Harga Emas Dunia Melemah ke 4.599 Dollar AS, Ini Pemicunya
– Harga emas dunia melemah pada awal pekan ini, Senin (4/5/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat (AS) serta ketidakpastian negosiasi damai dengan Iran.
Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,3 persen ke level 4.599,45 dollar AS per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni terkoreksi 0,7 persen menjadi 4.611,40 dollar AS per ons.
Harga emas tercatat mengalami penurunan selama dua pekan berturut-turut sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026. Sentimen pasar dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya langkah AS di Selat Hormuz.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 4 Mei 2026 Turun Tipis, Simak Rinciannya
Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mulai mengawal kapal-kapal yang tidak terlibat konflik Iran untuk keluar dari kawasan tersebut sebagai langkah kemanusiaan.
Trump juga mengungkap adanya “diskusi positif” dengan Teheran, meski sebelumnya ia menilai proposal damai terbaru dari Iran kemungkinan belum cukup untuk memenuhi ekspektasi AS.
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa AS telah menyampaikan respons atas proposal 14 poin melalui mediator Pakistan, yang kini tengah ditinjau.
Ilustrasi harga emas dunia.
Ketidakpastian ini membuat harga energi tetap tinggi. Meski sempat melemah, harga minyak dunia masih bertahan di atas 100 dollar AS per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global.
Kondisi tersebut berdampak pada kebijakan moneter. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang umumnya menekan daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian 3 Mei 2026 Turun, Berikut Rinciannya
Pekan lalu, bank sentral AS Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga dan mengisyaratkan sikap hawkish. Pasar pun mulai mengesampingkan peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menilai konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dinilai dapat membatasi ruang gerak bank sentral dalam menentukan kebijakan.
Sementara itu, Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut data inflasi terbaru sebagai sinyal negatif bagi prospek pelonggaran kebijakan moneter. Ia menegaskan bahwa bank sentral perlu berhati-hati sebelum memangkas suku bunga.
Data terbaru menunjukkan inflasi AS pada Maret meningkat signifikan. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) tercatat naik 0,7 persen, tertinggi sejak Juni 2022, dipicu lonjakan harga bahan bakar akibat konflik Iran.
Baca juga: Inflasi April Diprediksi Turun karena Efek Lebaran Mereda, tapi Daya Beli Masih Lemah
Di sisi lain, prospek jangka panjang emas masih mendapat dukungan. Data dari World Gold Council menunjukkan bank sentral meningkatkan cadangan emas pada kuartal I-2026 dengan laju tercepat dalam lebih dari satu tahun.
Selain itu, Tether Holdings SA juga melanjutkan tren pembelian emasnya.
Pada perdagangan logam mulia lainnya, harga perak naik 0,1 persen menjadi 75,38 dollar AS per ons. Platinum menguat 0,2 persen ke level 1.991,85 dollar AS, sedangkan paladium turun 0,3 persen menjadi 1.519,66 dollar AS per ons.