Kiprah Indonesia dalam Misi UNIFIL di Lebanon, dari Kontributor Terbesar hingga Hadapi Risiko Nyata
Foto ilustrasi: Sebanyak 1.087 personel pasukan perdamaian Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda (Konga) TNI Unifil tahun anggaran 2024, disambut kembali ke Tanah Air dalam upacara di Lapangan Prima, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Kamis (24/4/2025).(KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA)
15:36
30 Maret 2026

Kiprah Indonesia dalam Misi UNIFIL di Lebanon, dari Kontributor Terbesar hingga Hadapi Risiko Nyata

Indonesia telah lama memainkan peran penting dalam misi perdamaian dunia, termasuk dalam Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Misi UNIFIL sendiri dibentuk pada 19 Maret 1978 melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 425 dan 426, menyusul invasi Israel ke Lebanon.

Mandat awalnya mencakup memastikan penarikan pasukan Israel, memulihkan perdamaian internasional, serta membantu pemerintah Lebanon mengembalikan otoritasnya di wilayah tersebut.

Baca juga: Pasukan UNIFIL RI Gugur di Tengah Konflik Israel-Hizbullah, Ini Kronologi Serangan di Lebanon Selatan

Meski demikian, penarikan penuh pasukan Israel baru benar-benar terjadi pada tahun 2000.

Situasi kembali memanas pada 2006 setelah konflik besar antara Israel dan Hizbullah.

Dewan Keamanan PBB kemudian memperkuat mandat UNIFIL melalui Resolusi 1701, yang memperluas tugas pasukan penjaga perdamaian, termasuk mengawasi penghentian permusuhan, mendukung militer Lebanon, serta memastikan wilayah selatan bebas dari kelompok bersenjata non-negara.

Indonesia bergabung dan jadi kontributor terbesar

Indonesia tercatat mulai berpartisipasi dalam misi UNIFIL sejak 2006 dengan mengirimkan pasukan TNI dalam Kontingen Garuda (Konga).

Sejak itu, kontribusi Indonesia terus meningkat. Hingga April 2024, Indonesia tercatat sebagai penyumbang pasukan terbesar di UNIFIL dengan lebih dari 1.200 personel, mengungguli negara lain seperti India dan Ghana.

Mengutip situs resmi Kementerian Pertahanan RI, keterlibatan Indonesia dalam misi penjaga perdamaian sebenarnya telah dimulai sejak 1957 di Mesir, dan terus berlanjut di berbagai negara seperti Kongo, Vietnam, dan Sudan.

Baca juga: Identitas Prajurit TNI Asal Aceh yang Gugur dalam Misi UNIFIL di Lebanon

Dalam pelaksanaannya, prajurit TNI di UNIFIL kerap mendapat pengakuan internasional, termasuk penghargaan Medali PBB atas profesionalisme mereka.

Bahkan, pada 2020, prajurit TNI dilaporkan berhasil mencegah eskalasi konflik antara Lebanon dan Israel dengan menghadang pergerakan tank Merkava milik Israel.

Selain berkontribusi pada perdamaian dunia, keikutsertaan ini juga meningkatkan kemampuan prajurit serta memperkenalkan alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia, seperti panser Anoa, di tingkat global.

Hubungan Historis Indonesia-Lebanon

Hubungan erat Indonesia dan Lebanon juga menjadi salah satu faktor kuat di balik konsistensi kontribusi tersebut.

Dalam kunjungannya ke Lebanon pada 26 Januari 2016, Menteri Pertahanan RI saat itu, Ryamizard Ryacudu, menyebut Lebanon merupakan salah satu negara awal yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Lebanon juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia sebagai penyumbang pasukan terbesar di UNIFIL dan berharap Indonesia terus melanjutkan perannya (Kementerian Pertahanan RI, 27 Januari 2016).

Sementara itu, Panglima TNI saat itu, Jenderal Gatot Nurmantyo, dalam peringatan 10 tahun Kontingen Garuda UNIFIL di Beirut pada September 2016, menegaskan bahwa partisipasi Indonesia merupakan bagian dari komitmen terhadap perdamaian dunia.

“Indonesia mendapat kepercayaan dan penghargaan dari PBB dalam menjalankan misi perdamaian maupun kemanusiaan,” ujarnya, sebagaimana dilansir laman TNI AD pada Senin (5/9/2016). 

Baca juga: Indonesia Segera Repatriasi Prajurit RI yang Gugur akibat Serangan Israel ke Markas UNIFIL

Risiko dan ancaman nyata di lapangan

Selain menjalankan tugas militer, pasukan Indonesia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di Lebanon.

Duta Besar RI untuk Lebanon pada 2016, H.A. Chozin Chumaidy, menyebut kehadiran prajurit Indonesia diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena kemampuan mereka beradaptasi dan berinteraksi secara positif.

Meski membawa misi perdamaian, tugas pasukan Indonesia di UNIFIL faktanya tidak lepas dari risiko tinggi.

Terbaru, satu prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam insiden serangan di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu (29/3/2026). Insiden tersebut terjadi di tengah saling serang artileri antara pihak yang berkonflik.

Kementerian Pertahanan RI menyatakan satu prajurit meninggal dunia, satu luka berat, dan dua lainnya mengalami luka ringan.

Para korban telah mendapatkan penanganan medis, sementara investigasi masih dilakukan oleh pihak UNIFIL.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras insiden tersebut dan mendesak dilakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan.

Baca juga: TNI Pastikan Kontingen Garuda di UNIFIL Aman dari Serangan Israel ke Lebanon

“Setiap tindakan yang membahayakan personel penjaga perdamaian tidak dapat diterima,” demikian pernyataan resmi Kemlu RI.

Insiden serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Pada 10 Oktober 2024, dua prajurit TNI terluka akibat serangan tank Merkava milik militer Israel saat bertugas di menara pengawas di Naqoura.

Dua tahun lalu Pemerintah Indonesia juga mengecam keras serangan tersebut dan menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian sesuai hukum internasional.

Kiprah Indonesia dalam UNIFIL mencerminkan komitmen panjang terhadap perdamaian dunia. Tetapi, di tengah dinamika konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah, peran tersebut juga diiringi risiko yang tidak kecil.

Tag:  #kiprah #indonesia #dalam #misi #unifil #lebanon #dari #kontributor #terbesar #hingga #hadapi #risiko #nyata

KOMENTAR