Pasar Valas Menahan Napas, Dollar Stabil di Tengah Risiko Energi Global
Ilustrasi dollar AS.(PIXABAY/PASJA1000)
10:52
27 April 2026

Pasar Valas Menahan Napas, Dollar Stabil di Tengah Risiko Energi Global

Dollar Amerika Serikat bergerak stabil pada perdagangan Senin. Ketidakpastian upaya mengakhiri perang di Timur Tengah menahan pergerakan pasar.

Pelaku pasar cenderung berhati-hati. Mata uang utama lain juga bergerak terbatas.

Yen Jepang masih berada di bawah level psikologis 160 per dollar AS. Pasar menunggu keputusan Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan pada pekan ini.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya membatalkan kunjungan utusannya ke Islamabad. Ia menyebut Iran dapat menghubungi AS jika ingin merundingkan akhir konflik yang telah berlangsung selama dua bulan.

Selat Hormuz masih tertutup. Jalur ini dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia.

Sentimen sempat membaik. Laporan Axios menyebut Iran mengajukan proposal baru melalui mediator Pakistan.

Proposal itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang. Negosiasi nuklir akan ditunda ke tahap berikutnya.

Baca juga: Dari Daerah hingga Korporasi, Trump Serok Obligasi Ratusan Juta Dollar AS

Di pasar valuta asing, euro diperdagangkan stabil di 1,1724 dollar AS. Poundsterling berada di 1,3536 dollar AS.

Indeks dollar AS tercatat di level 98,491. Indeks ini mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama.

Dollar sempat menguat pada Maret saat konflik pecah. Statusnya sebagai aset aman mendorong permintaan.

Penguatan kemudian memudar. Harapan kesepakatan damai sempat menguat, lalu kembali melemah saat pembicaraan terhenti.

Pergerakan dolar kini cenderung datar.

“Saya terkejut bahwa pasar begitu percaya diri, bahkan mungkin acuh tak acuh, tentang kemajuan dalam pembicaraan dan prospek kesepakatan damai,” kata analis senior Capital.com, Kyle Rodda.

“Perdamaian mungkin tidak akan bertahan dan jika tidak, pasar harus melakukan penyesuaian harga yang cukup drastis,” lanjutnya.

Baca juga: Rupiah Diproyeksi Sentuh Rp 17.400 per Dollar AS, Seberapa Kuat Fiskal Indonesia?

Gencatan senjata meredakan pertempuran sejak akhir Februari. Kesepakatan final belum tercapai.

Kondisi ini terus membebani sentimen investor global.

Konflik juga mendorong harga energi. Harga minyak Brent naik sekitar 1 persen menjadi 106,7 dollar AS per barel, setara sekitar Rp 1.837.000 per barel.

Minyak West Texas Intermediate atau WTI berada di 95,53 dollar AS per barel, setara sekitar Rp 1.645.000 per barel. Kenaikan mencapai 1,2 persen.

Kenaikan harga energi memicu tekanan inflasi. Risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global ikut meningkat.

“Meskipun periode stagflasi ringan sudah diperkirakan, waktu terus berjalan untuk melihat apakah ini akan berubah menjadi periode yang lebih parah seperti yang terlihat pada tahun 1970-an,” kata Kepala Ekonom AMP, Shane Oliver.

Fokus pasar kini beralih ke bank sentral global.

Bank of Japan diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan Selasa. Sinyal kenaikan dalam waktu dekat tetap terbuka.

Sumber Reuters menyebut BoJ masih berkomitmen melanjutkan normalisasi kebijakan moneter. Risiko inflasi dari lonjakan energi menjadi pertimbangan utama.

Yen tercatat di level 159,51 per dolar AS. Posisi ini mendekati batas yang dinilai rawan memicu intervensi pemerintah Jepang.

Chief Investment Officer Allianz Global Investors, Gregor Hirt, menilai arah kebijakan BoJ bergantung pada stabilitas geopolitik.

“Namun, investor tidak perlu mengharapkan sinyal agresif pada pertemuan April. Sebaliknya, BOJ kemungkinan akan lebih menyukai strategi panduan bertahap untuk mempertahankan pilihan di tengah ketidakpastian,” ujarnya.

Selain BoJ, Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England juga menggelar rapat pekan ini.

Ketiganya diperkirakan menahan suku bunga. Evaluasi dampak konflik terhadap inflasi dan prospek ekonomi global menjadi fokus utama.

Tag:  #pasar #valas #menahan #napas #dollar #stabil #tengah #risiko #energi #global

KOMENTAR