Bisnis Paylater Tumbuh Cepat, Kredit Macet Jadi Ancaman
Industri layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater menunjukkan pertumbuhan yang pesat, tetapi menyisakan masalah kredit macet yang tinggi.
PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) melaporkan, outstanding paylater dari berbagai industri tercatat mencapai Rp 56,3 triliun hingga Februari 2026.
Angka tersebut tumbuh 86,7 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Paylater Bikin Masyarakat Kebanyakan Utang, OJK Perketat Pengawasan BNPL
Ilustrasi paylater. Layanan Buy Now Pay Later makin populer di tengah maraknya belanja daring. Namun, sejumlah pakar keuangan menilai layanan ini berisiko menjerat konsumen dalam utang.
Layanan paylater telah digunakan oleh 26,2 juta debitur, dengan pertumbuhan lebih dari 56,7 persen pada periode yang sama.
Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi mengatakan, hasil tersebut jauh melampaui pertumbuhan kredit konsumtif konvensional.
Berdasarkan data IdScore, penyaluran kredit paylater di Indonesia masih didominasi oleh industri perbankan umum dengan outstanding Rp 18,9 triliun hingga Februari 2026.
Setelah itu, kontribusi penyaluran kredit paylater yang dominan lainnya berasal dari industri fintech peer-to-peer lending (fintech lending) dan perbankan digital.
Baca juga: Utang Pinjol dan Paylater Warga RI Tembus Rp 125 Triliun, Mana Lebih Banyak?
Bisnis paylater di fintech lending tumbuh 153,49 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka ini sekaligus menjadi angka pertumbuhan yang paling menonjol dibandingkan bisnis paylater di bank umum, bank digital, maupun multifinance.
Glant menambahkan, penyaluran pembiayaan paylater tumbuh 21 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kartu kredit.
Sementara itu, kartu kredit sendiri masih tumbuh stagnan dengan angka pertumbuhan 3-6 persen per tahun.
Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).
Baca juga: Bank Permata Kaji Kembangkan Produk ke Layanan Paylater,
"Di sisi lain, rasio kredit bermasalah pada segmen ini masih berada di level relatif tinggi sekitar 5 persen, mencerminkan perlunya penguatan prinsip responsible lending, pemanfaatan data yang lebih presisi, serta edukasi keuangan kepada masyarakat," kata dia dalam media gathering, Selasa (28/4/2026).
Tingkat kredit macet paylater masih tinggi
Glant mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun IdScore tingkat kredit macet paylater atau non performing loan (NPL) sejak 2023 berada di atas 5 persen.
Angka tertinggi kredit macet paylater pernah terjadi pada 2023 di level 5,31 persen.
Angka NPL paylater sempat turun ke level 3,21 persen pada 2024 dan naik lagi ke level 5,14 persen di 2025.
Baca juga: 2026, BTN Bakal Luncurkan Produk Paylater hingga Kredit Kendaraan Bermotor
IdScore melaporkan, tingkat kredit macet pada layanan paylater tahun ini juga menunjukkan tren kenaikan.
Glant menuturkan, per Maret NPL paylater diproyeksikan jauh melampaui periode Februari 2026 yang ada di level 5,06 persen.
"Jadi kami berharap mungkin bisa dijaga di angka 2023 tetapi kemungkinan sih akan naik terus sampai dengan bulan ke-9," ungkap dia.
Satu debitur paylater bisa punya tujuh kredit
Selain itu, Glant menjelaskan, pola kepemilikan multi akun paylater juga menjadi perhatian.
Baca juga: Apakah Gesek Tunai Termasuk Paylater? Ini Penjelasan OJK
Ia menjelaskan, rata-rata debitur tercatat memiliki 7 fasilitas aktif di seluruh LJK per Februari 2026.
Bahkan, ia juga menemukan kasus ekstrem ketika debitur memiliki lebih dari 1.000 fasilitas kredit.
Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).
"Fakta tersebut menunjukkan ada potensi meningkatnya risiko overleverage apabila tidak dikelola secara prudent," ungkap dia.
Overleverage sendiri merupakan kondisi keuangan ketika utang atau penggunaan daya ungkit (leverage) melebihi kemampuan batas bayar.
Baca juga: OJK Rilis Aturan Paylater, “Dikunci” untuk Bank Umum dan Multifinance
Alasan kredit macet paylater lebih tinggi dari kredit lain
IdScore membeberkan, terdapat enam akar masalah struktural yang membedakan paylater dan kredit konvensional.
Hal ini juga dapat dilihat sebagai menjadi alasan yang membuat NPL di layanan keuangan ini cenderung lebih tinggi dibandingkan produk lainnya.
Pertama adalah paylater merupakan produk tanpa agunan.
Prosesnya yang 100 persen digital tanpa tatap muka ditengarai menurunkan komitmen psikologis debitur untuk melunasi.
Kemudian, layanan paylater juga cenderung dimanfaatkan dengan lebih dari satu akun.
IdScore menemukan sebanyak 23 persen pengguna aktif memegang lebih dari 2 akun paylater.
Sementara itu, total limit kumulatif tidak terlihat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) secara real time.
Alasan selanjutnya adalah pengguna layanan paylater lebih sering digunakan untuk kegiatan konsumtif atau non produktif.
Baca juga: Kenapa Pinjol Lebih Dipilih Masyarakat ketimbang Paylater?
IdScore mencatat 42 persen transaksi paylater digunakan untuk belanja online, fesyen, dan makanan.
Ilustrasi layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater.
Lebih lanjut, scoring paylater berbasis perilaku bukan aset.
Underwriting bergantung pada data digital berupa histori transaksi, e-commerce. Minimnya verifikasi penghasilan riil dinilai rentan membuat misscoring.
IdScore mengungkapkan, kredit paylater menjadi lebih rentan karena target segmen yang unbanked. Mayoritas pengguna baru tanpa histori kredit formal.
Baca juga: Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp 92,9 Triliun, Jauh Lebih Besar dari Paylater
Segmen ini secara statistik memiliki default rate 1,8 sampai 2,3 kali lebih tinggi dari debitur bankable.
Terakhir, pinjaman paylater dinilai sebagai hal yang lebih mudah pinjam, sehingga mudah dilupakan.
Aplikasi yang mudah digunakan dinilai mengurangi efek beban utang pengguna.
Dengan demikian, cicilan terasa kecil karena berada pada aplikasi berbeda. Padahal secara akumulasi dapat menggerus 30 persen pendapatan.
Baca juga: Perbedaan Pinjol dan Paylater: Sama-Sama Praktis, Risiko dan Aturannya Beda
Kredit nasional masih tumbuh
IdScore memaparkan pertumbuhan kredit nasional tetap positif, meski kualitas risiko pada segmen tertentu perlu menjadi perhatian lebih serius.
Berdasarkan analisis terbaru, total outstanding kredit nasional per Februari 2026 mencapai Rp 9.938,2 triliun dengan pertumbuhan sekitar 9,6 persen secara tahunan (yoy).
Sementara rasio kredit bermasalah (NPL gross) masih terjaga di kisaran 2,85 persen.
Namun demikian, tekanan mulai terlihat pada segmen konsumtif dan penerima pinjaman (borrower) dengan profil pendapatan lebih rentan.
Baca juga: Utang Pinjol dan Paylater RI Tembus Rp 101,3 Triliun, Kredit Macet Mulai Merangkak?
"Terutama di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan serta tingginya biaya dana akibat ketidakpastian global," ungkap Glant.
Ilustrasi kredit, kredit perbankan.
Pertumbuhan kredit diproyeksikan masih di atau 10 persen
Ke depan, IdScore memperkirakan pertumbuhan kredit nasional pada 2026 masih berpotensi berada di kisaran 10 hingga 11 persen.
"Dengan kualitas aset tetap terkendali apabila stabilitas makroekonomi terjaga," ungkap dia.
Sementara itu, pertumbuhan paylater diperkirakan tetap tinggi tetapi mulai memasuki fase normalisasi.
Baca juga: Paylater dan Cermin Kerentanan
Hal ini seiring meningkatnya pengawasan regulator dan fokus industri pada kualitas portofolio.
“Kredit yang sehat adalah fondasi ekonomi yang kuat. Pertumbuhan kredit tanpa literasi dan pengawasan yang memadai berpotensi menjadi risiko sistemik yang tertunda. Karena itu, keseimbangan antara ekspansi, mitigasi risiko, dan perlindungan data menjadi kunci keberlanjutan industri keuangan nasional,” ujar dia.
Tag: #bisnis #paylater #tumbuh #cepat #kredit #macet #jadi #ancaman