Trump Ancam Iran usai Serangan di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Buyar
Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)
08:44
8 Mei 2026

Trump Ancam Iran usai Serangan di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Buyar

- Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap target-target militer Iran setelah Teheran menyerang tiga kapal perusak Angkatan Laut AS yang melintas di Selat Hormuz.

Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara akan runtuh dan memicu kembali konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Bloomberg, Jumat (8/5/2026), Presiden AS, Donald Trump menegaskan Washington akan merespons lebih keras apabila Iran tidak segera menerima proposal kesepakatan damai yang diajukan AS.

Baca juga: Laporan CIA Bocor, Iran Disebut Masih Punya 70 Persen Rudal, Bantah Klaim Trump

“Seperti ketika kami kembali melumpuhkan mereka hari ini, kami akan menghantam mereka jauh lebih keras dan lebih brutal di masa mendatang jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu,” tulis Trump melalui media sosialnya, Jumat (8/5/2026).

Trump juga mengatakan gencatan senjata masih berlaku meski kedua negara kembali saling serang. Ia menyebut Iran telah “bermain-main” dengan AS.

“Mereka mencoba mengusik kami hari ini. Kami menghancurkan mereka,” kata Trump kepada wartawan di Washington.

“Saya akan memberi tahu jika tidak ada lagi gencatan senjata. Anda tidak perlu diberi tahu, cukup lihat saja cahaya besar yang keluar dari Iran,” lanjut dia.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Harapan Perdamaian AS-Iran Redakan Kekhawatiran Inflasi

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan Iran terhadap tiga kapal perang AS dilakukan menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil. Meski demikian, AS memastikan tidak ada aset militernya yang terkena serangan.

Sebagai balasan, militer AS menyerang sejumlah fasilitas militer Iran yang disebut menjadi basis peluncuran rudal dan drone, termasuk pusat komando dan fasilitas intelijen.

Ketegangan terbaru ini terjadi ketika pemerintahan Trump tengah berupaya mengakhiri perang yang kini memasuki bulan ketiga. Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan memicu krisis energi global.

AS sebelumnya mengajukan proposal kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik. Jalur pelayaran strategis tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Baca juga: Trump Berubah Sikap soal Iran dalam 24 Jam, dari Gencatan Senjata ke Ancaman Bom Lagi

Namun hingga kini, Iran belum memberikan sinyal akan menerima syarat yang diajukan Washington, terutama terkait penghentian pengayaan uranium yang menjadi tuntutan utama AS.

Ketidakpastian mengenai kesepakatan damai membuat pasar keuangan global bergerak fluktuatif. Bursa saham sempat melemah dan harga minyak bergejolak di tengah kekhawatiran konflik akan mengganggu distribusi energi global.

Meski demikian, Trump tetap optimistis kesepakatan masih bisa dicapai dalam waktu dekat.

“Mungkin saja tidak terjadi, tetapi bisa terjadi kapan saja. Saya yakin mereka lebih menginginkan kesepakatan itu dibanding saya,” ujar Trump.

Co-founder Ten Cap Investment Management Jun Bei Liu mengatakan pelaku pasar mulai memperkirakan adanya penyelesaian konflik dalam beberapa bulan ke depan.

“Dalam jangka pendek, mungkin masih ada volatilitas akibat berita seperti hari ini. Namun pasar kemungkinan akan memanfaatkan pelemahan untuk membeli, kecuali eskalasi konflik menjadi jauh lebih parah,” kata Liu.

Baca juga: Trump Setop Project Freedom, 1.600 Kapal Masih Terjebak di Hormuz, Bagaimana Nasibnya?

Di tengah upaya meredakan konflik, AS sebelumnya meluncurkan “Project Freedom”, yakni inisiatif untuk membantu kapal-kapal melintasi Selat Hormuz. Namun program tersebut sempat dihentikan secara mendadak.

Laporan Wall Street Journal menyebut Arab Saudi dan Kuwait telah melonggarkan pembatasan penggunaan pangkalan militer oleh AS di kawasan. Langkah itu dinilai dapat membuka peluang bagi Washington untuk kembali menjalankan operasi pengamanan jalur pelayaran di Hormuz.

Sementara itu, Iran disebut akan menyampaikan respons atas proposal AS melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator dalam dua hari ke depan.

Media pemerintah Iran, ISNA, menyebut sejumlah laporan mengenai proposal AS masih sebatas spekulasi media. Iran juga menegaskan isu pengayaan uranium belum menjadi bagian pembahasan saat ini.

Tekanan terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang juga terus meningkat, baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Lonjakan harga energi menjadi perhatian utama menjelang pemilu sela AS.

Baca juga: Trump Ungkap Perang dengan Teheran Akan Segera Berakhir, Ini Respons Iran

Harga bensin di AS bahkan telah menembus 4,50 dollar AS per galon untuk pertama kalinya sejak Juli 2022.

Situasi ini juga menjadi perhatian China. Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan tersebut sebelumnya sempat dijadwalkan ulang akibat perang AS-Iran yang memicu krisis energi global.

Selain isu nuklir, pembahasan damai juga mencakup program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon.

Israel, yang menjadi sekutu utama AS, menyatakan tetap berkoordinasi erat dengan Washington terkait proses perdamaian tersebut.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan tidak ada “kejutan” dalam komunikasi kedua negara mengenai upaya mengakhiri konflik dengan Iran.

Tag:  #trump #ancam #iran #usai #serangan #selat #hormuz #gencatan #senjata #terancam #buyar

KOMENTAR