Peserta BPJS Nonaktif Capai 58 Juta, Ini Dampaknya bagi Program JKN
Sebanyak 58,32 juta peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tercatat tidak aktif hingga saat ini.
Angka besar ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi keberlanjutan program jaminan kesehatan nasional.
BPJS Kesehatan menyebut kondisi ini dipicu berbagai faktor, mulai dari tunggakan iuran hingga pemutakhiran data peserta.
Data tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI pada Rabu (8/4/2026), seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Cara Daftar BPJS Kesehatan untuk Bayi Baru Lahir, Ini Syarat dan Langkahnya
Puluhan juta peserta nonaktif
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menjelaskan bahwa dari total 58,32 juta peserta nonaktif, sebanyak 13,48 juta jiwa tidak aktif karena menunggak iuran.
Sementara itu, 44,84 juta jiwa lainnya berasal dari penonaktifan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan peserta yang dibiayai pemerintah daerah.
Pemutakhiran data dalam dua bulan terakhir juga menyebabkan sekitar 11 juta peserta dinonaktifkan, dengan sebagian di antaranya beralih menjadi peserta mandiri.
Ia menyebut kepatuhan pembayaran iuran masih menjadi tantangan, terutama pada peserta sektor informal atau Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang memiliki kemampuan finansial tidak stabil.
Baca juga: Bayi Baru Lahir Harus Daftar BPJS dalam 28 Hari, Ini Aturannya
Tekanan pembiayaan meningkat
Ilustrasi pasien rumah sakit. Puluhan juta peserta BPJS tercatat tidak aktif, kondisi ini dinilai dapat memengaruhi pembiayaan dan layanan kesehatan nasional.
Meski jumlah peserta nonaktif tinggi, cakupan kepesertaan JKN masih mencapai 284,6 juta jiwa atau sekitar 98,74 persen dari total penduduk Indonesia hingga Februari 2026.
Namun, tekanan pembiayaan mulai terlihat dari rasio klaim yang sejak 2023 telah mencapai 104,72 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa biaya layanan kesehatan yang dibayarkan lebih besar dibandingkan iuran yang dihimpun.
BPJS Kesehatan mencatat sekitar 1,9 juta peserta mengunjungi fasilitas kesehatan setiap hari, dengan kunjungan rumah sakit meningkat hingga lima kali lipat dibandingkan tahun 2014.
Tingginya pemanfaatan layanan ini turut mendorong peningkatan biaya kesehatan secara keseluruhan.
Baca juga: Bayi Tidak Otomatis Terdaftar BPJS, Ini Aturan yang Harus Diketahui
Penyakit kronis usia muda dan upaya perbaikan sistem
BPJS Kesehatan juga menyoroti meningkatnya kasus penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi pada usia muda yang ikut menambah beban pembiayaan.
Pembiayaan penyakit katastropik kini mencapai sekitar 25 persen dari total anggaran layanan kesehatan.
“Kasus penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi kini mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda,” kata Prihati.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, BPJS Kesehatan memperkuat validitas data melalui integrasi lintas sektor bersama Kementerian Sosial, Badan Pusat Statistik, dan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Transformasi layanan juga dilakukan melalui digitalisasi, transparansi antrean, serta peningkatan kepastian layanan di fasilitas kesehatan.
Selain itu, kebijakan penghapusan tunggakan iuran sedang diproses melalui regulasi yang disusun pemerintah.
Jumlah peserta BPJS nonaktif yang mencapai puluhan juta menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan program JKN.
Di tengah peningkatan pemanfaatan layanan dan naiknya kasus penyakit kronis, penguatan iuran dan validitas data menjadi kunci utama menjaga sistem tetap berjalan.
Langkah perbaikan terus dilakukan untuk memastikan program jaminan kesehatan tetap dapat menjangkau masyarakat secara berkelanjutan.
Baca juga: BPJS Kesehatan Temukan Kasus Gagal Ginjal pada Usia Belasan Tahun
Tag: #peserta #bpjs #nonaktif #capai #juta #dampaknya #bagi #program