Laba Industri China Melonjak 15,8 Persen, Tertinggi dalam 6 Bulan
Ilustrasi China. (Shutterstock)
10:44
27 April 2026

Laba Industri China Melonjak 15,8 Persen, Tertinggi dalam 6 Bulan

— Keuntungan perusahaan industri China melonjak pada Maret 2026. Pertumbuhan ini menjadi yang tercepat dalam enam bulan terakhir, di tengah kenaikan biaya akibat gejolak harga energi global.

Data Biro Statistik Nasional China atau National Bureau of Statistics (NBS) mencatat laba industri naik 15,8 persen secara tahunan pada Maret. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode Januari hingga Februari yang tumbuh 15,2 persen.

Secara kumulatif, laba perusahaan industri meningkat 15,5 persen pada kuartal pertama 2026. Capaian ini menjadi awal tahun terkuat sejak 2017, di luar lonjakan saat pandemi pada 2021.

Kepala Statistik NBS Yu Weining menyebut sektor manufaktur menjadi penopang utama. Industri peralatan mencatat kenaikan laba 21 persen. Manufaktur teknologi tinggi melonjak 47,4 persen.

Lonjakan kinerja dipicu ekspansi kecerdasan buatan dan semikonduktor. Produsen serat optik mencatat pertumbuhan laba 336,8 persen. Sektor optoelektronik naik 43 persen, sementara perangkat tampilan tumbuh 36,3 persen.

Baca juga: Dari Bengkel Kecil di China ke Raksasa Global, Jalan Panjang Anta Tantang Nike

Permintaan produk berbasis teknologi juga meningkat. Produsen drone mencatat kenaikan laba 53,8 persen. Perusahaan perangkat konsumen pintar lainnya tumbuh 67,3 persen.

Kinerja sektor hulu ikut menguat. Laba produsen bahan baku naik 77,9 persen pada kuartal pertama. Kilang minyak kembali mencetak keuntungan setelah sebelumnya tertekan.

Industri strategis seperti kedirgantaraan, energi baru, dan teknologi informasi generasi berikutnya turut mendorong pertumbuhan. Laba perusahaan logam nonferrous melonjak 116,7 persen.

Perbaikan ini terjadi setelah kinerja lemah pada 2025. Saat itu, laba industri hanya tumbuh 0,6 persen setelah tiga tahun berturut-turut mengalami kontraksi.

Baca juga: JIEP Bidik Investor China, Tawarkan Kawasan Industri Modern di Pulogadung

Tekanan biaya mulai meningkat

Kenaikan harga energi mulai memberi tekanan baru. Harga minyak global naik tajam akibat konflik di Timur Tengah. Harga Brent melonjak sekitar 48 persen sejak akhir Februari.

Kondisi ini mendorong kenaikan biaya bahan baku seperti kimia, serat, dan plastik di sepanjang rantai pasok. Dampaknya mulai terasa pada margin produsen, terutama yang bergantung pada impor.

Tekanan juga muncul dari dalam negeri. Permintaan domestik masih lemah akibat krisis sektor properti dan pasar tenaga kerja yang belum pulih. Situasi ini memicu persaingan harga di berbagai sektor.

Di sisi lain, kenaikan harga logam global dan kebijakan pemerintah untuk menekan kelebihan kapasitas produksi mulai mengurangi tekanan deflasi.

Indeks harga produsen kembali tumbuh positif pada Maret. Ini menjadi ekspansi pertama dalam lebih dari tiga tahun dan mengakhiri periode deflasi panjang.

Risiko eksternal mengemuka

Cadangan minyak Iran masih menjadi penopang pasokan energi bagi China sebagai importir terbesar dunia. Namun, risiko baru muncul dari kebijakan eksternal.

Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap kilang independen di China yang membeli minyak Iran bernilai miliaran dollar AS.

Dengan kurs Rp 17.224 per dollar AS, nilai tersebut setara triliunan rupiah.

Langkah ini berpotensi mengganggu pasokan energi yang menopang sekitar seperempat kapasitas penyulingan minyak di China.

Tag:  #laba #industri #china #melonjak #persen #tertinggi #dalam #bulan

KOMENTAR