Ratusan Warga Rohingya Hilang di Laut Andaman, PBB: Dampak Pengungsian yang Berkepanjangan
Tangkapan layar Google Maps Laut Andaman. Lokasi di mana kapal yang dinaiki 250 orang Rohingya dan warga Bangladesh terbalik. (Tangakapan layar Google Maps)
13:42
15 April 2026

Ratusan Warga Rohingya Hilang di Laut Andaman, PBB: Dampak Pengungsian yang Berkepanjangan

Tragedi hilangnya sekitar 250 orang Rohingya dan warga Bangladesh di Laut Andaman tak terlepas dari dampak perpindahan yang berkepanjangan.

Hal tersebut disebut oleh United Nations High Commisioner for Refugees atau Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), sebagaimana dikutip dari BBC, Rabu (14/4/2026).

"Tragedi ini mencerminkan dampak serius dari pengungsian berkepanjangan serta tidak adanya solusi jangka panjang bagi warga Rohingya," kata mereka dalam pernyataan bersama dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Apa yang sebenarnya terjadi?

Baca juga: Saat 10 Jenazah Pengungsi Rohingya Ditemukan di Perairan Aceh...

Situasi yang berat di pengungsian

Menurut UNHCR dan IOM, harapan warga Rohingya memudar untuk kembali ke Negara Bagian Rakhine, kampung halaman mereka di Myanmar dalam waktu dekat.

Alasannya karena kekerasan di sana masih berlangsung.

Kedua lembaga ini juga menyoroti berkurangnya bantuan kemanusiaan serta kondisi hidup yang sulit di kamp pengungsian.

"Hal ini mendorong para pengungsi untuk mengambil risiko perjalanan laut yang berbahaya demi mencari keselamatan dan peluang hidup yang lebih baik," kata dua lembaga itu.

Sebagai informasi, Rohingya merupakan salah satu kelompok etnis minoritas di Myanmar. 

Kelompok yang mayoritas beragama Islam ini yang tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar.

Sejak operasi militer mematikan pada 2017, ratusan ribu warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh.

Namun seperti yang disebutkan dua lembaga di atas, situasi kehidupan yang berat mendorong sebagian warga Rohingya untuk mengambil perjalanan laut berisiko menuju Malaysia.

Perjalanan berbahaya ini dilakukan demi mencari keselamatan dan peluang hidup yang lebih baik.

Baca juga: Sudah Ada Sejak 2011, Mengapa Penolakan Pengungsi Rohingya Baru Bermunculan Sekarang?

Kapal terbalik di Laut Andaman

Salah satu lintasan berisiko yang dihadapi adalah perjalanan menggunakan kapal sempit dari Bangladesh ke Malaysia.

Kapal tersebut terbalik dan sekitar 250 orang Rohingya dan warga Bangladesh dinyatakan hilang, menurut Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani pengungsi dan migrasi. 

Menurut badan PBB, kapal penangkap ikan dari Bangladesh menuju Malaysia itu diduga tenggelam akibat angin kencang, gelombang tinggi, serta kelebihan muatan.

Namun, belum diketahui secara pasti kapan kapal tersebut mulai terbalik hingga kini.

Namun, pada 9 April 2026, Penjaga Pantai Bangladesh (BGC) kepada kantor berita AFP mengatakan bahwa salah satu kapal mereka berhasil menyelamatkan sembilan orang dari perahu tersebut.

"Kapal berbendera Bangladesh MT Meghna Pride menemukan beberapa orang terapung di laut menggunakan drum dan kayu, lalu menyelamatkan mereka dari perairan dalam dekat Kepulauan Andaman,” ucap juru bicara BCG, Letnan Komandan Sabbir Alam Sujan, melansir dari The Guardian, Selasa (14/4/2026).

Baca juga: Media Asing Menyoroti Pengusiran Pengungsi Rohingya di Aceh

Pengakuan penyintas

Sementara itu, salah satu penyintas, Rafiqul Islam, mengatakan kepada AFP bahwa janji pekerjaan di Malaysia mendorongnya untuk memutuskan menaiki kapal tersebut.

Sementara itu, Rafiqul Islam sendiri bertahan hampir 36 jam sebelum diselamatkan.

Sepanjang waktu tersebut, ia terombang-ambing di lautan, dengan luka bakar akibat minyak yang tumpah dari kapal.

Baca juga: Kata PBB soal Penolakan Pengungsi Rohingya di Indonesia

Kapal kecil dan perjalanan berisiko

Sementara itu, kapal seperti ini dilaporkan tidak mempunyai fasilitas dasar yang lengkap, seperti air bersih dan sanitasi. 

BBC melaporkan armada yang ditumpangi warga Rohingnya umumnya berukuran kecil dan penuh sesak.

Tidak semua yang berangkat mencapai tujuannya. Ada yang meninggal di laut, ada pula yang harus ditahan atau dipulangkan.

Sebanyak 264 imigran Rohingya dengan rinician 117 laki laki dan 147 perempuan mendarat di Pantai Sembilang, Desa Alue Bu Jalan Baroh, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Senin (6/1/2025)POLRES ACEH TIMUR Sebanyak 264 imigran Rohingya dengan rinician 117 laki laki dan 147 perempuan mendarat di Pantai Sembilang, Desa Alue Bu Jalan Baroh, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Senin (6/1/2025)

Sebagian pengungsi juga menghadapi penolakan saat kapal mereka mendekati Malaysia dan Indonesia.

Penolakan hadir dari aparat maupun masyarakat pesisir. 

Pada Januari 2025, Malaysia menolak dua kapal yang membawa sekitar 300 pengungsi, meski sebelumnya sempat memberikan makanan dan air kepada para penumpang.

“Orang-orang meninggal karena konflik, meninggal karena kelaparan. Jadi sebagian merasa lebih baik mati di laut daripada perlahan mati di sini,” kata seorang pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh, kepada Reuters sebelumnya.

Baca juga: Polemik Penampungan Pengungsi Rohingya di Indonesia, Ditolak Warga tapi Dipuji UNHCR

Desakan dukungan pendanaan bagi Rohingya

Sementara itu, Badan-badan PBB mendesak komunitas internasional untuk terus mendukung pendanaan bagi pengungsi Rohingya dan masyarakat penampung di Bangladesh.

Hal tersebut dikatakan dalam pernyataan resminya pada Selasa. 

“Di saat Bangladesh merayakan tahun barunya, tragedi ini menjadi pengingat akan perlunya upaya mendesak untuk mengatasi akar masalah pengungsian di Myanmar," tambah mereka.

Upaya tersebut juga penting untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan para pengungsi Rohingya kembali ke tanah air mereka secara sukarela, aman, dan bermartabat.

Tag:  #ratusan #warga #rohingya #hilang #laut #andaman #dampak #pengungsian #yang #berkepanjangan

KOMENTAR