Demo ''No Kings'' Tuntut Kebijakan Trump Berujung Ricuh, Massa dan Aparat Bentrok
Warga yang membawa spanduk berbaris di pusat kota selama hari protes nasional No Kings di Houston pada 28 Maret 2026.(Ronaldo Schemidt)
15:18
29 Maret 2026

Demo ''No Kings'' Tuntut Kebijakan Trump Berujung Ricuh, Massa dan Aparat Bentrok

Ribuan hingga jutaan orang turun ke jalan dalam demonstrasi “No Kings” di berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026), menentang kebijakan Presiden Donald Trump.

Aksi yang awalnya berlangsung damai di sejumlah wilayah berubah ricuh di beberapa titik, terutama di Los Angeles.

Polisi mengeluarkan perintah pembubaran dan melakukan penangkapan setelah bentrokan terjadi antara demonstran dan aparat federal.

Baca juga: Demo No Kings Meluas di AS, 8 Juta Orang Turun ke Jalan Tentang Kebijakan Trump

Gedung Putih kemudian mengecam aksi tersebut sebagai bentuk kebencian terhadap negara.

Kerusuhan pecah di Los Angeles

Kerusuhan terjadi beberapa jam setelah puluhan ribu orang berkumpul dalam aksi damai di pusat kota Los Angeles.

Setelah long march dan orasi berakhir, situasi memanas di luar pusat penahanan federal.

Polisi Los Angeles (LAPD) menetapkan status siaga taktis, menutup jalan, dan menangkap demonstran yang menol

ak membubarkan diri.

Sejumlah pengunjuk rasa dilaporkan mencoba merobohkan pagar pembatas di Metropolitan Detention Center.

Aparat menyatakan, aksi berubah menjadi “pertemuan ilegal” setelah demonstran melempar batu, botol, dan beton ke arah petugas. Gas air mata pun ditembakkan untuk membubarkan massa.

Menurut otoritas keamanan dalam negeri, dua petugas federal terluka setelah terkena lemparan beton saat sekitar 1.000 perusuh mengepung gedung federal.

Polisi juga melakukan beberapa penangkapan karena pelanggaran perintah pembubaran.

Aksi damai berujung ketegangan

Warga memegang papan tanda dan bendera saat mereka berbaris selama hari protes nasional No Kings di Chicago pada 28 Maret 2026.KAMIL KRZACZYNSKI Warga memegang papan tanda dan bendera saat mereka berbaris selama hari protes nasional No Kings di Chicago pada 28 Maret 2026.

Sebelum kerusuhan terjadi, aksi di Los Angeles berlangsung damai dan diikuti massa dari berbagai latar belakang. Mereka menyuarakan kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah.

“Saya di sini hari ini karena saya menghabiskan empat tahun di militer, mencoba melawan apa yang terjadi di negara kita saat ini. Ada seseorang yang memegang kekuasaan penuh dan menimpa konstitusi kita,” ujar Don Napoli.

Peserta lain, Patrick Feliciano, mengatakan, “Saya merasa pemerintahan saat ini membawa kita ke arah fasisme dan menghancurkan demokrasi kita.”

Demonstran juga menyebut aksi ini sebagai cara untuk bersatu. “Ini kesempatan untuk benar-benar terlibat secara langsung, berkumpul, dan menyadari bahwa banyak orang berpikiran sama,” kata seorang demonstran.

Baca juga: Heboh Trump Upload Video Kontroversial, Ejek Demonstran No Kings

Gelombang protes nasional hingga global

Aksi “No Kings” tidak hanya terjadi di Los Angeles. Demonstrasi berlangsung di lebih dari 3.000 titik di seluruh Amerika Serikat, termasuk New York, Washington DC, Chicago, dan San Francisco.

Penyelenggara menyebut aksi ini sebagai salah satu protes non-kekerasan terbesar dalam sejarah modern, dengan klaim hingga jutaan peserta di berbagai negara bagian dan bahkan di luar negeri seperti Perancis, Jerman, dan Yunani.

Di Minnesota, puluhan ribu orang memadati area sekitar gedung parlemen negara bagian. Musisi Bruce Springsteen turut tampil membawakan lagu kritik terhadap kebijakan imigrasi.

Di New York, aksi di Times Square dihadiri tokoh publik seperti Robert De Niro dan aktivis Al Sharpton.

Para demonstran menyuarakan penolakan terhadap kebijakan imigrasi, perang dengan Iran, hingga meningkatnya biaya hidup.

Trump ingin memerintah kita seperti seorang tiran. Tapi ini Amerika, dan kekuasaan ada di tangan rakyat, bukan raja atau kroninya yang miliarder,” kata penyelenggara aksi.

Respons pemerintah dan aksi tandingan

Gedung Putih dan pimpinan Partai Republik mengecam aksi tersebut. Seorang juru bicara menyebut demonstrasi itu sebagai “sesi terapi kebencian terhadap Trump” dan mengatakan bahwa hanya media yang peduli.

Sementara itu, aksi tandingan yang mendukung Trump juga digelar di beberapa kota seperti Dallas dan West Palm Beach.

Presiden Trump sendiri membantah tudingan bahwa dirinya bertindak seperti diktator.

“Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja,” ujarnya dalam sebuah wawancara sebelumnya.

Namun kritik terus berdatangan. Para penentang menilai sejumlah kebijakan Trump, termasuk perluasan kekuasaan presiden dan penggunaan aparat federal, berpotensi melanggar konstitusi serta mengancam demokrasi Amerika.

Seruan perubahan dari akar rumput

Di berbagai kota, demonstran menyerukan perubahan dan mengajak masyarakat untuk tidak diam.

“Kita harus berjuang untuk demokrasi kita. Kita harus merebutnya kembali,” kata seorang peserta aksi di Huntington Beach.

Sementara itu, Joan Aebi menyebut konflik yang terjadi sebagai “perang tanpa kemenangan, seperti Vietnam terulang kembali”.

“Harus turun, bersuara, dan memilih mereka keluar,” tambah Janet Nippel.

Meski sebagian aksi berujung ricuh, penyelenggara menegaskan bahwa mayoritas demonstrasi berlangsung damai dan bertujuan menyuarakan aspirasi publik terhadap arah kebijakan pemerintahan saat ini.

Baca juga: Demo “No Kings” di Seluruh AS, Jutaan Warga Protes Kepemimpinan Trump

Tag:  #demo #kings #tuntut #kebijakan #trump #berujung #ricuh #massa #aparat #bentrok

KOMENTAR