Jika Iran Buka Selat Hormuz, Apakah Krisis Energi Dunia Langsung Reda?
PT Pertamina (Persero) mengalihkan jalur pelayaran pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke Indonesia menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, khususnya rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran.(Dok Pertamina)
20:18
1 April 2026

Jika Iran Buka Selat Hormuz, Apakah Krisis Energi Dunia Langsung Reda?

- Iran telah menutup Selat Hormuz selama hampir empat minggu sebagai salah satu respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.

Selat Hormuz merupakan jalur yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak mentah dunia dan sejumlah besar gas.

Penutupan Selat Hormuz menghalangi sebagian besar pasokan energi yang menggerakkan perekonomian global.

Kondisi ini mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia, sehingga mendorong kenaikan harga energi di seluruh dunia.

Lantas, jika Iran membuka blokade Selat Hormuz, apakah krisi energi global akan pulih?

Baca juga: Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz

Krisis tak langsung reda

Para ahli menyebut, bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali besok, gangguan terhadap rantai pasokan global masih akan terasa lama setelah kapal-kapal diizinkan untuk melintas secara massal.

Direktur senior komunikasi korporat perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, Nils Haupt mengatakan, ketika itu terjadi justru akan terjadi gangguan pada rantai pasokan

“Kita akan melihat ratusan kapal yang ingin singgah di pelabuhan-pelabuhan utama di Teluk Persia. Banyak kontainer yang masuk ke wilayah ini, dan kita akan melihat gangguan pada rantai pasokan yang menuju dan dari Teluk Persia,” kata Haupt kepada Al Jazeera, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz

Svein Ringbakken, direktur pelaksana Norwegian Shipowners’ Mutual War Risks Association, juga menyampaikan hal serupa.

Dia mengatakan bahwa meskipun fasilitas logistik beroperasi dengan kapasitas penuh, akan membutuhkan waktu untuk menyelesaikan penumpukan minyak, gas, dan barang-barang lain yang dibongkar dari kapal.

Ringbakken mengatakan, tugas tersebut menjadi semakin sulit karena serangan-serangan yang telah merusak infrastruktur energi dan transportasi di seluruh Timur Tengah.

Baca juga: Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?

Butuh waktu kembali normal

Ilustrasi Selat Hormuz.Google Maps Ilustrasi Selat Hormuz.Menurut Badan Energi Internasional, lebih dari 40 aset energi di seluruh wilayah Timur Tengah telah mengalami kerusakan parah atau sangat parah.

Di mana perusahaan minyak dan gas, termasuk QatarEnergy, Kuwait Petroleum Company, dan Bapco Energies dari Bahrain, menyatakan keadaan kahar (force majeure) karena gangguan produksi.

“Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan rantai pasokan pengiriman ke kondisi normal karena adanya penundaan,” ujar Ringbakken.

“Jalur produksi untuk banyak produk terpaksa dihentikan karena kurangnya kapasitas penyimpanan. Ditambah lagi kerusakan pada fasilitas produksi dan infrastruktur pelabuhan. Semua ini menambah inefisiensi ketika selat dibuka,” sambung dia.

Baca juga: Jurus China Tetap Tenang Meski Selat Hormuz Ditutup, Ketahanan Energi Harga Mati

Penutupan Selat Hormuz secara efektif oleh Iran merupakan bentuk balasan atas serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari.

Saat ini, sekitar 2.000 kapal terjebak di wilayah tersebut di tengah blokade parsial Selat Hormuz oleh Iran dan hanya mengizinkan beberapa kapal dari negara-negara yang dianggap bersahabat untuk melintas.

Beberapa kapal telah dialihkan ke Terusan Suez atau menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang untuk melakukan pengiriman ke Asia dan Eropa.

Pengiriman minyak dari Arab Saudi juga dialihkan melalui Laut Merah, melewati selat tersebut.

Tag:  #jika #iran #buka #selat #hormuz #apakah #krisis #energi #dunia #langsung #reda

KOMENTAR