa memberikan bukti.
Sementara itu, pada Rabu, Iran dilaporkan menyita dua kapal di perairan tersebut, sementara AS tetap mempertahankan blokade laut terhadap perdagangan Iran.
Meski demikian, data perusahaan analitik Vortexa menunjukkan sekitar 10,7 juta barrel ekspor minyak mentah Iran masih berhasil melewati Selat Hormuz antara 13 hingga 21 April.
Sumber keamanan dan pelayaran juga menyebutkan militer AS telah mencegat setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia dan mengalihkannya dari rute dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.
Kendati begitu, Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai kenaikan harga minyak mentah masih tertahan oleh optimisme pasar.
"Pasar masih percaya bahwa kita akan menemukan jalan keluar dari situasi ini," ujar Flynn.
Survei Federal Reserve Bank of Dallas terhadap 120 eksekutif perusahaan minyak dan gas menunjukkan 39 persen responden memperkirakan lalu lintas di Selat Hormuz akan kembali normal pada Agustus, dan 26 persen lainnya memperkirakan normal pada November.
Sebanyak 20 persen responden bahkan meyakini kondisi akan pulih pada Mei 2026.
Tag: #harga #minyak #dunia #naik #dollar #imbas #serangan #udara #teheran