Green SM: Transformasi Isu Menjadi Krisis
Kereta api (KA) jarak jauh melintas di samping taksi listrik Green SM yang rusak pascakecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengerahkan tim investigasi untuk mengumpulkan fakta terkait kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)
07:25
4 Mei 2026

Green SM: Transformasi Isu Menjadi Krisis

BANYAK lapisan kompleks yang bisa dikuliti dalam insiden tabrakan di Stasiun Bekasi, 27 April 2026. Dalam tragedi itu, belasan orang meninggal dunia, puluhan orang lainnya luka-luka.

Dari gagalnya negara, PT. KAI membasmi organisasi masyarakat (ormas) pengelola lintasan kereta api liar, hingga manajemen taksi Green SM Indonesia yang gagal menanggapi serius sinyal isu yang bertransformasi menjadi krisis.

Menyoroti aspek manajemen krisis dari Green SM Indonesia, perusahaan taksi listrik ramah lingkungan asal Vietnam milik Pham Nhat Vuong, konglomerat dengan kekayaan Rp 570 triliun, nampaknya dianggap ‘tidak ramah jalanan’ sejak setahun terakhir.

Baca juga: Mobil Listrik Mogok di Rel: Retaknya Logika Keselamatan di Era Baru Transportasi

Di dunia maya, Green SM telah menjadi kultur “meme” melalui banyaknya tersebar kumpulan video ‘kelakuan ajaib taksi Hijau’ di berbagai platform media sosial, selain insiden berdarah di Stasiun Bekasi.

  • 10 Oktober 2025, Cengkareng, Jakarta Barat, mulut taksi Green SM yang tidak berhenti tersambar buntut kereta api di perlintasan Jembatan Gantung, meski telah diteriaki oleh warga untuk berhenti. Penumpang keluar dari taksi tersebut dan marah-marah.
  • 31 Desember 2025, Kemayoran, Jakarta Pusat, taksi Green SM menerobos perlintasan setelah kereta pertama melaju dan akhirnya tertabrak kereta kedua yang melintas. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
  • 1 Januari 2026, Ciracas, Jakarta Timur, kecelakaan tunggal taksi listrik Green SM terguling ke selokan, diduga karena sopir kelelahan dan kehilangan kendali saat memutar balik di depan Masjid Raya Ibadur Rahman, Jalan Raya Kelapa Dua.
  • 10 Januari 2026, Karang Tengah, Tangerang, Banten, dilaporkan Kompascom, taksi listrik Green SM melaju mundur tanpa kendali hingga menabrak pintu rumah makan ayam goreng Almaz. Disinyalir karena supirnya kurang fokus dalam berkendara.
  • 14 Januari 2026, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, taksi Green SM menabrak pembatas jalan Transjakarta di kawasan Green Garden, Jalan Panjang. Tidak ada korban jiwa.
  • 31 Januari 2026, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, kecelakaan tunggal taksi Green SM di kawasan Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) yang menyebabkan armada tersangkut di pembatas jalan, disinyalir akibat kelalaian supir.
  • 28 Februari 2026, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, taksi ramah lingkungan Green SM tercebur ke sungai kolong jembatan karena supir mengantuk dan saat menginjak rem, taksi malah melaju kencang ke sungai. Tidak ada korban jiwa.
  • 5 Februari 2026, kawasan Citra Garden City 6, Jakarta Barat, kecelakaan tunggal melibatkan taksi listrik Green SM yang menabrak pembatas jalan, merusak bagian depan kendaraan.
  • 3 April 2026, Jalan Sholeh Iskandar, Bogor, kendaraan taksi Green SM mengalami kerusakan parah setelah mengalami insiden di putaran balik yang berujung benturan dengan KRL.
  • 28 April 2026, Kuningan, Jakarta Selatan, terjadi keributan antara taksi Green SM dengan seorang pengendara motor dekat Mall Kota Kasablanka (Kokas). Pemotor melayangkan protes karena diduga terjatuh usai tersenggol taksi tersebut.
    Di hari yang sama, Green SM terjebak di pembatas jalan di kawasan Boulevard Kelapa Gading, Jakarta Utara, diduga karena kesalahan manuver pengemudi saat kondisi jalan ramai, menyebabkan kendaraan tersebut naik ke pembatas jalan.

Karena tidak menelan banyak korban jiwa, kompilasi keanehan taksi online GreenSM di jalanan ini dianggap sekedar hiburan “meme” semata.

Julukan “Taksi Anomali” yang disematkan oleh para netizen layaknya ditanggapi secara serius oleh manajemen Green SM Indonesia sebagai sinyal isu.

Baca juga: Matematika Bisnis Koperasi Desa Merah Putih: Bertahan atau Sekadar Papan Nama?

Daftar kecelakaan tersebut hanya akan terus bertambah ketika pola tidak dianalisis secara mendalam, serta kebijakan dari manajemen tidak kunjung menunjang.

Transformasi Isu Menjadi Krisis

Isu adalah situasi problematik yang tercipta akibat konsekuensi dari keputusan manajemen terhadap kelompok orang tertentu, bukan sekadar berita atau postingan negatif.

Isu muncul saat perilaku atau keputusan perusahaan berdampak pada kelompok pemangku kepentingan (stakeholders) tertentu, misalnya pada karyawan, nasabah, atau investor.

Kelompok terdampak kemudian berubah menjadi publik aktif saat mereka sadar akan masalah dan mulai mengorganisasi diri untuk melakukan sesuatu terhadap konsekuensi dari perilaku atau keputusan perusahaan tersebut.

Dalam hal ini, netizen (publik aktif) mulai menyadari adanya ‘anomali’ pada taksi GreenSM, dan mereka mulai mengorganisasi diri dengan membuat konten kompilasi, menyebarkannya, disertai dengan pesan-pesan yang kritis.

Karakteristik isu yang harus selalu dimonitor dalam industri transportasi daring setidaknya ada dua yang utama, yaitu regulasi dan perilaku.

Aspek regulasi mencakup perubahan regulasi, kebijakan yang memengaruhi operasional perusahaan, dapat bersumber dari pemerintah atau advokasi kelompok aktivis.

Aspek perilaku mencakup buruknya komunikasi internal dan eksternal perusahaan kepada para audiens targetnya, abai terhadap prosedur standar operasional, ugal-ugalan di jalanan, dan sebagainya.

Publik yang terdampak akan menciptakan isu (noise/protes) akibat konsekuensi dari perilaku korporasi yang gagal menyikapi karakteristik isu tersebut.

Perusahaan dapat menjalankan fungsi “Manajemen Isu”, proses untuk mengidentifikasi potensi publik aktif melalui analisis situasi, sehingga dapat mengurangi dampak reputasi dari krisis.

Misalnya, tim komunikasi strategis perusahaan dapat memberi masukkan sebelum adanya pengambilan keputusan akhir manajemen yang berpotensi menjadi pemicu krisis.

Green SM belum menjalankan fungsi manajemen isu, terbukti dari banyaknya kritik terhadap siaran pers pascainsiden stasiun Bekasi Timur yang dinilai banyak orang kurang rasa empati terhadap mereka yang terdampak.

Isu berubah menjadi krisis saat itu bukan lagi sekadar diskusi lokal di kantor, tapi viral di media sosial, menjadi konsumsi publik, bahkan diliput oleh media arus utama.

Krisis adalah situasi abnormal yang mengancam tujuan strategis, reputasi, atau keberlangsungan perusahaan.

Sejarah menunjukkan, sebagian besar krisis disebabkan oleh faktor internal perusahaan dibandingkan faktor eksternal atau bencana alam.

Krisis terjadi ketika manajemen gagal berkomunikasi dengan publik strategis mengenai potensi isu sebelum publik tersebut memviralkannya.

Kebijaksanaan Manajemen Krisis dari Green SM

Green SM menjadi pembelajaran yang baik bagi banyak perusahaan dari industri mana pun untuk menjalankan fungsi strategis manajemen isu, menganalisis isu, dan menjadi lebih siap dalam menghadapi krisis.

Pengelolaan isu yang baik dapat menyelamatkan banyak nyawa orang yang tidak bersalah, mencegah adanya korban jiwa, bukan hanya perkara menyelamatkan reputasi atau performa finansial perusahaan.

Baca juga: Inefisiensi Insentif Rp 6 Juta SPPG dan Potensi Kerugian Negara

Pertama, perusahaan yang tertarik untuk lebih strategis dan menjadi bagian dari solusi, dapat memulai pengelolaan krisis dengan mengkategorisasikan jenis krisis berdasarkan tingkat kemungkinan kejadiannya.

Hampir selalu ada (skala dan dampaknya kecil, insiden-insiden kecil yang tidak fatal, melibatkan sedikit orang), mungkin terjadi (skala dan dampaknya terjadi di kota-kota besar, tapi minim pemberitaan atau viralitas), dan jarang terjadi (insiden skala nasional, mengancam keselamatan, keamanan, reputasi, diliput media nasional, viral di media sosial).

Kedua, memahami secara mendalam hubungan antara isu dan krisis. Menurut James E. Grunig dalam bukunya “Managing Public Relations (1994)”, proses lahirnya krisis dapat dipahami melalui alur hubungan ‘keputusan manajemen’ yang berkonsekuensi pada pemangku kepentingan.

Lalu, ‘persepsi masalah’ di mana pemangku kepentingan berubah menjadi publik aktif yang menganggap konsekuensi tersebut sebagai masalah.

‘Publik aktif’ mengorganisasi diri dan bereaksi, menciptakan isu. Ketika isu tidak terselesaikan atau sekedar ditangani secara defensif atau apatis, alih-alih menjembatani, isu memuncak dan melahirkan krisis.

Terakhir, latih setiap karyawan yang berkepentingan untuk menghadapi berbagai skenario potensial dan relevan krisis dalam industrinya. Waktu terbaik untuk melakukan pelatihan manajemen krisis adalah ketika krisis sedang tidak terjadi.

Perusahaan patut memahami bahwa krisis bukan masalah ada atau tidak, tapi tentang kapan akan tiba, dalam bentuk apa, dan berdampak sebesar apa.

Tag:  #green #transformasi #menjadi #krisis

KOMENTAR